Teknologi

Kecerdasan Buatan Korea Siap Membantu Pendidikan di Indonesia

Teknologi kecerdasan buatan (AI) dari Korea Selatan yang mendukung guru dalam berbagai tugas administratif berpotensi diperkenalkan di Indonesia oleh LG CNS. Platform G-ONE diharapkan dapat meningkatk...

D
Danendra Surya
24 October 2026 38 pembaca
AI Korea Ini Bisa Bantu Guru, LG CNS Ingin Bawa ke Indonesia Foto: uit.no
AI Korea Ini Bisa Bantu Guru, LG CNS Ingin Bawa ke Indonesia Foto: uit.no

Jakarta - LG CNS berencana memperkenalkan teknologi kecerdasan buatan (AI) yang dirancang untuk membantu guru dalam menyusun dokumen, menerjemahkan informasi, dan berkomunikasi dengan orang tua siswa di Indonesia. Platform yang dikenal dengan nama G-ONE ini telah dikembangkan untuk digunakan di Korea Selatan dan berpotensi membawa manfaat serupa di Tanah Air.

Mark Mansik Won, Direktur Utama PT LG CNS Indonesia, menyatakan minatnya untuk memperkenalkan G-ONE kepada pemerintah Indonesia dalam sebuah wawancara. Namun, ia menekankan bahwa penerapan teknologi ini memerlukan penyesuaian serta persetujuan dari pihak berwenang di Indonesia.

Deskripsi G-ONE

G-ONE adalah platform pendidikan berbasis AI yang dikembangkan oleh LG CNS untuk Gyeonggi Provincial Office of Education di Korea Selatan. Sistem ini dirancang untuk mendukung administrasi sekolah dan menyediakan layanan informasi bagi siswa serta orang tua. "Ini merupakan platform AI pendidikan yang terintegrasi, bukan hanya untuk siswa, tetapi juga orang tua dan staf sekolah. Sistem ini memiliki asisten administrasi AI yang bisa membantu guru membuat dokumen," jelas Mark.

Dengan adanya fitur AI Administrative Assistant, para guru dapat memanfaatkan teknologi ini untuk menyusun draf dokumen, membuat ringkasan, dan menerjemahkan informasi. Diharapkan, teknologi ini dapat mengurangi waktu yang dihabiskan untuk tugas administratif.

Selain itu, G-ONE juga dilengkapi dengan fitur AI Communication Helper yang mempermudah komunikasi antara sekolah, siswa, dan orang tua. Mark menambahkan bahwa kebutuhan akan fitur ini cukup signifikan di Provinsi Gyeonggi, yang memiliki keluarga dari lebih dari 40 negara dengan berbagai latar belakang bahasa. Perbedaan bahasa sering kali menjadi kendala bagi guru dalam menyampaikan informasi sekolah, dan G-ONE dirancang untuk mengatasi masalah tersebut dengan dukungan AI.

Keamanan Data dan Implementasi di Indonesia

Platform ini menggunakan pendekatan sovereign AI, yang berarti AI berdaulat, dengan memanfaatkan model LG EXAONE yang disesuaikan dengan data pendidikan Gyeonggi. G-ONE juga dirancang untuk beroperasi secara on-premises, sehingga data pendidikan dapat dikelola dalam infrastruktur yang dikuasai oleh institusi terkait, tanpa perlu mengirimkan dokumen sensitif ke layanan AI publik. Pendekatan ini penting mengingat dokumen sekolah dapat berisi informasi pribadi siswa, guru, dan orang tua yang memerlukan perlindungan.

LG CNS mengungkapkan bahwa proyek pengembangan G-ONE memiliki nilai sekitar 38 miliar won Korea Selatan dan dijadwalkan selesai pada tahun 2025. Proyek ini diakui sebagai salah satu inisiatif AI sektor publik terbesar di Korea Selatan. G-ONE juga mendapatkan pengakuan internasional di ajang ASOCIO Digital & AI Summit 2026 yang diadakan di Jakarta pada 6 Oktober 2026, di mana Gyeonggi Provincial Office of Education meraih penghargaan ASOCIO AI in Education Award 2026.

Mark menyatakan ketertarikan untuk membawa G-ONE ke Indonesia, meskipun teknologi ini perlu disesuaikan dengan bahasa, kebutuhan administrasi pendidikan, dan kebijakan pengelolaan data nasional. "Saya ingin membawanya ke Indonesia. Tentu saja membutuhkan penyesuaian. Namun, keputusan untuk menerapkannya berada di tangan pemerintah Indonesia," ungkapnya.

Saat ini, LG CNS sedang berupaya memperkenalkan pengalaman pengembangan AI pendidikan di Korea Selatan melalui berbagai forum dan kesempatan kerja sama teknologi. Namun, belum ada informasi resmi mengenai kontrak, jadwal implementasi, atau sekolah di Indonesia yang akan menggunakan G-ONE. Mark berharap pengalaman Korea Selatan dapat menjadi acuan bagi Indonesia dalam memanfaatkan AI untuk mengurangi beban administrasi guru dan meningkatkan layanan pendidikan.

Artikel Terkait