Teknologi

Perseteruan Sam Altman dan Elon Musk dalam OpenAI Berakhir dengan Kekalahan Musk

Konflik antara Sam Altman dan Elon Musk terkait OpenAI berujung pada kekalahan Musk, di mana Altman menilai Musk memiliki kontrol yang berlebihan terhadap perusahaan tersebut.

M
Maria Gabriella
20 May 2026 12 pembaca
Perseteruan Sam Altman dan Elon Musk dalam OpenAI Berakhir dengan Kekalahan Musk
Konflik Elon Musk vs Sam Altman dalam kasus OpenAI masih bergulir. Kali ini, giliran Sam Altman yang menggambarkan Musk 'gila' kontrol atas OpenAI. Foto: AP/Reuters

Jakarta - Pertikaian antara Elon Musk dan Sam Altman mengenai OpenAI berakhir dengan hasil yang tidak menguntungkan bagi Musk. Sebelum keputusan diambil, Altman menyebut Musk sebagai sosok yang 'gila' dalam hal pengendalian OpenAI.

Sam Altman, yang merupakan co-founder sekaligus CEO OpenAI, menghadapi gugatan dari Musk yang menuduhnya telah mengubah OpenAI menjadi perusahaan yang berorientasi pada keuntungan, bertentangan dengan kesepakatan awal yang menyatakan bahwa perusahaan tersebut seharusnya berstatus nirlaba. Dalam persidangan yang berlangsung di Oakland, California, Altman menjelaskan bahwa Musk sebenarnya mendukung ide untuk menjadikan OpenAI sebagai bisnis yang menguntungkan. Musk juga menginginkan kontrol jangka panjang atas perusahaan tersebut.

Kontroversi Kendali dan Tujuan Keuangan

"Momen yang sangat mengerikan adalah ketika rekan-rekan pendiri saya bertanya, 'Jika Anda memiliki kendali, apa yang terjadi ketika Anda meninggal?' Dia mengatakan sesuatu seperti, '...mungkin itu harus diwariskan kepada anak-anak saya'," ungkap Altman. Komentar tersebut muncul ketika Musk berusaha untuk mendapatkan lebih banyak kendali atas OpenAI setelah perusahaan itu didirikan pada tahun 2015, dan telah mengusulkan beberapa cara untuk mewujudkannya.

Altman mengungkapkan bahwa Musk tidak hanya ingin mendapatkan lebih banyak kursi di dewan direksi OpenAI, tetapi juga ingin menjabat sebagai kepala eksekutif. Selain itu, Musk juga menyarankan agar OpenAI menjadi anak perusahaan dari Tesla, perusahaan mobil listriknya. Altman menyatakan bahwa tujuan utama OpenAI adalah untuk mendapatkan "lebih banyak uang lebih cepat," merujuk pada diskusi yang melibatkan Musk mengenai restrukturisasi perusahaan.

Keputusan untuk Menyerahkan Kendali

Musk diduga merasa bahwa dia seharusnya menjadi orang yang bertanggung jawab atas perusahaan tersebut, dengan keyakinan bahwa ketenarannya sebagai pebisnis dapat membantu OpenAI dalam mendapatkan dukungan finansial. "Jika saya membuat satu cuitan tentang ini, nilainya akan langsung melonjak," kenang Altman mengenai ucapan Musk.

Namun, Altman bersama dengan pendiri OpenAI lainnya, Greg Brockman dan Ilya Sutskever, sepakat bahwa menyerahkan kendali kepada Musk demi mendapatkan pendanaan yang lebih banyak tidak akan mendukung misi OpenAI atau usaha mereka dalam mengembangkan Artificial General Intelligence (AGI). "Saya sangat tidak nyaman dengan hal itu," kata Altman. "Salah satu alasan kami memulai OpenAI adalah karena kami tidak berpikir bahwa satu orang pun seharusnya mengendalikan AGI," tambahnya.

Pada akhirnya, Musk memutuskan untuk meninggalkan OpenAI pada awal tahun 2018 dan menghentikan donasi triwulanan sebesar USD 5 juta kepada perusahaan tersebut. Altman juga menyebutkan adanya sebuah email dari Musk yang menyatakan bahwa OpenAI "memiliki peluang 0%, bukan 1%, untuk sukses" tanpa kehadirannya. Ketika Altman menawarkan Musk kesempatan untuk berinvestasi di OpenAI saat perusahaan tersebut membentuk anak perusahaan nirlaba pada tahun 2019, Musk menolak. "Dia mengatakan tidak karena dia tidak akan lagi berinvestasi di perusahaan rintisan mana pun yang tidak dia kendalikan," tegas Altman.

Artikel Terkait