Lifestyle

Mengapa Beberapa Orang Menghindari Kontak Mata saat Berbicara

Mengalihkan pandangan saat berbicara tidak selalu mencerminkan rasa malu. Banyak orang melakukannya untuk mengurangi ketidaknyamanan dan kecemasan saat berinteraksi.

M
Muhammad Rizki Ramadhan
12 August 2026 52 pembaca
Mengapa Beberapa Orang Menghindari Kontak Mata saat Berbicara
Sumber gambar: lifestyle.kompas.com

Memalingkan pandangan saat berkomunikasi dengan orang lain tidak selalu berarti seseorang merasa malu atau kurang percaya diri. Bagi sebagian individu, menghindari kontak mata bisa menjadi cara untuk mengurangi rasa tidak nyaman, mempertahankan fokus, atau mengatasi kecemasan yang muncul dalam interaksi sosial. Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Comprehensive Psychiatry pada tahun 2011 menunjukkan bahwa ada alasan psikologis yang lebih rumit di balik kebiasaan ini.

Kontak Mata dan Kecemasan

Bagi sebagian orang, menatap langsung mata lawan bicara dapat menimbulkan perasaan seolah-olah mereka sedang dinilai, sehingga percakapan yang seharusnya biasa menjadi terasa menegangkan. Penelitian tersebut menemukan bahwa individu dengan gangguan kecemasan sosial cenderung merasa lebih takut dan lebih sering menghindari kontak mata dibandingkan dengan mereka yang tidak mengalami kondisi tersebut. Beberapa peserta bahkan mengungkapkan ketidaknyamanan saat harus melakukan kontak mata, serta kebingungan mengenai durasi tatapan yang dianggap wajar dalam situasi sosial.

Lebih dari Sekadar Pemalu

Temuan ini menunjukkan bahwa keengganan untuk melakukan kontak mata tidak selalu berkaitan dengan kepribadian pemalu. Di kalangan mahasiswa, semakin tinggi kecemasan mereka terhadap tatapan mata, semakin besar pula tingkat kecemasan sosial yang mereka alami. Pola yang sama juga terlihat pada pasien dengan gangguan kecemasan sosial umum, di mana ketakutan terhadap kontak mata berkaitan erat dengan tingkat keparahan gangguan tersebut. Bahkan, kecemasan terhadap tatapan mata terbukti memiliki hubungan yang lebih kuat dengan kecemasan sosial dibandingkan dengan depresi, menunjukkan bahwa perilaku ini bisa menjadi indikator yang lebih spesifik untuk mengenali kecemasan sosial.

Meskipun demikian, menghindari tatapan mata dapat memengaruhi penilaian orang lain terhadap seseorang saat berbicara. "Baik karena malu, gugup, atau sekadar canggung, menghindari kontak mata secara tidak sengaja bisa memberi kesan tidak tertarik, tidak percaya diri, bahkan tidak jujur," jelas seorang terapis. "Ketika mata Anda terus berpindah, entah melihat ke lantai, langit-langit, atau ke arah lain selain lawan bicara, itu memberi kesan bahwa Anda sedang teralihkan atau merasa cemas."

Strategi Mengurangi Kecemasan

Dalam penelitian tersebut, para peneliti mengevaluasi kembali pasien dengan gangguan kecemasan sosial setelah mereka menjalani pengobatan selama 8 hingga 12 minggu menggunakan paroxetine, obat yang telah disetujui untuk mengatasi gangguan kecemasan sosial. Hasilnya menunjukkan bahwa rasa takut dan kecenderungan untuk menghindari kontak mata pada pasien mengalami penurunan signifikan, seiring dengan perbaikan gejala kecemasan sosial secara keseluruhan. Temuan ini menunjukkan bahwa ketakutan terhadap kontak mata dapat berkurang seiring dengan penanganan kecemasan sosial yang tepat. Selain pengobatan medis, membiasakan diri untuk melakukan kontak mata secara bertahap juga dapat membantu individu merasa lebih nyaman saat berinteraksi.

Menurut panduan dari ahli, saat berbicara empat mata, arahkan pandangan ke area antara atau sedikit di atas kedua mata lawan bicara. Jika menatap langsung terasa canggung, cobalah untuk melonggarkan fokus tanpa harus terpaku pada mata mereka. Mengalihkan pandangan sesekali juga merupakan hal yang wajar dalam percakapan. Menatap terlalu intens justru dapat membuat lawan bicara merasa tidak nyaman, sehingga kontak mata sebaiknya dilakukan dengan cara yang alami dan tidak berlebihan.

Artikel Terkait