Kesehatan

Merasa Hampa Meski Produktif? Kenali Fenomena Functional Freeze

Banyak orang yang menjalani rutinitas harian tanpa merasa puas, meskipun tetap produktif. Kondisi ini dikenal sebagai functional freeze, di mana seseorang merasa kosong di dalam meskipun tampak baik-b...

D
Danendra Surya
26 October 2026 2 pembaca
Ilustrasi burnout.(PEXELS/MIN AN)
Ilustrasi burnout.(PEXELS/MIN AN)

KOMPAS.com - Menyelesaikan tugas dan menjalani aktivitas sehari-hari tidak selalu menjamin kepuasan. Seseorang mungkin tetap aktif, memenuhi tanggung jawab, dan menjalani rutinitas, namun merasa kehilangan semangat dan tidak lagi menikmati hal-hal yang sebelumnya menyenangkan. Perasaan ini bisa muncul ketika seseorang menjalani hari-hari tanpa benar-benar terlibat dalam kehidupannya. Kondisi di mana seseorang tampak produktif tetapi merasa kosong dan melakukan aktivitas secara otomatis disebut sebagai functional freeze.

Pemahaman Tentang Functional Freeze

Dr. Simone Boer, seorang ahli saraf dan pelatih pola pikir, menjelaskan bahwa functional freeze adalah kondisi di mana seseorang terlihat baik-baik saja dari luar, tetapi merasakan ketidakcocokan di dalam diri mereka. “Dari luar, kamu mungkin terlihat baik-baik saja. Mampu mengurus aktivitas sehari-hari, memenuhi tenggat waktu, dan menjaga penampilan. Namun, ada ketidaksesuaian karena di dalam diri, kamu berjalan secara otomatis. Kamu tidak lagi menikmati hal-hal yang dilakukan atau cara menjalani hidup,” ungkap Boer. Kondisi ini sering kali terkait dengan respons stres yang muncul akibat pengalaman traumatis atau ketika hidup terasa tidak sesuai dengan diri sendiri. Tubuh memberikan sinyal bahwa ada sesuatu yang perlu diubah.

Psikolog dan penulis buku Productivity Joy, Simi Rayat, menggambarkan kondisi ini seperti mengemudikan mobil dengan menginjak pedal gas dan rem secara bersamaan. “Kamu mengeluarkan energi yang sangat besar, tetapi merasa tidak benar-benar bergerak,” tuturnya. Jika dibiarkan, kondisi ini dapat menyebabkan kelelahan berkepanjangan, burnout, suasana hati yang menurun, dan hilangnya kepercayaan diri.

Tanda-Tanda Mengalami Functional Freeze

1. Merasa Kosong dan Semua Hal Terasa Berat

Salah satu tanda yang muncul adalah perasaan mati rasa secara emosional. Seseorang tetap melakukan aktivitas, tetapi tidak merasakan kegembiraan atau kepuasan dari hal-hal yang dijalani. “Rasa mati rasa menjadi hal yang paling dominan. Kamu menjalani berbagai aktivitas, tetapi tidak merasakan kegembiraan,” kata Boer. Pekerjaan yang biasanya sederhana pun bisa terasa berat. Psikoterapis Eugenie Pepper menambahkan bahwa seseorang mungkin mengalami kesulitan dalam mengambil keputusan, menunda pekerjaan, atau menghindari tugas karena merasa kewalahan.

2. Merasa Jalan di Tempat dan Menjauh dari Orang Lain

Tanda lainnya adalah perasaan stagnasi, meskipun tanggung jawab tetap terpenuhi. “Kamu menyelesaikan tugas-tugas yang rasanya hanya seperti mencentang daftar pekerjaan, dan hanya itu yang kamu rasakan,” jelas Boer. Seseorang juga dapat mulai menarik diri dari interaksi dengan teman atau keluarga karena merasa kesulitan menjalin hubungan yang bermakna. Menurut Boer, orang-orang terdekat mungkin menyadari perubahan tersebut dan mengomentari bahwa seseorang tidak seperti biasanya.

3. Selalu Lelah dan Sering Melakukan Sesuatu Tanpa Sadar

Orang yang mengalami functional freeze mungkin merasa terus-menerus lelah, tegang, atau merasakan nyeri tanpa penyebab yang jelas. Pepper menyebutkan bahwa keluhan fisik tersebut dapat muncul dalam kondisi ini. Di sisi lain, seseorang mungkin tetap menjalani rutinitas, tetapi pikirannya tidak benar-benar terlibat dalam aktivitas yang dilakukan, seperti scrolling media sosial atau menonton televisi tanpa menyimak isi tayangan.

Cara Mengatasi Functional Freeze

Boer menyarankan untuk mengenali kondisi yang dialami dan menyadari bahwa keadaan tersebut tidak bersifat permanen. Seseorang bisa kembali melakukan aktivitas yang disukai. Boer merekomendasikan untuk menuliskan 50 hal yang membawa kegembiraan, termasuk kegiatan yang disukai saat kecil, dan menjadwalkan waktu untuk melakukannya. Rayat juga menyarankan untuk memperhatikan momen-momen sederhana yang menyenangkan, seperti sinar matahari pagi, suara burung, atau senyuman orang asing. “Saat terjebak dalam mode bertahan hidup, otak menjadi sangat fokus pada masalah dan ancaman. Momen-momen kecil yang menyenangkan ini mengganggu pola tersebut dan mengingatkan sistem saraf bahwa kita aman pada saat ini,” terangnya.

Untuk mengurangi rasa kewalahan, penting untuk menentukan tiga prioritas utama setiap hari, melakukan latihan pernapasan perlahan, serta memilih aktivitas ringan seperti berjalan kaki atau yoga. Batasi juga waktu penggunaan ponsel dan luangkan waktu untuk beristirahat atau menikmati alam. Jika merasa kehilangan arah, Boer menyarankan untuk membuat daftar hal yang ingin dicoba dan menetapkan tujuan kecil. “Bahkan satu langkah kecil yang disengaja menuju perubahan bermakna dapat membantu kamu keluar dari kebuntuan dan memulihkan rasa kemajuan,” pesannya.

Artikel Terkait