Setelah menjalani hari di sekolah, orangtua sering kali ingin segera mengetahui kegiatan anak mereka. Berbagai pertanyaan dilontarkan, mulai dari pelajaran yang dipelajari hingga teman-teman yang mereka ajak bermain. Namun, anak-anak mungkin belum siap untuk menjawab semua pertanyaan tersebut setelah seharian beraktivitas. Psikolog anak dan Certified Play Therapist, Anastasia Satriyo, menekankan bahwa anak memerlukan waktu untuk beristirahat setelah menghadapi berbagai tuntutan belajar dan interaksi sosial di sekolah.
Kenapa Anak Perlu Waktu Istirahat?
Di sekolah, anak tidak hanya terlibat dalam pelajaran, tetapi juga berinteraksi dengan guru dan teman-teman sebaya. Anastasia menjelaskan bahwa banyaknya aktivitas tersebut dapat membuat anak merasa kewalahan, sehingga mereka membutuhkan waktu untuk beristirahat sebelum melanjutkan kegiatan lainnya. “Anak-anak juga bisa mengalami overwhelmed. Kalau setiap hari kita bertemu banyak orang, 10 sampai 20 orang, kepala juga bisa terasa pusing,” ungkapnya saat peluncuran kemasan baru biskuit Lexus di Jakarta Selatan.
Ia mengibaratkan situasi ini seperti orang dewasa yang baru saja menyelesaikan rapat intensif, lalu diminta untuk menceritakan kembali isi rapat tersebut. “Kalau kita baru selesai meeting yang intens, lalu langsung ditanya bagaimana rapatnya, rasanya ingin bilang, ‘Bentar, bentar, napas dulu,’” jelasnya. Oleh karena itu, anak membutuhkan waktu untuk menenangkan diri setelah melalui berbagai aktivitas tersebut, bukan langsung beralih ke tuntutan berikutnya.
Memberikan Ruang untuk Bersantai
Anastasia juga menekankan pentingnya waktu rehat atau down time bagi anak untuk menenangkan diri setelah beraktivitas yang menguras energi. “Anak-anak juga sama, otak mereka butuh waktu down time, waktu untuk tenang,” katanya. Orangtua perlu menyadari bahwa rutinitas yang terlalu terburu-buru dapat membuat anak terus menghadapi tuntutan tanpa jeda yang cukup. Oleh karena itu, orangtua sebaiknya menyediakan waktu khusus di mana anak tidak harus segera menyelesaikan tugas atau menjawab pertanyaan.
Waktu ini bukan berarti anak bebas dari tanggung jawab sepanjang hari, melainkan kesempatan untuk beristirahat sebelum kembali menjalani rutinitas. Keinginan orangtua untuk mengetahui pengalaman anak di sekolah adalah hal yang wajar, namun penting untuk memperhatikan kondisi anak sebelum mengajaknya berbicara lebih lanjut. Anastasia mengingatkan bahwa pertanyaan yang diajukan saat anak merasa lelah justru dapat menambah beban pikirannya. “Kalau anak sedang capek dan butuh rileks, ditanya ‘kenapa’, itu otaknya malah makin pusing,” tuturnya.
Orangtua sebaiknya memberi anak kesempatan untuk menenangkan diri terlebih dahulu, alih-alih langsung meminta mereka menceritakan berbagai kejadian di sekolah. Setelah anak merasa lebih siap, percakapan bisa dilakukan tanpa harus memaksakan mereka menjawab semua pertanyaan sekaligus.
Menurut Anastasia, orangtua juga perlu menyediakan waktu santai secara teratur, bukan hanya ketika anak sudah merasa sangat kewalahan. “Daripada menunggu anak sampai benar-benar kewalahan, kita bangun momen-momen ketika mereka bisa merasa rileks dan santai,” ujarnya. Waktu santai ini bisa diisi dengan kegiatan sederhana yang disukai anak, termasuk menikmati camilan. Dalam suasana santai seperti ini, anak memiliki kesempatan untuk beristirahat tanpa merasa dituntut untuk melakukan sesuatu.
Dengan memberikan jeda sebelum anak kembali belajar, bermain, atau menyelesaikan tugas, orangtua dapat membantu mereka menjalani rutinitas dengan lebih teratur.