Epidemiolog dari Griffith University, Dicky Budiman, mengingatkan masyarakat tentang risiko kesehatan yang ditimbulkan oleh paparan abu vulkanik serta memberikan panduan untuk membersihkan diri dan lingkungan dengan aman setelah terpapar. "Abu vulkanik memiliki karakteristik yang berbeda dari debu biasa karena mengandung silika yang mirip dengan pecahan kaca tajam dan dapat merusak organ tubuh yang terpapar, termasuk mata, hidung, mulut, dan kulit," jelas Dicky di Jakarta pada hari Minggu.
Dampak Paparan Abu Vulkanik
Menurut Dicky, paparan abu vulkanik dapat menyebabkan berbagai iritasi, seperti mata merah, nyeri, berair, dan sensitivitas terhadap cahaya, serta dapat berpotensi menyebabkan goresan atau cedera pada mata. Ia juga menambahkan bahwa abu ini bisa memicu konjungtivitis, yaitu peradangan pada lapisan mata yang mengakibatkan kemerahan, rasa terbakar, dan sensitivitas terhadap cahaya.
Selain itu, efek pada saluran pernapasan dapat berupa iritasi pada hidung dan tenggorokan, yang dapat menyebabkan gejala seperti pilek, batuk kering, dan dalam kasus paparan berat, dapat mengakibatkan sesak napas atau nyeri dada. Gejala ini bisa semakin parah bagi individu yang menderita asma atau bronkitis kronis, yang mungkin mengalami batuk berdahak dan kesulitan bernapas.
Langkah-langkah Aman Menghadapi Abu Vulkanik
Dicky merekomendasikan agar masyarakat menghindari aktivitas berat ketika kadar abu vulkanik tinggi, karena pernapasan yang cepat dapat menarik partikel abu ke dalam paru-paru. Ia juga mengingatkan bahwa abu vulkanik yang baru jatuh dapat mengandung lapisan asam yang dapat memperburuk iritasi pada paru-paru dan mata sebelum akhirnya hilang terbawa hujan.
Masyarakat disarankan untuk segera membersihkan abu menggunakan air, serta menghindari tindakan menggosok permukaan atau mengibaskan pakaian yang dapat menyebarkan partikel lebih jauh. Selain itu, menutup rapat jendela dan pintu rumah sangat dianjurkan untuk mencegah masuknya abu vulkanik. Pintu sebaiknya hanya dibuka jika sangat diperlukan, seperti saat harus keluar rumah, dan menutupi kulit yang terbuka dengan pakaian dapat mengurangi paparan.
Untuk melindungi paru-paru, penggunaan masker yang sesuai, seperti masker N95, yang menutupi hidung dan mulut, juga disarankan. "Karena ini adalah debu silika yang tajam, gunakan pelindung mata seperti kacamata goggle. Jika mata mengalami iritasi, segera bilas dengan air bersih," tambah Dicky. Ia juga mengingatkan agar individu yang mengalami sesak napas, nyeri dada, atau gangguan pada mata segera mencari pertolongan medis untuk meminimalkan dampak kesehatan akibat abu vulkanik.
"Tetap waspada, ikuti perkembangan informasi dari sumber resmi pemerintah, dan jangan panik, karena kepanikan justru bisa merugikan kita semua," tutup Dicky.
Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda terus mengalami erupsi, dengan aktivitas tertinggi yang dimulai pada Jumat malam (4/9) dan berlanjut hingga Minggu. Peningkatan aktivitas ini juga menimbulkan suara gemuruh dan dentuman yang terdengar hingga wilayah pesisir Banten dan Lampung. Abu vulkanik telah menyebar ke sejumlah daerah di Indonesia, termasuk kawasan Jabodetabek.