KOMPAS.com – Seorang perempuan terlihat mengoleskan lipstik di depan cermin sebelum berangkat ke tempat kerja. Di toko kosmetik, perempuan lain membandingkan dua produk skincare sebelum memutuskan mana yang akan dibeli. Meskipun tampak biasa, alasan di balik keputusan untuk membeli produk kecantikan atau pakaian telah mengalami perubahan signifikan. Jika sebelumnya berdandan sering kali diasosiasikan dengan usaha untuk menarik perhatian pasangan atau memenuhi ekspektasi masyarakat, kini semakin banyak perempuan yang menganggapnya sebagai bentuk perhatian terhadap diri sendiri.
Makeup, skincare, dan pakaian tidak lagi sekadar simbol untuk menyenangkan orang lain, melainkan merupakan cara untuk membangun rasa percaya diri dan menghargai diri di tengah berbagai tuntutan kehidupan. Perubahan perspektif ini terlihat dari pengalaman perempuan dari berbagai generasi yang memiliki pandangan berbeda, tetapi menuju kesimpulan yang sama: berdandan kini lebih banyak dilakukan untuk diri sendiri.
Membeli Berdasarkan Kebutuhan Diri Sendiri
Bagi Ratri (24), seorang karyawan swasta dari generasi Z, keputusan untuk membeli produk kecantikan kini lebih didasarkan pada kebutuhan daripada keinginan. Ia mengaku lebih berhati-hati dalam mengatur pengeluaran, terutama di tengah kondisi ekonomi yang membuat banyak orang lebih selektif saat berbelanja. "Sekarang aku memenuhi kebutuhan 70 persen daripada menuruti keinginan. Paling keinginan hanya 30 persen. Belanja makeup atau skincare karena diriku sudah butuh, bukan asal kepengin," jelas Ratri saat diwawancarai.
Ratri menegaskan bahwa produk yang dibeli bukan untuk menarik perhatian orang lain. Ia memilih skincare dan fashion berdasarkan kebutuhan pribadi, bukan untuk memenuhi standar tertentu. "Aku membeli produk untuk diri aku sendiri, tidak untuk menarik perhatian orang lain, karena skincare atau produk fashion yang aku beli memang apa yang aku butuhkan," ujarnya. Meskipun masih ada perempuan yang berdandan untuk memikat pasangan, ia berpendapat bahwa alasan tersebut tidak lagi menjadi motivasi utama. "Sebagian perempuan masih ada yang berdandan untuk memikat pasangan, tapi memang enggak jadi motivasi utama. Menurutku, adanya konsep self-love menggeser pemahaman itu untuk tidak memenuhi ekspektasi orang lain,” tambahnya.
Kebutuhan dan Komentar Keluarga
Pandangan serupa juga diungkapkan oleh Wira (33), seorang karyawan swasta dari generasi Milenial. Ia menyatakan bahwa membeli makeup, skincare, atau pakaian selalu berangkat dari kebutuhan. "Alasan aku beli skincare, makeup, dan pakaian utamanya soal kebutuhan. Misalnya kalau makeup, aku butuh blush on buat kondangan, baru aku beli." Namun, kondisi ekonomi membuat pertimbangannya semakin realistis.
Wira mengaku masih sering mendapatkan komentar dari keluarganya mengenai penampilannya. "Keluargaku termasuk yang suka komentar, 'Kok bajunya ini terus?', 'Kok item-item?', 'Mendingan pake baju yang lain deh'. Itu aku bisa langsung ganti baju meskipun udah siap pergi." Namun, perkembangan media sosial justru membawanya kepada banyak perempuan yang berani mengekspresikan diri tanpa harus mengikuti ekspektasi orang lain. "Seiring dengan perkembangan media sosial dan internet, aku ngerasa lebih banyak contoh orang-orang yang berani untuk berdandan buat diri mereka sendiri dan menginspirasi orang lain untuk melakukan hal sama,” ungkap Wira.
Menurut Wira, makna self-care jauh lebih luas daripada sekadar membeli produk kecantikan. "Self-care lebih dari sekadar belanja produk kecantikan dan fashion. Dalam proses itu, self-care bisa jadi cara untuk mengenali diri kita sendiri, belajar percaya sama diri sendiri, dan belajar ngomong yang baik ke diri sendiri."
Kesadaran Diri yang Meningkat
Perubahan ini juga dirasakan oleh Anastasia (59), seorang ibu rumah tangga dari generasi X. Ia mengakui bahwa pada masa lalu, berdandan dan membeli pakaian dilakukan untuk menyenangkan suami. "Dulu sempat mikir kalau dandan dan belanja pakaian itu untuk menyenangkan suami. Tapi lama-lama berubah, karena yang disukai suami belum tentu saya suka,” tuturnya. Seiring waktu, ia mulai menyadari bahwa rasa percaya diri justru muncul ketika dirinya merasa nyaman dengan pilihan sendiri. "Akhirnya saya mengutamakan keinginan diri sendiri supaya tampil lebih percaya diri. Kalau merasa dirinya cantik, pasti orang-orang di sekeliling kita juga akan merasakannya,” katanya.
Kesadaran ini membuat Anastasia tidak lagi menjadikan pendapat orang lain sebagai penentu utama saat membeli produk perawatan kulit maupun pakaian. Memasuki usia yang semakin matang, motivasinya dalam membeli produk kecantikan maupun fashion semakin jelas. "Seiring bertambahnya usia, saya mulai lebih peduli sama kesehatan kulit dan penampilan, karena permasalahannya juga lebih kompleks. Jadi perawatan kulit atau fashion juga saya lakukan untuk diri saya sendiri,” tandasnya.
Perubahan Paradigma dalam Berdandan
Ade Kusuma, seorang dosen Ilmu Komunikasi, menjelaskan bahwa perubahan motivasi perempuan tidak muncul begitu saja. Selama bertahun-tahun, perempuan dibentuk oleh berbagai konstruksi sosial mengenai bagaimana seharusnya mereka bersikap dan berpenampilan. "Perempuan Indonesia itu sering banget dikonstruksikan sama banyak mitos. Satunya mitos kecantikan dan mitos penciptaan,” jelas Ade. Menurutnya, mitos tersebut menempatkan perempuan sebagai pihak yang harus melayani laki-laki sekaligus menjaga penampilan demi menarik perhatian mereka.
Ade menilai bahwa konstruksi tersebut tidak lepas dari kuatnya budaya patriarki yang ada di Indonesia. Hal ini membuat persepsi masyarakat terhadap perempuan masih ditempatkan di posisi nomor dua setelah laki-laki. Namun, ia melihat perubahan mulai terjadi seiring dengan meningkatnya edukasi mengenai kesetaraan gender dan representasi perempuan di media massa. "Pergeseran cara pandang ini terjadi karena adanya edukasi kesetaraan gender baik dari media sosial maupun iklan di media massa. Selain itu, tuntutan profesional juga membuat perempuan berdandan untuk membentuk citra dirinya,” ujarnya.
Dr. Esther Widhi Andangsari, seorang psikolog, menambahkan bahwa perubahan motivasi perempuan juga dipengaruhi oleh bergesernya cara pandang terhadap kehidupan dan pernikahan. Ia menjelaskan bahwa perempuan masa kini tidak lagi memandang pernikahan sebagai satu-satunya tujuan hidup. "Perempuan atau wanita yang belum menikah itu punya kondisi psikologis yang lebih baik dibandingkan perempuan yang sudah menikah. Adanya pandangan bahwa pernikahan bukan akhir dari kehidupan para perempuan muda,” kata Esther.
Oleh karena itu, makna lipstick effect pun ikut bergeser. Jika dahulu kosmetik atau produk kecantikan identik dengan upaya menarik perhatian laki-laki, kini banyak perempuan memaknainya sebagai bentuk perhatian terhadap kesejahteraan dirinya sendiri. "Sehingga lipstick effect yang tadinya untuk memikat pria, ya dikembalikan untuk well-being-nya si perempuan itu sendiri aja gitu,” tutupnya. Perubahan ini menunjukkan bahwa makna berdandan kini tidak lagi ditentukan oleh pandangan orang lain, melainkan sebagai bentuk penghargaan terhadap diri sendiri.
Bagi banyak perempuan, memilih lipstik, mengenakan pakaian favorit, atau merawat kulit kini menjadi cara sederhana untuk menyatakan bahwa diri mereka layak dirawat, dihargai, dan dicintai, terlepas dari siapa pun yang melihatnya.