Jakarta - Penggunaan kecerdasan buatan (AI) di sektor publik semakin meningkat, mencakup berbagai instansi pemerintahan dan lembaga pendidikan. Teknologi ini dimanfaatkan untuk berbagai fungsi penting, seperti menentukan kelayakan penerima bantuan dan mendeteksi penipuan. Namun, adopsi yang cepat ini menyimpan potensi masalah yang serius. Menurut laporan terbaru dari Nutanix melalui survei tahunan Enterprise Cloud Index (ECI) edisi kedelapan untuk sektor publik, banyak organisasi masih menghadapi kendala terkait kesiapan infrastruktur dan tata kelola, yang berpotensi memicu fenomena shadow AI.
Infrastruktur yang Tertinggal dan Ancaman Keamanan
Dalam upaya meningkatkan kualitas layanan publik dan melindungi data sensitif masyarakat, para pemimpin TI di sektor publik menghadapi tantangan yang signifikan. Adanya sekat-sekat informasi di dalam organisasi sering kali membuat penggunaan AI tidak terpantau, sehingga memunculkan risiko shadow AI, yaitu penggunaan sistem AI tanpa adanya persetujuan atau pengawasan resmi dari departemen TI.
Laporan ECI dari Nutanix mengungkapkan beberapa temuan yang mengkhawatirkan dalam sektor ini. Sebanyak 91 persen pemimpin TI di instansi pemerintahan dan pendidikan sepakat bahwa penggunaan AI yang tidak terverifikasi dapat menimbulkan risiko serius terhadap misi dan keamanan organisasi. Selain itu, tercatat bahwa 73 persen infrastruktur TI di sektor publik saat ini dinilai belum siap untuk menangani beban kerja AI yang kompleks, terutama pada lingkungan sistem lokal.
Fondasi Infrastruktur yang Perlu Diperkuat
Penyebab utama dari masalah ini adalah fondasi infrastruktur yang belum merata. Banyak instansi harus membagi perhatian antara pengelolaan sistem legacy yang sudah usang, pemeliharaan private cloud, dan migrasi data ke infrastruktur cloud modern secara bersamaan tanpa adanya sistem kontrol yang terpadu. “Semakin meluasnya penggunaan AI yang belum terverifikasi, atau shadow AI, telah menjadi tantangan utama dalam aspek tata kelola di sektor publik. Di kawasan Asia-Pasifik dan Jepang, pembahasan kini telah bergeser dari sekadar ambisi mengadopsi AI menuju kesiapan operasional,” jelas Chief Technology Officer dan VP of Solution Engineering APJ Nutanix, Daryush Ashjari.
Lebih lanjut, Daryush menekankan bahwa organisasi yang berhasil adalah mereka yang tidak hanya mengejar tren fitur AI terbaru, tetapi juga fokus pada penguatan fondasi infrastruktur terlebih dahulu. Dengan memprioritaskan arsitektur yang aman dan berbasis kontainer, instansi dapat memanfaatkan AI dengan lebih percaya diri sekaligus menjaga kedaulatan data masyarakat.
Sebagai tambahan, riset global Nutanix ECI ini melibatkan 1.600 eksekutif di bidang cloud, TI, dan engineering dari 14 negara yang disurvei pada November 2025. Laporan ini menunjukkan bahwa modernisasi infrastruktur hybrid kini menjadi syarat yang mutlak, bukan sekadar wacana.