Teknologi

Upaya Memperkuat Perlindungan Remaja di Era Digital Melalui PP Tunas

Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Perlindungan Anak (PP TUNAS) memberikan dorongan baru untuk menciptakan lingkungan digital yang ama...

M
Mikayla Rahmadani
02 July 2026 69 pembaca
Foto: Meta
Foto: Meta

Jakarta - Isu mengenai perlindungan anak dan remaja dalam dunia digital terus menjadi fokus perhatian di Indonesia. Dengan hadirnya Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Perlindungan Anak (PP TUNAS), semakin ditekankan pentingnya menciptakan ekosistem digital yang aman dan sehat bagi para pengguna muda. Namun, untuk mewujudkan ruang digital yang lebih aman, diperlukan kerjasama dari berbagai pihak, termasuk platform digital, pemerintah, sekolah, komunitas, dan keluarga.

Seiring dengan perkembangan regulasi ini, berbagai platform digital juga berupaya memperkuat fitur perlindungan bagi pengguna remaja. Salah satu langkah yang diambil oleh Meta adalah dengan mengembangkan berbagai fitur keamanan yang dirancang khusus untuk memberikan pengalaman digital yang lebih sesuai untuk remaja serta memberikan rasa tenang bagi orang tua.

Contoh Kepatuhan dari Meta

Menteri Komunikasi dan Digital RI, Meutya Hafid, mengungkapkan bahwa kepatuhan Meta menjadi contoh nyata dalam penguatan keamanan anak di ruang digital. "Hari ini kami memberikan apresiasi kepada Meta yang menaungi Instagram, Facebook, dan Threads karena telah menyelaraskan fitur dan layanan mereka dengan hukum di Indonesia," ujar Meutya, seperti yang dilaporkan oleh laman resmi Komdigi.

Meta telah menetapkan batas usia minimum 16 tahun di seluruh platformnya dan menyesuaikan kebijakan komunitas. Kepatuhan ini telah disampaikan secara resmi melalui perwakilan hukum serta pimpinan kebijakan publik regional Asia Pasifik. "Kepatuhan tersebut sudah kami verifikasi. Ini menunjukkan bahwa penyesuaian bukan persoalan teknis, tetapi soal komitmen platform untuk melindungi anak dan menghormati hukum nasional," tegas Meutya.

Fitur Perlindungan untuk Remaja

Melalui fitur Teen Accounts (Akun Remaja) di Instagram, Meta memperkenalkan serangkaian perlindungan yang diaktifkan secara otomatis untuk pengguna remaja. Salah satu fitur ini adalah pengaturan akun privat secara default, sehingga hanya orang-orang tertentu yang dapat melihat unggahan dan berinteraksi dengan akun remaja tersebut.

Meta juga menerapkan kontrol pesan yang lebih ketat, di mana remaja hanya dapat menerima pesan dari akun yang sudah mereka ikuti atau pernah terhubung sebelumnya. Langkah ini bertujuan untuk mengurangi risiko interaksi yang tidak diinginkan dari orang asing. Selain itu, pengaturan Sensitive Content Control secara otomatis diatur pada tingkat perlindungan tertinggi, membantu mengurangi paparan terhadap konten yang berpotensi sensitif atau tidak sesuai usia di fitur rekomendasi seperti Explore dan Reels.

Esther Samboh, juru bicara Meta, menekankan bahwa pihaknya ingin remaja dapat menikmati kebebasan berkreasi dan mencari inspirasi di Instagram tanpa risiko terpapar konten yang belum sesuai dengan usianya. "Dengan mengaktifkan Sensitive Content Control pada tingkat paling ketat secara otomatis, kami menciptakan jaring pengaman agar pengalaman eksplorasi mereka tetap positif dan aman," kata Esther.

Selain itu, perlindungan lain mencakup pembatasan interaksi, di mana hanya akun yang diikuti remaja yang dapat menandai atau menyebut mereka. Fitur anti-perundungan, termasuk Hidden Words, juga diaktifkan secara otomatis.

Mendukung Kesejahteraan Digital Remaja

Teen Accounts juga dilengkapi dengan fitur yang mendukung kesejahteraan digital. Pengguna remaja akan menerima pengingat setelah menggunakan Instagram atau Threads selama 60 menit dalam sehari. Selain itu, fitur Sleep Mode akan aktif secara otomatis mulai pukul 22.00 hingga 07.00 waktu setempat, di mana notifikasi akan dibisukan dan pesan langsung akan mendapatkan balasan otomatis.

Bagi pengguna di bawah usia 16 tahun, beberapa fitur memerlukan persetujuan orang tua, seperti melakukan siaran langsung di Instagram, menonaktifkan perlindungan terhadap gambar bernuansa nudity di Direct Message, serta mengubah beberapa pengaturan keamanan bawaan.

Walaupun berbagai fitur keamanan yang dihadirkan oleh platform digital dapat membantu mengurangi risiko yang dihadapi remaja di dunia online, peran orang tua tetap sangat penting. Penelitian menunjukkan bahwa komunikasi yang terbuka dan berkelanjutan antara orang tua dan anak merupakan faktor kunci dalam membangun kebiasaan digital yang sehat. Pendampingan dari orang tua dapat membantu remaja mengembangkan kemampuan berpikir kritis, memahami risiko di internet, dan mencari dukungan ketika menghadapi tantangan di dunia digital.

Oleh karena itu, keamanan digital sebaiknya dilihat sebagai tanggung jawab bersama. Platform digital menyediakan perlindungan berbasis teknologi, sementara orang tua, sekolah, dan komunitas memiliki peran penting dalam mendampingi remaja agar dapat memahami dan menjalani pengalaman digital dengan cara yang sehat dan bertanggung jawab.

Untuk mendukung peran tersebut, Meta juga meluncurkan Family Center, sebuah pusat informasi yang menyediakan berbagai sumber daya bagi orang tua, mulai dari informasi mengenai Teen Accounts, fitur pengawasan, panduan percakapan keluarga, hingga materi seputar kesejahteraan digital. Family Center dirancang bukan hanya sebagai alat pemantauan, tetapi juga sebagai sarana untuk membantu orang tua dan remaja membangun komunikasi yang lebih terbuka mengenai pengalaman mereka di dunia digital.

"Meta terus mengembangkan kebijakannya terkait konten yang berpotensi lebih sensitif bagi remaja. Ini merupakan langkah penting untuk menjadikan media sosial sebagai ruang di mana remaja dapat terhubung dan berekspresi dengan cara yang sesuai dengan tahap perkembangan mereka," ujar Dr. Rachel Rodgers, Associate Professor Department of Applied Psychology Northeastern University. "Perubahan ini juga menjadi kesempatan baik bagi orang tua untuk berdiskusi dengan anak mengenai cara menyikapi berbagai topik yang menantang di dunia digital," tambahnya.

Pada akhirnya, menciptakan pengalaman digital yang lebih aman untuk remaja memerlukan sinergi dari semua pihak. Ketika perlindungan teknologi diimbangi dengan pendampingan dan komunikasi yang baik di rumah, remaja akan lebih siap untuk tumbuh dan berkembang dengan sehat di era digital.

Artikel Terkait