Kesehatan

Peningkatan Kasus Gangguan Mental: Konflik Keluarga dan Media Sosial Sebagai Faktor Pemicu

Kasus gangguan kesehatan mental semakin meningkat di masyarakat, terutama di kalangan remaja dan anak muda, dengan konflik keluarga dan pengaruh media sosial sebagai pemicu utama.

D
Daniel Kristianto
26 July 2026 6 pembaca
Peningkatan Kasus Gangguan Mental: Konflik Keluarga dan Media Sosial Sebagai Faktor Pemicu
Sumber gambar: lifestyle.kompas.com

JAKARTA – Permasalahan kesehatan mental kini menjadi isu yang semakin mendesak di berbagai lapisan masyarakat. Tidak hanya orang dewasa, tetapi juga remaja dan anak muda mengalami masalah psikologis yang semakin sering muncul. Para konselor keluarga menyatakan bahwa perubahan gaya hidup dan dinamika sosial dalam beberapa tahun terakhir telah menciptakan tantangan yang lebih kompleks bagi masyarakat.

Kondisi ini berdampak pada kesehatan mental individu, yang dapat memicu gangguan kecemasan, depresi, dan bahkan risiko bunuh diri jika tidak ditangani dengan baik sejak awal. Konflik dalam rumah tangga menjadi salah satu masalah yang paling umum ditemukan, seperti yang diungkapkan oleh Supeno Lembang, seorang konselor keluarga dari LSP Konselor Keluarga Kreatif (LSP KKK), dalam acara Pastoral Care Conference (PCC) 2026 di Jakarta Pusat.

Dominasi Masalah Keluarga dalam Konseling

Supeno Lembang mengungkapkan bahwa sebagian besar kasus yang diterima di ruang konseling masih berkaitan dengan masalah keluarga. Ia menjelaskan bahwa konflik yang terlihat sepele sering kali berkembang menjadi masalah yang lebih besar, dipicu oleh berbagai faktor, terutama masalah ekonomi dan hilangnya kepercayaan di antara anggota keluarga. “Masalah paling sering saya temuin adalah masalah keluarga. Menurut saya masalah keluarga yang berkaitan dengan ekonomi, masalah ketidakjujuran itu cukup mendominasi,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa tekanan finansial dapat memicu pertengkaran berkepanjangan dalam rumah tangga. Ketidakjujuran antara pasangan juga menjadi faktor yang memperburuk hubungan, yang sering kali mendorong mereka untuk mencari bantuan profesional. Pasangan yang datang untuk berkonsultasi biasanya masih dibebani emosi dan cenderung saling menyalahkan. Namun, melalui proses konseling, mereka mulai memahami bahwa setiap pihak memiliki andil dalam munculnya masalah tersebut.

Tekanan Hidup Modern pada Generasi Muda

Selain masalah keluarga, Supeno juga mencatat bahwa semakin banyak masyarakat yang mengeluhkan kesehatan mental mereka. Kelompok usia muda menjadi salah satu yang paling rentan terhadap tekanan psikologis akibat tuntutan kehidupan modern yang semakin cepat. Banyak anak muda merasa tertekan untuk selalu produktif, mencapai kesuksesan dalam waktu singkat, dan mengikuti perkembangan zaman. Hal ini membuat sebagian dari mereka kehilangan semangat dalam menjalani aktivitas sehari-hari dan kesulitan menemukan makna hidup.

“Lalu, kasus depresi dan kecemasan juga banyak, karena banyak anak muda yang kehilangan daya hidup di era serba cepat ini,” tambahnya.

Isu Parenting dan Tantangan Komunikasi

Helny Margaretta Cahyadi, konselor dari LSP KKK, juga menyoroti masalah parenting sebagai isu yang sering muncul dalam sesi konseling. Banyak orangtua merasa kesulitan dalam berkomunikasi dengan anak-anak, terutama yang berada di usia remaja. Perbedaan situasi sosial yang dihadapi orangtua dan anak menyebabkan cara berpikir, nilai, dan cara menyelesaikan masalah tidak sejalan, yang berpotensi memicu konflik dalam keluarga.

“Isu parenting itu menjadi fokus di dalam konseling saya, di mana banyak orangtua kewalahan menghadapi anak-anak khususnya remaja yang punya perbedaan usia yang jauh dan sulit memahami satu sama lain,” ungkap Helny.

Ia juga mencatat bahwa penggunaan gawai yang meningkat setelah pandemi Covid-19 berkontribusi pada masalah ini. Kebiasaan belajar dan beraktivitas dari rumah telah meningkatkan penggunaan perangkat digital, namun sering kali tidak diimbangi dengan pengawasan yang memadai. “Kecanduan games dan media sosial juga terus mengalami peningkatan, khususnya pasca pandemi Covid-19. Konsumsi gawai anak jadi tidak terkontrol dengan baik karena kurangnya pengawasan,” jelasnya.

Tren Global Gangguan Kesehatan Mental

Prof. Virgo Handojo, seorang profesor psikologi di California Baptist University dan konselor dari LSP KKK, menekankan bahwa tren peningkatan gangguan kesehatan mental bukan hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga merupakan fenomena global. Menurutnya, gangguan kecemasan dan depresi masih menjadi dua masalah yang paling umum ditemukan, terutama setelah dampak pandemi Covid-19 dan tantangan global seperti perubahan iklim.

“Secara global, termasuk Indonesia, angka kasus yang tertinggi itu gangguan kecemasan dan depresi, terutama setelah adanya pandemi Covid-19 dan global warming yang memicu stres,” terang Prof. Virgo. Ia juga mencatat bahwa meningkatnya angka bunuh diri di beberapa negara menjadi perhatian serius, terutama di kalangan remaja yang sedang mencari jati diri dan menghadapi berbagai tekanan sosial.

Prof. Virgo menekankan pentingnya dukungan keluarga dalam mengatasi masalah kesehatan mental. Relasi yang hangat, komunikasi yang terbuka, serta kesediaan untuk mencari bantuan profesional sejak gejala awal muncul sangat penting untuk mencegah masalah psikologis berkembang menjadi kondisi yang lebih serius.

Artikel Terkait