Kegiatan sehari-hari seringkali membuat anak meminta sesuatu saat orangtua sedang sibuk, mulai dari ingin bermain hingga meminta makanan favorit. Permintaan ini kadang muncul ketika anak masih memiliki tugas atau kegiatan lain yang harus diselesaikan. Dalam menghadapi situasi ini, orangtua perlu mengajarkan anak bahwa tidak semua keinginan harus dipenuhi segera. Psikolog anak dan Certified Play Therapist, Anastasia Satriyo, menjelaskan bahwa salah satu keterampilan yang dapat dilatih adalah delay gratification.
Memahami Delay Gratification
Delay gratification dalam konteks ini berarti melatih anak untuk menunda keinginan mereka. Latihan ini bertujuan agar anak belajar bahwa mereka tidak selalu bisa mendapatkan apa yang mereka inginkan secara instan. “Delay gratification adalah latihan untuk membuat anak itu berlatih menunda apa yang dia senangi,” ungkap Anastasia saat ditemui di Jakarta Selatan.
Namun, menunda keinginan tidak berarti anak dilarang untuk melakukan sesuatu. Anastasia menekankan bahwa anak tetap diperbolehkan mendapatkan apa yang mereka inginkan, tetapi orangtua harus mengatur waktu untuk itu. “Bukan kayak enggak boleh sama sekali, tapi ditunda,” jelasnya.
Cara Melatih Anak Menunda Keinginan
Anastasia memberikan saran kepada orangtua untuk mengenalkan konsep ini secara bertahap. Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah dengan tidak langsung memenuhi permintaan anak, melainkan mengajaknya menyelesaikan kegiatan lain terlebih dahulu. Misalnya, ketika anak ingin bermain atau makan makanan yang kurang sehat, orangtua bisa mengajak mereka untuk makan sayur dan buah terlebih dahulu. “Bisa katakan; boleh, tapi misalnya kamu makan sayur dulu, makan buah-buahan dulu, baru lakukan ini, begitu,” ucap Anastasia.
Contoh lain adalah ketika anak ingin bermain sepeda. Orangtua dapat membuat kesepakatan agar anak menyelesaikan pekerjaan rumah sebelum bermain. “Misalnya mau main sepeda, ya sudah, kamu kerjakan dulu PR-nya,” sarannya.
Menyesuaikan Waktu Menunda dengan Usia Anak
Anastasia mengingatkan bahwa latihan ini tidak dapat diterapkan dengan cara yang sama untuk setiap anak. “Buat anak umur dua tahun, menunda keinginannya kan enggak mungkin kayak anak tujuh tahun. Jadi, menundanya sebentar,” jelasnya. Ia menambahkan bahwa perbedaan usia juga mempengaruhi cara melatih anak, sehingga orangtua perlu menyesuaikan metode dan durasi menunggu sesuai dengan usia anak.
Latihan ini sebaiknya dimulai sejak anak masih kecil agar orangtua lebih siap menghadapi berbagai keinginan anak saat mereka beranjak remaja. “Yang paling terasa nanti kalau ini dicicil dilakukan di masa usia anak-anak, nanti remaja kita enggak kebingungan,” ujarnya. Namun, anak yang sudah memasuki usia remaja juga masih bisa dilatih untuk menunda keinginan, dengan menerapkan batasan yang sesuai dengan kehidupan sehari-hari mereka. “Kalau ternyata sudah masuk usia remaja, bisa kita latih juga delay gratification lewat pembatasan uang jajan, GoPay-nya dibatasi, pembatasan akses misalnya,” kata Anastasia. “Kalau sudah di atas jam 11 malam, sudah enggak ada Wi-Fi. Jadi, pembatasan seperti itu ternyata membantu juga,” tambahnya.