Kontak mata memainkan peran vital dalam komunikasi sehari-hari. Saat berinteraksi dengan orang lain, tatapan mata dapat mencerminkan perhatian, keterlibatan, dan keinginan untuk mendengarkan. Namun, intensitas dan frekuensi tatapan yang tidak tepat justru bisa mengakibatkan ketidaknyamanan bagi lawan bicara. Menurut informasi dari Verywell Mind, kemampuan melakukan kontak mata adalah keterampilan sosial yang penting untuk membangun kepercayaan dan hubungan yang baik. Sebaliknya, beberapa kebiasaan yang buruk dalam kontak mata dapat memberikan kesan negatif, seperti ketidakpedulian atau kecemasan.
1. Menghindari Kontak Mata Sepenuhnya
Salah satu perilaku yang bisa menimbulkan kesalahpahaman adalah menghindari kontak mata sama sekali. "Baik karena malu, gugup, atau sekadar merasa canggung, menghindari kontak mata secara tidak sengaja dapat menandakan ketidakminatan, rasa tidak aman, atau bahkan ketidakjujuran," jelas terapis April Crowe, LCSW. Bagi individu yang mengalami kecemasan sosial, melakukan kontak mata bisa terasa menakutkan. Namun, bagi lawan bicara, mengalihkan pandangan dapat diartikan sebagai ketidakpedulian terhadap percakapan yang berlangsung.
2. Menatap Terlalu Lama dan Intens
Selain menghindari kontak mata, menatap seseorang terlalu lama juga dapat menciptakan ketidaknyamanan. Psikolog sosial dan terapis kesehatan mental Sophia Spencer menyatakan bahwa manusia biasanya mengharapkan adanya jeda dalam tatapan. Ketika seseorang terus menatap tanpa henti, lawan bicara dapat mulai meragukan maksud dari tatapan tersebut. Tatapan yang terlalu intens dapat terasa mengintimidasi, terutama jika ekspresi wajah tampak tegang. Oleh karena itu, melakukan kontak mata yang baik tidak harus dilakukan secara terus-menerus; sesekali mengalihkan pandangan dapat membuat percakapan terasa lebih alami.
3. Mengalihkan Pandangan ke Bagian Tubuh Lain
Ketika merasa tidak nyaman dengan kontak mata, seseorang mungkin tanpa sadar mengalihkan pandangan ke bagian tubuh lain, seperti dahi atau tangan lawan bicara. Kebiasaan ini dapat menimbulkan kesan bahwa kita tidak benar-benar memperhatikan orang tersebut. Dalam situasi tertentu, lawan bicara bisa merasa tidak nyaman karena mengira bagian tubuhnya sedang diperhatikan. Untuk menciptakan interaksi yang lebih nyaman, sebaiknya perhatian diarahkan ke area wajah secara keseluruhan, bukan hanya pada satu bagian tubuh.
4. Mata Terus Bergerak ke Berbagai Arah
Satu lagi kebiasaan yang dapat mengganggu komunikasi adalah gerakan mata yang terus berpindah. Misalnya, saat berbicara dengan seseorang, mata justru terus melihat ke lantai, langit-langit, ponsel, atau objek lain di sekitar. Menurut April Crowe, kebiasaan ini dapat memberikan kesan bahwa seseorang sedang terdistraksi atau merasa cemas. Meskipun orang tersebut mungkin hanya gugup, bagi lawan bicara, gerakan mata yang tidak stabil dapat membuat percakapan terasa kurang nyaman.
5. Hanya Menatap Satu Orang dalam Percakapan Kelompok
Ketika berbicara dalam kelompok, penting untuk tidak hanya mengarahkan pandangan kepada satu orang. Jika hal ini dilakukan terus-menerus, orang yang menjadi fokus perhatian bisa merasa tidak nyaman, sementara peserta lainnya mungkin merasa diabaikan. Sebaiknya, pandangan dibagi secara merata kepada semua orang yang terlibat dalam pembicaraan. Dengan cara ini, semua orang akan merasa dilibatkan dalam percakapan.
Kontak mata merupakan bentuk komunikasi nonverbal yang dapat menyampaikan berbagai emosi, termasuk ketertarikan dan kepedulian. Namun, penting untuk melakukannya dengan seimbang. Terlalu sedikit kontak mata dapat memberi kesan ketidakpedulian, sedangkan terlalu banyak dapat membuat orang lain merasa terintimidasi.