Kecemasan sering kali muncul ketika seseorang menghadapi situasi yang menegangkan. Namun, tidak jarang perasaan ini datang tanpa adanya masalah yang signifikan. Gejala yang mungkin dirasakan termasuk detak jantung yang cepat, ketegangan pada tubuh, sulit berkonsentrasi, atau dorongan untuk segera menyelesaikan suatu tugas. Dalam keadaan seperti ini, tubuh seolah merespons seperti sedang dalam situasi darurat, meskipun lingkungan sekitar tidak menunjukkan adanya ancaman. Berita baiknya, ada cara-cara sederhana yang bisa dilakukan untuk menenangkan diri saat kecemasan mulai muncul.
Perlambat Gerakan untuk Menenangkan Diri
Salah satu metode yang dapat dicoba adalah memperlambat gerakan tubuh. Terapis berlisensi dan pendiri Nadia Fiorita Psychotherapy & Coaching, Nadia Fiorita, menjelaskan bahwa kecemasan dan tekanan dari pekerjaan sehari-hari sering membuat seseorang berperilaku lebih cepat dari biasanya. Ia menyarankan untuk sengaja memperlambat satu gerakan sederhana yang sedang dilakukan. “Perlambat satu gerakan biasa dengan sengaja,” ujarnya. Contoh gerakan yang bisa diperlambat termasuk meraih secangkir kopi, memutar gagang pintu, menutup ritsleting tas, atau meneguk air dengan perlahan. Menurut Fiorita, memperlambat aktivitas sederhana ini membantu individu menyadari apa yang sedang dilakukan, terutama saat pikiran dipenuhi kekhawatiran. “Ini mengirimkan pesan kepada pikiran dan tubuh bahwa tidak ada keadaan darurat yang sedang terjadi,” tambahnya. Metode ini bisa menjadi langkah awal untuk mencegah kecemasan berkembang menjadi perasaan kewalahan.
Alihkan Perhatian dari Pikiran Negatif
Selain memperlambat gerakan, Fiorita juga menganjurkan untuk lebih fokus pada kenyataan yang ada, bukan langsung menilai situasi. Ketika merasa cemas, seseorang cenderung menganggap keadaan buruk atau membayangkan skenario terburuk. Padahal, tidak semua pikiran tersebut merupakan fakta. Fiorita menyarankan untuk mengubah penilaian negatif menjadi pengamatan yang lebih sederhana. Misalnya, alih-alih berpikir “semuanya akan berantakan”, seseorang bisa mengakui kenyataan seperti, “jantung saya berdebar”, “saya sedang menunggu jawaban”, atau “saya belum mengetahui semua informasinya”. “Ini mengganggu kecenderungan otak untuk mengisi kekosongan dengan skenario terburuk,” jelasnya. Dengan semakin sering memperhatikan fakta tanpa penilaian, seseorang dapat lebih mudah keluar dari pola pikir cemas.
Cara lain yang bisa diterapkan adalah mengubah kepastian menjadi rasa ingin tahu. Psikolog klinis berlisensi, Holly Batchelder, PhD, menyatakan bahwa kecemasan sering kali membuat seseorang yakin bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi. Ketika pikiran seperti “ini akan berakhir buruk” muncul, Batchelder menyarankan untuk bertanya, “Apa kemungkinan lain yang bisa terjadi?” Pendekatan ini tidak berarti memaksa diri untuk selalu berpikir positif, melainkan memberikan kesempatan bagi otak untuk mempertimbangkan lebih dari satu kemungkinan.
Langkah-langkah sederhana ini tidak dimaksudkan untuk menghilangkan stres sepenuhnya. Psikolog klinis Michael Wetter, PsyD, menjelaskan bahwa tindakan tersebut dapat membantu menciptakan ruang bagi seseorang untuk berpikir lebih jernih dan merespons situasi dengan lebih sadar, bukan hanya bereaksi secara otomatis. Jika kecemasan muncul sesekali, memperlambat gerakan atau mengalihkan perhatian pada fakta dapat menjadi cara yang efektif untuk memberikan jeda. Namun, jika kecemasan terus berulang atau mulai mengganggu aktivitas sehari-hari, penting untuk mencari bantuan profesional.