Teknologi

Serangan Terhadap Sam Altman dan Gelombang Penolakan AI

Serangan terhadap Sam Altman, CEO OpenAI, mencerminkan meningkatnya ketidakpuasan terhadap teknologi AI yang melanda berbagai belahan dunia. Insiden ini menunjukkan bahwa kemarahan publik terhadap AI...

L
Luthfi Zaki Maulana
06 May 2026 11 pembaca
Serangan Terhadap Sam Altman dan Gelombang Penolakan AI
Foto: Getty Images/iStockphoto/Devrimb

Jakarta - Pada pukul 03.40 pagi, 10 April 2026, di Pacific Heights, San Francisco, seorang pria muda melemparkan bom molotov ke gerbang rumah bernilai 27 juta dolar. Api segera menyala, namun petugas keamanan berhasil memadamkannya. Pelaku melarikan diri, tetapi kurang dari satu jam kemudian, ia muncul di markas OpenAI di Mission Bay, berusaha memecahkan pintu kaca dengan kursi dan mengancam akan membakar gedung tersebut. Pelaku, yang bernama Daniel Moreno-Gama, berusia 20 tahun dan berasal dari Spring, Texas, datang dengan tujuan untuk membunuh Sam Altman, CEO OpenAI.

Polisi menemukan sebuah manifesto yang terdiri dari tiga bagian. Bagian pertama berjudul "Your Last Warning", yang berisi ajakan untuk membunuh para CEO perusahaan AI dan para investornya, serta mencantumkan daftar nama dan alamat eksekutif AI di seluruh Amerika. Dua hari setelah serangan tersebut, sebuah sedan Honda berhenti di depan rumah Altman lainnya di Russian Hill, dan penumpangnya menembakkan satu peluru sebelum melarikan diri. Dua orang ditangkap beberapa jam kemudian. Altman sendiri pernah menyatakan bahwa ketakutan dan kecemasan terhadap AI memang dibenarkan.

Peristiwa di San Francisco ini bukanlah kasus yang terisolasi. Tiga hari sebelum serangan terhadap Altman, anggota dewan Kota Indianapolis, Ron Gibson, melaporkan bahwa rumahnya ditembaki 13 kali, dengan pesan di pintu yang berbunyi "No data centers", setelah ia menyetujui pembangunan pusat data di distriknya. Di Missouri, pemilih di sebuah kota kecil memecat separuh anggota dewan kota karena menyetujui proyek data center senilai enam miliar dolar. Survei NBC News menunjukkan hanya 26 persen pemilih Amerika yang memiliki pandangan positif terhadap AI, sementara 46 persen merasa sebaliknya.

Pada 28 Februari 2026, ratusan orang melakukan protes di Stasiun King's Cross, London, melawan perusahaan-perusahaan teknologi besar, termasuk OpenAI, Google DeepMind, dan Meta. Ini merupakan demonstrasi anti-AI terbesar dalam sejarah Inggris. Pada hari yang sama, aksi serupa juga berlangsung di Berlin. Survei terbaru di Inggris menunjukkan 84 persen masyarakat khawatir bahwa pemerintah akan lebih mengutamakan kemitraan dengan perusahaan teknologi besar dibandingkan kepentingan publik.

Di Tokyo, pemerintah Jepang secara resmi memprotes OpenAI, bukan karena alasan ekonomi, tetapi karena produk AI yang dianggap merugikan industri anime dan manga. Di Seoul, Presiden Yoon mengumumkan keadaan darurat nasional pada Agustus 2024 akibat penyebaran deepfake porno di kalangan siswa. Di Mumbai, sejumlah selebriti Bollywood menggugat pengadilan untuk perlindungan hak personalitas dari kloning suara dan deepfake. Di Nairobi, pekerja yang terlibat dalam pelabelan data menggugat Meta dan kontraktor Amerika karena kondisi kerja yang buruk.

Di Beijing, pemerintah meluncurkan kampanye 'Clear and Bright', yang mengakibatkan pencabutan 3.500 produk AI dari pasaran. Di Australia dan Selandia Baru, suku Maori membangun kerangka tata kelola AI sendiri untuk melindungi data adat mereka. Setiap wilayah memiliki cara tersendiri dalam mengekspresikan penolakan terhadap AI, dengan motif yang bervariasi.

Kemarahan publik terhadap AI kini bukan lagi suara dari kelompok pinggiran, melainkan telah menjadi arus utama. Di Amerika, kemarahan ini terwujud dalam bentuk kekerasan individu. Sam Altman sendiri menyadari transisi ekonomi yang sulit ini dan menyerukan kebijakan baru serta debat yang lebih beradab. Namun, industri AI telah lama menjual visi yang tidak sesuai dengan kenyataan yang dihadapi oleh banyak orang saat ini.

Di Indonesia, meskipun belum mengalami kekerasan seperti di Amerika, tanda-tanda ketidakpuasan sudah mulai muncul. Survei menunjukkan bahwa kesadaran akan AI di Indonesia mencapai 87 persen, dengan 92 persen responden mendukung regulasi AI. Indonesia kini berada dalam posisi untuk memilih model regulasi yang tepat sebelum terjebak dalam krisis. Pertanyaannya adalah apakah kita siap untuk mengarahkan perkembangan AI atau justru membiarkan diri kita diarahkan olehnya.

Artikel Terkait