Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengungkapkan bahwa Presiden China, Xi Jinping, sepakat dengan keputusan untuk mengganti istilah artificial intelligence atau kecerdasan buatan (AI) menjadi 'super intelligence'. Pengakuan ini disampaikan Trump setelah pertemuan dan makan malam yang dihadiri oleh para tokoh besar di industri teknologi bersama Xi Jinping.
Melalui platform media sosialnya, Truth Social, Trump menuliskan, "Hal-hal luar biasa akan terjadi. Seperti hampir semua orang lainnya, dia tampaknya lebih suka menyebut apa yang selama ini diberi nama yang buruk dan tidak akurat Artificial Intelligence dengan sebutan yang jauh lebih akurat dan penting: SUPER INTELLIGENCE. Itu akan menjadi sesuatu yang 'SUPER!' Semua orang tadi malam juga sepakat."
Pertemuan di Gedung Putih
Menurut laporan dari The Hill, pada hari Kamis, Xi Jinping membahas masalah kecerdasan buatan secara terbuka di Gedung Putih. Namun, yang menarik, ia tidak menggunakan istilah 'super intelligence' dalam pembicaraannya. Xi mengemukakan, "Kita memiliki kemampuan sekaligus tanggung jawab untuk mengembangkan dan mengelola AI demi kebaikan, serta memastikan bahwa pengembangan AI senantiasa berada di bawah kendali manusia dan bermanfaat bagi kesejahteraan masyarakat."
Definisi dan Implikasi 'Super Intelligence'
Istilah 'super intelligence' merujuk pada bentuk kecerdasan buatan yang melebihi kecerdasan manusia. Konsep ini menjadi tujuan utama bagi banyak perusahaan yang bergerak di bidang AI, sekaligus menimbulkan kekhawatiran bagi pihak-pihak yang memperingatkan tentang potensi ancaman yang ditimbulkannya terhadap umat manusia. Trump sebelumnya mengumumkan dalam Sidang Majelis Umum PBB bahwa istilah baru ini akan digunakan sebagai pengganti istilah kecerdasan buatan dalam dokumen resmi AS.
Sejak pengumuman tersebut, Departemen Luar Negeri AS telah memberikan instruksi kepada para diplomatnya untuk mulai menggunakan istilah 'super intelligence' dalam komunikasi mereka di masa mendatang.