Teknologi

Pola Rekrutmen Teroris Anak Melalui Fitur Chat Game Terungkap oleh BNPT

Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) mengungkapkan adanya rekrutmen terorisme yang menyasar anak-anak melalui fitur komunikasi di game online, dengan modus yang telah terdeteksi sejak tahun...

J
Jonathan Michael Saputra
02 May 2026 12 pembaca
Pola Rekrutmen Teroris Anak Melalui Fitur Chat Game Terungkap oleh BNPT
Terkuak! BNPT Ungkap Rekrutmen Teroris Anak Lewat Chat Game. Foto: Agus Tri Haryanto/detikINET

Jakarta - Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) mengungkapkan adanya pola baru dalam rekrutmen terorisme yang menargetkan anak-anak melalui fitur komunikasi pada platform game online. Modus ini teridentifikasi dalam upaya perekrutan yang dilakukan melalui chat dan voice chat saat bermain game.

Kepala BNPT, Eddy Hartono, menjelaskan bahwa praktik ini telah dipantau sejak tahun 2024 melalui kolaborasi lintas kementerian dan aparat penegak hukum. Salah satu platform yang menjadi perhatian adalah fitur chat di Roblox. "Pencegahan ini sudah kami lakukan sejak tahun lalu. Kami berkolaborasi dengan berbagai kementerian, lembaga, dan aparat penegak hukum untuk memantau pola rekrutmen ini," ungkap Eddy di Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), Jakarta, Kamis (30/4/2026).

Eddy menjelaskan bahwa proses rekrutmen dimulai dengan metode yang dikenal sebagai digital grooming, di mana pelaku memanfaatkan fitur komunikasi dalam game untuk mendekati anak-anak secara emosional. "Di tahap awal, mereka membangun empati. Anak-anak diajak ngobrol saat bermain, merasa punya hobi yang sama, bahkan saling curhat. Dari situ muncul kedekatan," jelasnya.

Dalam fase ini, interaksi terlihat seperti komunikasi biasa antar pemain, sehingga sulit untuk mendeteksi aktivitas berbahaya. Setelah kedekatan terjalin, korban kemudian diajak keluar dari platform game menuju aplikasi komunikasi lain seperti WhatsApp atau Telegram. "Di situ masuk tahap berikutnya, yaitu normalisasi. Anak-anak mulai diberikan doktrin-doktrin tertentu, termasuk narasi radikal yang menentang pemerintah," kata Eddy.

Ia menambahkan bahwa dalam kasus yang ditangani, pelaku merupakan simpatisan kelompok teror yang menyebarkan ideologi ekstrem, termasuk propaganda terkait ISIS. BNPT juga menyebutkan bahwa setelah proses doktrinasi, tahap berikutnya adalah eksploitasi terhadap korban. Namun, upaya ini berhasil digagalkan lebih awal oleh aparat. "Alhamdulillah sebelum masuk tahap eksploitasi, kami bersama aparat penegak hukum berhasil melakukan pencegahan melalui pendekatan hukum," kata Eddy.

BNPT mengingatkan bahwa ruang digital, termasuk game online, kini menjadi medium baru penyebaran paham radikal. Oleh karena itu, peran orang tua sangat penting dalam mengawasi aktivitas anak. "Anak-anak tidak dilarang bermain game, tapi harus ada pendampingan. Mereka perlu tahu risiko interaksi dengan orang asing di dunia digital," pungkasnya.

Artikel Terkait