Taylor Swift saat ini dikenal sebagai salah satu musisi terkemuka di dunia. Namun, sebelum mencapai kesuksesan tersebut, ia mengakui pernah merasa bahwa kariernya sudah berakhir ketika usianya baru 22 tahun. Perasaan ini muncul saat ia menulis lagu "Nothing New" pada masa pembuatan album Red di tahun 2012. Dalam wawancara terbarunya, Swift mengenang saat-saat ketika ia merasa cemas kehilangan posisinya di industri musik seiring bertambahnya usia.
Pernyataan Mengenai "Nothing New"
Swift mengungkapkan bahwa saat menulis "Nothing New", ia sempat berpikir bahwa kariernya di dunia musik telah mencapai titik akhir. Ia mengingat, “Saya sudah habis masa kejayaannya, membosankan, dan semua orang sudah melupakan saya,” saat mengenang pemikirannya di usia 22 tahun. Menurutnya, perasaan itu merupakan kekhawatiran sesaat yang dituangkan ke dalam lagu. Ia merasa bahwa pikiran tersebut terlalu menyedihkan, sehingga "Nothing New" tidak dimasukkan ke dalam album Red yang dirilis pada tahun 2012. “Ini hanya pikiran sekilas saat berusia 22 tahun. Seperti, malam yang menyedihkan dengan sebotol anggur,” ujarnya. Lagu tersebut akhirnya dirilis hampir sepuluh tahun kemudian melalui album Red (Taylor’s Version) pada tahun 2021.
Perubahan Pandangan Seiring Waktu
Menariknya, saat merekam ulang lagu itu di usia 30 tahun, Swift menemukan makna yang berbeda. Ia menyadari bahwa lirik yang dulu dianggap sebagai kegelisahan seorang perempuan muda kini memiliki relevansi yang lebih dalam seiring bertambahnya usianya. “Ketika saya berusia sekitar 30 tahun dan merekam ulang lagu itu, saya berpikir, ‘Oh tidak, ini berhasil. Ini berhasil,’” kata Swift.
Lagu "Nothing New" menggambarkan kecemasan tentang perubahan dalam hidup dan karier. Lagu ini menceritakan ketakutan seseorang yang mulai merasa tidak menarik seiring bertambahnya usia. Bagi Swift, pengalaman ini terasa nyata ketika ia berusia 22 tahun. Ia merasakan perhatian besar dari publik terhadap kariernya, tetapi juga menghadapi ketakutan akan masa depan, membayangkan bagaimana industri musik memperlakukan perempuan seiring bertambahnya usia. Kekhawatiran ini kemudian dituangkan menjadi sebuah lagu yang baru ia pahami bertahun-tahun kemudian dari sudut pandang yang berbeda.
Melihat posisi Swift saat ini, kariernya justru terus berkembang alih-alih memudar seiring bertambahnya usia. Dalam wawancara yang sama, ia juga membahas tentang tekanan yang datang dengan ketenaran. Swift menjelaskan bahwa ia memiliki beberapa cara untuk menghadapi situasi ketika popularitas terasa berlebihan. Salah satu cara yang ia lakukan adalah mengingatkan diri sendiri bahwa menjadi musisi adalah pilihan yang ia buat. “Kamu yang memilih ini. Kamu memilih ini setiap hari,” ujarnya.
Swift menyadari bahwa ia selalu memiliki opsi untuk berhenti, terutama sebelum ketenaran menjadi sulit untuk dikendalikan. Namun, ia memilih untuk melanjutkan kariernya karena kecintaannya pada musik. “Segala sesuatu yang menyertainya pada akhirnya sepadan selama saya masih bisa membuat musik,” katanya.
Setelah dua dekade berkarier di industri musik, pandangan Swift tentang kesuksesan tampaknya telah berubah. Ia tidak lagi memandang penerimaan universal sebagai satu-satunya ukuran keberhasilan. Swift menyatakan bahwa ia menciptakan dan merilis musik untuk orang-orang yang peduli, menjadikan musik sebagai bagian dari cara mereka menjalani hidup. Baginya, tetap berkarya meski tidak semua orang menyukai atau memahami karya tersebut justru menunjukkan cinta sejatinya terhadap musik.
Kisah "Nothing New" menjadi pengingat bahwa kekhawatiran yang terasa begitu besar pada satu titik dalam hidup belum tentu menjadi kenyataan di masa depan. Di usia 22 tahun, Swift pernah merasa bahwa dirinya sudah "habis". Namun, 14 tahun kemudian, ia masih aktif di industri yang sama dan terus menciptakan musik untuk jutaan penggemarnya.