Teknologi

Insiden Peretasan Kereta Cepat di Taiwan: Mahasiswa Gunakan Radio Rakitan

Sebuah insiden di Taiwan menunjukkan betapa rentannya sistem transportasi modern ketika seorang mahasiswa berhasil menghentikan kereta cepat hanya dengan menggunakan pemancar radio rakitan. Kejadian i...

L
Luthfi Zaki Maulana
11 May 2026 11 pembaca
Insiden Peretasan Kereta Cepat di Taiwan: Mahasiswa Gunakan Radio Rakitan
Taiwan High Speed Rail. Foto: (Kurnia/detikTravel)

Jakarta - Apa yang terjadi ketika sistem transportasi canggih seperti kereta cepat dapat dihentikan hanya dengan alat radio sederhana? Hal ini baru saja terjadi di Taiwan, di mana seorang mahasiswa mampu menghentikan beberapa kereta peluru berkecepatan tinggi hanya dengan memanfaatkan pemancar radio rakitan. Pihak Taiwan High Speed Rail (THSR) mengonfirmasi bahwa insiden ini berlangsung pada 5 April lalu, menyebabkan penghentian operasional selama 48 menit yang berdampak pada jadwal perjalanan tiga hingga empat rangkaian kereta cepat.

Kekacauan tersebut dimulai ketika muncul sinyal General Alarm palsu yang memicu protokol tanggap darurat pada sistem kereta, yang mengharuskan masinis untuk menghentikan kereta secara manual.

Modus Peretasan dengan Sinyal Radio

Sinyal darurat seperti itu seharusnya hanya dapat diaktifkan oleh staf stasiun menggunakan peralatan komunikasi yang khusus. Namun, dalam kasus ini, alarm tersebut ternyata dikirim oleh seorang mahasiswa berusia 23 tahun yang bernama Lin. Menurut laporan penyelidikan, berikut adalah langkah-langkah yang diambil Lin untuk meretas sistem komunikasi kereta cepat tersebut:

1. Membeli Perangkat Ilegal: Lin memperoleh peralatan Software-Defined Radio (SDR) secara daring.

2. Mendekode Parameter: Ia menganalisis sinyal THSR, mengunduh datanya ke komputer, dan berhasil memecahkan kode parameter komunikasi TETRA (Terrestrial Trunked Radio).

3. Kloning Sinyal: Lin kemudian memprogram kode-kode tersebut ke dalam radio genggam miliknya agar sistem mengira bahwa sinyal tersebut berasal dari stasiun yang sah.

4. Serangan Jarak Jauh: Sinyal alarm palsu itu ia kirim dari kediamannya di Taichung menuju pusat kendali THSR yang terletak jauh di Taoyuan. Polisi menyebutkan bahwa Lin dibantu oleh seorang rekannya yang berusia 21 tahun untuk mendapatkan beberapa parameter rahasia THSR.

Investigasi dan Penangkapan Pelaku

Setelah insiden tersebut, pihak THSR segera memeriksa seluruh peralatan mereka. Karena tidak ada satu pun radio resmi yang dicuri atau disalahgunakan, penyidik menyimpulkan bahwa pelaku melakukan kloning sinyal. Setelah meninjau rekaman CCTV dan log jaringan TETRA, polisi menggerebek rumah dan tempat kerja Lin pada 28 April. Dari tangan pelaku, pihak berwenang menyita sejumlah barang bukti penting, termasuk:

- Sebuah laptop dan beberapa unit smartphone.

- Satu perangkat pemancar SDR.

- Antara 7 hingga 11 unit radio genggam.

Menariknya, penyidik juga menemukan bahwa Lin tidak hanya menyadap frekuensi kereta THSR, tetapi juga memiliki akses ke frekuensi radio milik Pemadam Kebakaran New Taipei City dan MRT Jalur Bandara Internasional Taoyuan.

Evaluasi Keamanan dan Ancaman Hukum

Kasus ini memicu alarm kewaspadaan di tingkat nasional. Kementerian Transportasi dan Komunikasi Taiwan segera memerintahkan peninjauan ulang terhadap seluruh sistem keamanan komunikasi kereta api. Para anggota parlemen juga menyoroti lemahnya prosedur pemeliharaan dan pembaruan sistem keamanan, mengingat jaringan radio tersebut sudah beroperasi selama 19 tahun tanpa pembaruan yang berarti, sehingga mudah ditembus oleh seorang mahasiswa.

Saat ini, Lin telah dibebaskan dengan jaminan sebesar NTD 100.000 (sekitar Rp 49 juta). Melalui pengacaranya, Lin berargumen bahwa transmisi sinyal darurat pada 5 April tersebut adalah sebuah "ketidaksengajaan". Namun, pihak jaksa penuntut tampaknya tidak menerima alasan tersebut. Jika terbukti bersalah, Lin menghadapi ancaman hukuman penjara yang serius atas tuduhan membahayakan transportasi umum dan melakukan gangguan frekuensi radio secara ilegal.

Artikel Terkait