Teknologi

Iran Mengklaim Serangan Rudal ke Pusat Data Amazon di Bahrain

Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengklaim telah meluncurkan rudal yang menargetkan infrastruktur pusat data Amazon di Bahrain, menandai peningkatan ketegangan antara Iran dan AS. Namun, belum ada kon...

K
Kartika Sari Dewi
26 July 2026 4 pembaca
Bangunan di Bahrain yang rusak akibat serangan drone Iran. Foto: REUTERS/Stringer
Bangunan di Bahrain yang rusak akibat serangan drone Iran. Foto: REUTERS/Stringer

Jakarta - Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengklaim telah meluncurkan beberapa rudal jelajah yang ditujukan untuk menghancurkan infrastruktur pusat data Amazon di Bahrain. Serangan ini menjadi bagian dari eskalasi terbaru dalam ketegangan yang meningkat antara Teheran dan Washington. Meskipun demikian, hingga saat ini, belum ada konfirmasi resmi dari Amazon, pemerintah Amerika Serikat, maupun pejabat Bahrain mengenai kebenaran klaim tersebut.

Detail Serangan dan Target

IRGC menyebut bahwa fasilitas yang menjadi sasaran adalah infrastruktur pusat data Amazon yang terletak di Bahrain. Media pemerintah Iran melaporkan berita ini pada Selasa (21/7), dan menambahkan bahwa sistem pertahanan udara serta instalasi radar milik AS di kawasan Muharraq dan Riffa juga menjadi target serangan tersebut.

Respons Iran terhadap Serangan AS

Pemerintah Iran mengklaim bahwa serangan ini merupakan balasan atas serangan yang dilakukan oleh Amerika Serikat terhadap pembangkit listrik tenaga nuklir Darkhovin yang masih dalam tahap pembangunan di barat daya Iran. Sejak awal bulan ini, pasukan AS telah melancarkan serangan rutin di berbagai lokasi di Iran, sementara Teheran merespons dengan menyerang fasilitas militer dan situs yang terkait dengan AS di kawasan Teluk.

Saat ini, belum ada bukti independen yang mendukung klaim dari IRGC. Pihak Amazon memilih untuk tidak memberikan komentar ketika dihubungi oleh wartawan, dan pejabat di Bahrain serta AS juga belum memberikan tanggapan.

Pemantauan terhadap dasbor kesehatan publik Amazon Web Services (AWS) menunjukkan bahwa wilayah Timur Tengah, khususnya Bahrain yang dikenal dengan kode me-south-1, saat ini tidak tersedia. Namun, hal ini tidak dapat dijadikan bukti bahwa serangan pada hari Selasa tersebut benar-benar terjadi, mengingat wilayah itu telah berstatus offline selama beberapa bulan akibat serangan sebelumnya yang terkait dengan konflik ini. Pembaruan terakhir dari AWS mengenai situasi tersebut diunggah pada 30 April lalu.

Sebelumnya, Iran telah menegaskan bahwa perusahaan-perusahaan teknologi asal Amerika Serikat dianggap sebagai target potensial dalam konflik ini. Pada bulan April, laporan mencatat bahwa IRGC sempat mengancam sejumlah perusahaan teknologi AS yang dituduh mendukung operasi militer terhadap Iran, dan para karyawan diimbau untuk segera mengevakuasi tempat kerja mereka. Beberapa perusahaan yang masuk dalam daftar ancaman tersebut termasuk Nvidia, Microsoft, Intel, Apple, Google, Meta, dan Oracle.

Beberapa hari setelahnya, Iran juga mengancam akan menyerang pusat data AI Stargate di Uni Emirat Arab yang bernilai 30 miliar dolar AS di Abu Dhabi, yang diketahui mendapat dukungan dari OpenAI, Oracle, Nvidia, Cisco, G42, dan SoftBank.

Artikel Terkait