Kesehatan

Strategi Mendapatkan Makanan Organik dengan Harga Terjangkau

Makanan organik tidak selalu memiliki harga yang selangit. Ada cara untuk mendapatkan produk organik dengan biaya lebih rendah, terutama dengan membeli langsung dari produsen.

M
Mikayla Rahmadani
31 October 2026 4 pembaca
Ilustrasi sayuran.(wikimedia.org/https://www.flickr.com/photos/calliope)
Ilustrasi sayuran.(wikimedia.org/https://www.flickr.com/photos/calliope)

Makanan organik sering kali dianggap mahal, namun kenyataannya ada cara untuk membelinya dengan harga yang lebih terjangkau. Menurut Christopher Emille Jayanata, seorang aktivis dari Komunitas Organik Indonesia (KOI), konsumen dapat memperoleh produk organik dengan harga yang lebih rendah jika membeli langsung dari kebun atau produsen. Ia memberikan contoh bahwa sayuran yang dibeli langsung dari kebun dapat berkisar antara Rp 15.000 hingga Rp 20.000, sementara harga di pasar atau supermarket bisa mencapai Rp 50.000 hingga Rp 60.000.

Pola Hidup Sehat dan Tantangan Harga

Banyak orang yang ingin menerapkan pola hidup sehat dengan mengonsumsi makanan organik, tetapi seringkali niat tersebut terhalang oleh harga yang tinggi. Perbedaan harga antara produk organik dan konvensional terasa signifikan, terutama di supermarket modern. Christopher menjelaskan bahwa anggapan bahwa produk organik selalu mahal muncul karena konsumen lebih sering menemukannya di supermarket yang memiliki harga lebih tinggi.

Biaya Sertifikasi dan Kemasan

Christopher mengungkapkan bahwa harga yang lebih tinggi di supermarket modern disebabkan oleh persyaratan sertifikasi yang harus dipenuhi oleh produk yang dijual. Proses sertifikasi ini memerlukan biaya, begitu juga dengan label dan kemasan yang digunakan. “Supermarket modern mensyaratkan harus ada sertifikasi. Sertifikasi itu mahal. Terus lagi label kemasannya juga mahal, itu yang membuatnya jadi makin mahal,” ungkapnya. Biaya-biaya ini berkontribusi pada harga akhir produk yang ditawarkan kepada konsumen.

Selain itu, distribusi juga menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi harga. Christopher menyebutkan bahwa produsen harus mempertimbangkan biaya logistik, pengemasan, dan pengiriman, terutama ketika produk dijual melalui toko atau pasar daring. “Kalau tempat yang jauh, apalagi produknya yang cepat rusak, itu kan juga masalah, jadi cepat rusak kan masalahnya di distribusi,” jelasnya. Produk yang mudah rusak membutuhkan penanganan yang tepat agar kualitasnya tetap terjaga hingga sampai ke tangan konsumen.

Membeli Langsung dari Produsen

Christopher menekankan bahwa membeli produk organik langsung dari kebun atau produsen dapat menjadi solusi untuk mendapatkan harga yang lebih terjangkau. “Padahal sebetulnya kalau datang ke kebunnya langsung, lihat produknya langsung, beli di situ, itu enggak jadi mahal. Langsung ke produsennya,” ujarnya. Ia mencontohkan bahwa harga sayuran dari kebun bisa berkisar antara Rp 15.000 hingga Rp 20.000, sedangkan konsumen sering membayar Rp 50.000 hingga Rp 60.000 di jalur penjualan lainnya.

Christopher juga menyoroti pentingnya kedekatan lokasi antara produsen dan konsumen dalam penjualan produk organik. Ia menyarankan agar produk yang dijual di Jakarta sebaiknya berasal dari daerah sekitar Jakarta, dan hal yang sama berlaku untuk produk yang dijual di Yogyakarta. “Kalau ada di Jakarta, itu produk-produk yang sekitar Jakarta. Produk yang ada di Jogja, sekitaran Jogja harusnya,” tuturnya. Dengan demikian, harga makanan organik tidak hanya ditentukan oleh proses produksinya, tetapi juga oleh faktor sertifikasi, kemasan, dan distribusi yang mempengaruhi biaya akhir.

Artikel Terkait