Teknologi

Transformasi Penolakan Menjadi Kesuksesan: Kisah Frank Wang dan DJI

Frank Wang, pendiri DJI, berhasil mengubah penolakan dari dua universitas ternama di AS menjadi kesuksesan dengan menciptakan perusahaan drone terbesar di dunia, menjadikannya miliarder teknologi term...

M
Mikayla Rahmadani
26 October 2026 3 pembaca
Pendiri DJI, Frank Wang. Foto: Istimewa
Pendiri DJI, Frank Wang. Foto: Istimewa

Jakarta - Frank Wang, seorang pengusaha asal China, mengubah penolakan dari Massachusetts Institute of Technology (MIT) dan Stanford University menjadi langkah awal menuju kesuksesan dengan mendirikan DJI, perusahaan drone terkemuka di dunia. Kini, di usia 46 tahun, ia menjadi miliarder teknologi termuda di Asia.

Setelah ditolak oleh dua universitas bergengsi tersebut, Wang melanjutkan studinya di Hong Kong University of Science and Technology (HKUST), tempat di mana ia mulai merintis bisnisnya. Pada tahun 2006, saat masih kuliah, ia mendirikan DJI di Shenzhen. Perusahaan yang awalnya kecil ini kini telah berkembang menjadi produsen drone konsumen terbesar di dunia, mengubah cara orang melakukan fotografi udara dari yang sebelumnya terbatas menjadi lebih mudah diakses oleh masyarakat umum.

Dominasi Pasar Drone

Dua dekade setelah berdirinya, DJI kini menguasai 73% pasar kamera pintar global pada kuartal kedua tahun 2026, menurut IDC. Perusahaan ini memiliki lebih dari 14.000 karyawan dan beroperasi di berbagai benua, termasuk Amerika, Eropa, dan Asia. Kekayaan Wang diperkirakan mencapai USD 6,2 miliar pada 15 Oktober, dan ia menduduki peringkat ke-92 dalam daftar orang terkaya di China tahun 2025.

Perjalanan Awal yang Penuh Tantangan

Lahir di Hangzhou, Wang telah tertarik pada mesin terbang sejak kecil dan sering membaca buku tentang model pesawat. Pada usia 16 tahun, ia mendapatkan helikopter remote control sebagai hadiah atas prestasi akademiknya. Meskipun memiliki minat yang besar di bidang teknik, ia mengalami kesulitan dalam akademis dan gagal masuk ke universitas impiannya. Akhirnya, ia diterima di HKUST pada tahun 2003 untuk mempelajari teknik elektro dan komputer.

Di tahun terakhir kuliahnya, Wang fokus mengembangkan sistem kendali penerbangan untuk helikopter. Meskipun sistem tersebut gagal berfungsi tepat sebelum presentasi tugas akhir, kegigihannya membuat profesor Li Zexiang terkesan, yang kemudian menjadi mentor dan investor awal bagi DJI. Wang lulus pada tahun 2006 dan meraih gelar magister pada tahun 2011. Pada Januari 2026, HKUST memberikan penghargaan kepadanya sebagai alumni teknik berprestasi.

Wang mendirikan DJI bersama dua temannya di apartemen di Shenzhen dengan menggunakan sisa uang beasiswa. Mereka mengembangkan sistem kendali penerbangan yang memungkinkan pesawat tak berawak terbang dengan stabil. Pada awalnya, DJI menjual sistem tersebut seharga sekitar USD 6.000 per unit kepada beberapa pelanggan, termasuk universitas dan perusahaan listrik. Wang mengungkapkan bahwa saat itu ia tidak tahu seberapa besar pasar drone yang akan mereka masuki, dan tujuan awalnya hanyalah untuk menciptakan produk yang dapat menghidupi tim kecil.

Namun, DJI menghadapi berbagai kesulitan, termasuk masalah manajemen yang menyebabkan banyak karyawan keluar. Hampir seluruh anggota tim mengundurkan diri dalam dua tahun pertama. Wang mengakui bahwa gaya manajemennya yang menuntut menjadi salah satu penyebabnya. Terobosan besar bagi DJI terjadi pada Januari 2013 dengan peluncuran Phantom, drone yang memudahkan konsumen awam untuk melakukan fotografi udara. Dengan harga USD 679, Phantom jauh lebih terjangkau dibandingkan drone rakitan yang harganya bisa lebih dari USD 1.000, yang mendorong pendapatan DJI meningkat lima kali lipat.

Seiring dengan meningkatnya persaingan, DJI terus menyempurnakan produk mereka, termasuk memperpanjang durasi penerbangan dari 10 menit pada model pertama menjadi 28 menit pada versi-versi berikutnya. Pada tahun 2015, DJI menguasai sekitar 70% pasar drone konsumen dan membangun bisnis internasional yang kuat, dengan sekitar 70% penjualannya berasal dari luar Asia. Dalam dekade berikutnya, DJI meluaskan jangkauannya ke sektor pertanian, inspeksi industri, dan pembuatan film, serta memperkenalkan model-model baru yang memudahkan akses fotografi udara.

Ekspansi pesat DJI menjadikan Wang sebagai miliarder drone pertama di dunia. Pada tahun 2017, di usia 36 tahun, ia diakui sebagai miliarder teknologi termuda di Asia dengan kekayaan diperkirakan mencapai USD 3,2 miliar. Namun, dominasi DJI di pasar global juga menghadapi tantangan regulasi, terutama di AS, di mana pada tahun 2022, DJI dimasukkan dalam daftar perusahaan militer China oleh Departemen Pertahanan AS, sebuah label yang dibantah oleh perusahaan. Meskipun menghadapi berbagai tantangan, DJI terus berinovasi dan memperluas pasarnya.

Artikel Terkait