Di sejumlah daerah yang tergolong Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (3T), akses internet tidak sekadar diperoleh dengan menyalakan ponsel. Sebelum adanya infrastruktur telekomunikasi, masyarakat harus melakukan berbagai usaha, mulai dari berjalan kaki, mengendarai sepeda motor, hingga memanjat pohon demi mendapatkan sinyal. Hal ini dirasakan oleh warga di Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), yang menghadapi tantangan komunikasi akibat kondisi geografis yang sulit dan rawan bencana.
Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Flores Timur, Silvester Suban Toa Kabelen, menceritakan bahwa sebelum adanya konektivitas, masyarakat dan aparatur pemerintah harus menempuh jarak yang cukup jauh untuk mendapatkan sinyal. "Masyarakat kami atau teman-teman di sekolah, bahkan fasilitas kesehatan, Puskesmas, Pustu, harus menjangkau berkilometer-kilometer jarak untuk mendapatkan tempat bersinyal sehingga bisa mengakses informasi, memberikan laporan, menyampaikan data," ungkapnya dalam acara Bakti Media Connect 2026 di Jakarta.
Perjuangan Mencari Sinyal
Usaha untuk mendapatkan sinyal terkadang dilakukan dengan cara yang unik. Ketika sinyal tidak dapat ditemukan di permukaan, warga akan mencari titik yang lebih tinggi agar telepon seluler dapat terhubung dengan jaringan yang dipancarkan dari infrastruktur telekomunikasi terdekat. "Kadang naik pohon karena di bawah tidak ada sinyal, jadi harus naik pohon," jelas Silvester.
Kondisi tanpa internet ini tidak hanya menyulitkan komunikasi sehari-hari, tetapi juga berdampak pada sektor pendidikan dan layanan kesehatan yang mulai beralih ke sistem digital. Sekolah menghadapi kesulitan dalam menjalankan aktivitas yang membutuhkan akses internet, sementara fasilitas kesehatan dan pemerintah daerah mengalami kendala dalam pengiriman laporan dan data.
Perubahan Setelah Infrastruktur Telepon Masuk
Situasi mulai berubah ketika infrastruktur telekomunikasi mulai dibangun di wilayah tersebut. Di Flores Timur, pembangunan enam BTS dan sekitar 262 akses internet di berbagai fasilitas pemerintahan, desa, sekolah, serta fasilitas kesehatan telah membuka akses komunikasi bagi masyarakat yang sebelumnya harus mencari sinyal di lokasi tertentu. Masuknya akses internet juga mengubah kebutuhan sekolah, yang kini memerlukan jaringan dengan kapasitas lebih besar untuk mendukung berbagai aktivitas digital.
Kepala SMAN 1 Titehena, Konradus Kudarto, menyatakan bahwa internet kini menjadi kebutuhan penting bagi sekolah, mulai dari administrasi hingga pelaksanaan asesmen. Namun, ketika banyak pengguna mengakses jaringan secara bersamaan, masalah kapasitas pun muncul. "Saya datang dengan harapan besar supaya ada peningkatan kapasitasnya. Sudah ada di lapangan, tapi ada sesuatu yang harus dibenahi supaya itu bisa dimaksimalkan," harapnya.
Di Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, masyarakat juga merasakan perubahan setelah konektivitas tersedia. Mereka kini dapat mengakses informasi harga komoditas pertanian yang sebelumnya sulit didapat. Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kominfo Kabupaten Parigi Moutong, Khairuddin, mengungkapkan bahwa akses ini membantu masyarakat memperoleh informasi dari tingkat provinsi hingga kecamatan.
Kepala Desa Baina Barat, Yuslan, menambahkan bahwa informasi harga memungkinkan petani untuk memiliki lebih banyak pilihan sebelum menjual hasil pertanian mereka. Dengan adanya akses internet, produk makanan dan hasil usaha masyarakat dapat dipromosikan melalui media sosial, membuka peluang untuk menjangkau pembeli dari luar desa.
Konektivitas yang awalnya hanya digunakan untuk mendapatkan sinyal kini berkembang menjadi akses terhadap informasi, layanan publik, pendidikan, dan peluang ekonomi. Pengalaman di Flores Timur dan Parigi Moutong menunjukkan bagaimana pembangunan infrastruktur telekomunikasi di wilayah 3T dapat mengatasi masalah konektivitas dan membuka peluang pemanfaatan internet.
Inisiatif Bakti untuk Meningkatkan Akses Internet
Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (Bakti) dari Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) berupaya mengembangkan infrastruktur untuk menjangkau wilayah yang sulit dijangkau oleh jaringan komersial. Direktur Utama Bakti Komdigi, Fadhilah Mathar, menjelaskan bahwa kehadiran Satelit Republik Indonesia (Satria-1) dengan kapasitas 150 Gbps memungkinkan pemerintah untuk menggabungkan jaringan terestrial dan nonterestrial guna mempercepat perluasan konektivitas.
Selain Satria-1, Bakti juga mengandalkan Palapa Ring sebagai tulang punggung jaringan serat optik di wilayah nonkomersial, yang membentang sekitar 12.148 kilometer dan melayani 131 titik Network Operation Center (NOC) di 57 kabupaten/kota di seluruh Indonesia. Melalui program Bakti Aksi, akses internet gratis telah direalisasikan di lebih dari 31.864 titik layanan publik, dengan pembangunan BTS 4G dan BTS Universal Service Obligation (USO) di 6.747 titik di wilayah 3T dan perbatasan.
"Bakti telah membangun akses internet di lebih dari 31.000 lokasi. Sekitar 68% berada di sektor pendidikan, kemudian sektor kesehatan sebesar 5,89% untuk mendukung e-government," ungkap Fadhilah.