Kesehatan

Perjuangan Seorang Ibu dalam Mendidik Anak dengan Down Syndrome

Mardiana, seorang ibu dari Revan yang berusia 15 tahun dengan Down syndrome, menghadapi berbagai tantangan dalam mendidik anaknya, termasuk perlakuan buruk dari masyarakat.

N
Nathania Gabriella Wardani
29 October 2026 3 pembaca
CL Organic Green & Healthy Expo 2026, Jakarta Barat, Rabu (28/10/2026). (KOMPAS.com/AMANDA DEAH MAHARANI)
CL Organic Green & Healthy Expo 2026, Jakarta Barat, Rabu (28/10/2026). (KOMPAS.com/AMANDA DEAH MAHARANI)

Mardiana, seorang ibu yang membesarkan anak dengan Down syndrome, menghadapi berbagai tantangan dalam proses pendidikan dan penerimaan masyarakat terhadap anaknya. Revan Ibnu Saidah, remaja berusia 15 tahun, menjadi fokus perjuangan Mardiana, yang mengungkapkan bahwa salah satu kesulitan terbesar adalah ketika anaknya mengalami perlakuan tidak menyenangkan di tempat umum. “Terutama di luar, di umum, banyak yang mem-bully atau menjauhi,” ungkap Mardiana saat diwawancarai di CL Organic Green & Healthy Expo 2026.

Menyadari Kondisi Sejak Dini

Mardiana mulai menyadari ada yang berbeda pada Revan saat anaknya berusia lima bulan. Ia melihat kondisi fisik Revan dan merasa perlu melakukan pemeriksaan medis. Setelah berkonsultasi dengan dokter, Mardiana memutuskan untuk mencari pendapat medis tambahan untuk memastikan kondisi anaknya. “Umur lima bulan, karena saya kan pikir kok anak saya beda, tulangnya juga lemas,” ujarnya. Ia membawa Revan ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) untuk menjalani pemeriksaan kromosom guna memastikan apakah Revan mengalami Down syndrome.

Tantangan dalam Proses Belajar

Selain menghadapi stigma dari masyarakat, Mardiana juga menceritakan kesulitan dalam mendampingi Revan belajar. Ia menjelaskan bahwa anak-anak dengan kondisi seperti Revan membutuhkan pengulangan dalam proses belajar. “Anak normal itu kan sekali dua kali sudah ngerti, anak kita sekali sampai 100 kali baru mungkin bisa ngerti,” jelasnya. Mardiana menekankan bahwa meskipun Revan membutuhkan waktu lebih lama untuk memahami, hal ini tidak berarti anaknya tidak mampu belajar. “Bukan berarti enggak bisa. Dia bisa, cuma lambat,” tambahnya.

Mardiana percaya bahwa komitmen orangtua sangat penting dalam mendukung proses belajar anak. Pengulangan materi dan kesabaran sangat diperlukan agar anak memiliki kesempatan untuk memahami pelajaran dengan baik.

Emosi Seorang Ibu

Perlakuan masyarakat terhadap Revan juga berdampak emosional bagi Mardiana. Ia mengaku pernah merasa sangat sedih ketika melihat anaknya dijauhi oleh orang lain. Mardiana merasa prihatin dengan perasaan Revan jika anaknya menyadari perlakuan tersebut. “Awal-awal sih saya sering nangis juga karena sedih ya, ngelihatin dia gitu, dia dijauhin,” tuturnya. Menurutnya, membesarkan Revan bukan hanya soal mendampingi proses belajar, tetapi juga menghadapi tantangan sosial yang dapat memengaruhi kehidupan anak dan keluarga.

Mardiana berusaha untuk tetap sabar dan berkomitmen dalam mendukung perkembangan Revan. Di akhir wawancaranya, ia menyampaikan harapannya untuk anak-anak berkebutuhan khusus. “Harapan saya sebenernya semoga masyarakat bisa lebih care dengan anak disabilitas, setiap tanggal 3 juga kalau bisa tanggal merah karena memperingati hari disabilitas agar masyarakat tau, ada loh anak-anak disabilitas,” ujarnya.

Artikel Terkait