JAKARTA - Masa emas perkembangan anak terletak pada usia nol hingga lima tahun pertama. Pada fase kritis ini, sistem saraf pusat berfungsi secara intensif untuk mencapai pertumbuhan yang maksimal. Agar proses tersebut berjalan dengan baik, orangtua harus memastikan asupan makanan bergizi seimbang sebagai dasar yang tidak boleh diabaikan. Nutrisi yang baik sangat berpengaruh terhadap kecepatan berpikir dan kemampuan anak dalam menyerap informasi di masa depan.
Peran Nutrisi dalam Pembentukan Otak
Dalam merancang kecerdasan anak, pemenuhan nutrisi yang tepat menjadi syarat utama sebelum memberikan stimulasi tambahan. Asupan yang cukup secara medis akan membangun struktur dasar di dalam otak anak. "Kalau nutrisi itu fondasi dasar. Saat nutrisinya terbaik didapat dengan baik, dia akan mendapatkan rangka yang baik," jelas dr. Yoga Andika, Sp.A, dalam acara edukatif imersif "S-26 Exceptional Journey: Journey Inside the Brain" di Senayan City Mall, Jakarta, pada Jumat (24/7/2026).
Setelah fondasi tersebut terbentuk, rangsangan dari lingkungan dapat diberikan untuk melatih jaringan yang sudah siap menerima informasi. "Stimulasi itu tujuannya untuk buat memperkuat cabangnya. Sehingga nanti otaknya bisa berkembang dengan baik dan konektivitasnya bisa lebih baik," tambah dr. Yoga. Proses penyambungan antarjaringan ini dikenal dengan istilah sinaptogenesis. Jumlah sambungan di otak bayi yang awalnya hanya ribuan dapat meningkat drastis menjadi triliunan dengan dukungan nutrisi dan stimulasi yang tepat.
Pentingnya Lemak dalam Perkembangan Otak
Salah satu komponen penting untuk mendukung kecepatan berpikir anak adalah lemak. "Pertumbuhan otak itu komponennya yang pertama adalah komponen lemak. Jadi di dalam otak itu ada selubung, namanya selaput mielin," ungkap dr. Yoga. Jika selubung saraf ini belum terbentuk dengan baik, aliran informasi akan terhambat dan anak akan kesulitan untuk berkonsentrasi. Sebaliknya, saat pembungkus saraf ini menebal melalui proses mielinisasi, laju impuls akan meningkat tanpa kendala.
"Selubung mielin ini isinya lemak. Lemak itu pembungkusnya kita sebut namanya sphingomyelin. Di mana 'kakinya' namanya phospholipid," jelasnya. Selain dua zat ini, tubuh juga memerlukan komponen lain seperti zat besi, asam folat, alpha-lactalbumin, dan zinc. Semua elemen nutrisi ini berfungsi seperti infrastruktur transportasi yang mendukung kecepatan berpikir anak.
"Sehingga si komponen tadi bisa bergerak dengan cepat kayak jalan tol. Sehingga tadinya dia berpikir 'Satu tambah satu', butuh waktu lima detik buat jawab, setelah dia diulang-ulang jadi cuman satu detik sudah bisa jawab," tambah dr. Yoga.
Melihat pentingnya lemak dalam pembentukan saraf, orangtua disarankan untuk merencanakan menu harian dengan cermat. Dr. Yoga sangat merekomendasikan asupan protein hewani yang kaya nutrisi, terutama dari berbagai jenis ikan. "Di protein hewani itu pasti dia akan mengandung AA dan DHA yang baik, dan di dalamnya pasti terdapat sphingomyelindan phospholipid yang baik," paparnya.
Kebutuhan nutrisi untuk pembentukan mielin ini juga terus diteliti secara global. Vera Niki Gozali, Category Marketing Manager Wyeth Nutrition S-26, menyatakan bahwa pihaknya fokus melakukan penelitian di bidang neurokognisi. "Salah satu bentuk kolaborasi yang paling baru yang kita lakukan dalam bentuk riset itu adalah dengan Brown University, untuk menemukan kandungan gizi yang teruji klinis dapat mendukung proses mielinasi," ungkap Vera. Inovasi formulasi hasil penelitian ini berfokus pada kelengkapan gizi mikro dan makro untuk mendukung sambungan sel secara instan.
Berdasarkan hasil penelitian tersebut, anak tidak hanya memerlukan sphingomyelin, phospholipid, AA, DHA, dan alpha-lactalbumin untuk meningkatkan kecepatan berpikirnya. Mereka juga membutuhkan omega 3 dan 6, choline, asam folat, vitamin B12, dan zinc. Jika kebutuhan nutrisi ini terpenuhi dengan baik, anak tidak hanya akan mampu mengingat lebih cepat, tetapi juga akan lebih fokus dan siap menerima lebih banyak ide kreatif saat belajar.