Kesehatan

Tanda-Tanda Bahasa Tubuh yang Menunjukkan Masalah dalam Hubungan

Bahasa tubuh dapat menjadi indikator penting dalam menilai kondisi emosional pasangan. Terdapat beberapa tanda yang menunjukkan adanya masalah dalam hubungan yang perlu diperhatikan.

T
Theresia Agatha Lestari
28 October 2026 4 pembaca
Ilustrasi pasangan bertengkar.(Google Gemini AI)
Ilustrasi pasangan bertengkar.(Google Gemini AI)

Bahasa tubuh berfungsi sebagai salah satu cara untuk mengekspresikan perasaan dalam sebuah hubungan, bahkan ketika kata-kata tidak diucapkan. Senyuman, sentuhan, dan jarak fisik saat berbicara bisa mencerminkan kedekatan emosional antara pasangan. Namun, jika terjadi perubahan dalam kebiasaan ini, hal tersebut bisa menjadi sinyal adanya masalah yang belum diatasi.

Pakar hubungan, Dr. Terri Orbuch, PhD, mengungkapkan bahwa terdapat beberapa pola bahasa tubuh yang bisa mengindikasikan berkurangnya kedekatan dan perasaan positif di antara pasangan. Berikut adalah tiga bahasa tubuh yang perlu diperhatikan dalam konteks hubungan yang mungkin bermasalah.

1. Ekspresi Wajah yang Datar

Ekspresi wajah saat berinteraksi dengan pasangan dapat mencerminkan perasaan seseorang. Ketika hubungan berjalan dengan baik, biasanya seseorang akan menunjukkan respons positif, seperti senyuman atau tatapan hangat saat pasangannya berbicara. Namun, jika ekspresi positif ini semakin jarang terlihat, hal ini perlu dicermati. “Ketika salah satu pasangan secara konsisten menunjukkan kurangnya kepedulian dan perasaan positif kepada pasangannya melalui ekspresi wajah, atau bahkan tidak secara konsisten melihat pasangannya ketika berbicara, hal itu menunjukkan kurangnya perasaan positif secara emosional,” jelas Orbuch.

Ekspresi wajah yang selalu tampak datar atau seolah tidak tertarik saat bersama pasangan bisa menjadi indikasi adanya jarak emosional. Untuk mengatasi hal ini, pasangan disarankan menerapkan rasio 5:1 yang diperkenalkan oleh Gottman Institute, yang mendorong untuk menciptakan lima interaksi positif untuk setiap satu interaksi negatif. Interaksi positif tidak selalu harus besar; senyuman, apresiasi, perhatian, atau percakapan ringan dapat menjadi cara sederhana untuk membangun kembali kehangatan.

2. Kurangnya Sentuhan Fisik

Sentuhan fisik merupakan bentuk komunikasi yang penting dalam sebuah hubungan. Aktivitas sederhana seperti bergandeng tangan, memeluk, atau menyentuh lengan pasangan dapat menunjukkan rasa nyaman dan kedekatan. Orbuch menyatakan bahwa pasangan cenderung lebih sering melakukan sentuhan ketika hubungan mereka terasa memuaskan dan intim. “Kurangnya sentuhan positif, baik tidak ada sama sekali maupun sangat sedikit dalam jangka waktu yang panjang, menunjukkan bahwa seseorang tidak merasa positif, dekat, atau nyaman dengan pasangannya,” tambahnya.

Walaupun berkurangnya sentuhan tidak selalu berarti hubungan akan berakhir, hal ini bisa menjadi sinyal adanya masalah yang perlu dibahas, termasuk kemarahan atau rasa kesal yang belum terselesaikan. Salah satu cara untuk membangun kembali kedekatan adalah dengan melakukan sentuhan nonseksual, seperti berpegangan tangan atau memberikan pijatan ringan tanpa mengharapkan hubungan seksual, sehingga menghilangkan anggapan bahwa setiap sentuhan harus berujung pada aktivitas seksual.

3. Jarak Fisik yang Terlalu Jauh

Jarak fisik saat berbicara, berjalan, atau duduk bersama pasangan juga dapat memberikan gambaran mengenai kedekatan hubungan. Dalam hubungan yang bahagia dan dekat, pasangan biasanya memiliki jarak fisik yang lebih dekat saat berinteraksi. Sebaliknya, jarak yang semakin lebar dapat menunjukkan berkurangnya rasa dekat dan keintiman. “Meski jarak fisik dapat berbeda berdasarkan budaya dan individu, secara umum, dalam hubungan dekat dan bahagia, pasangan memiliki jarak yang lebih kecil ketika berbicara, berjalan, dan duduk bersama,” ungkap Orbuch.

Jarak yang lebih besar dapat menjadi tanda berkurangnya kedekatan, kepedulian, dan keintiman di antara pasangan. Jika menyadari perubahan ini, pasangan sebaiknya mulai memperhatikan posisi tubuh saat berbicara. Mencoba untuk mendekat, menghadap pasangan, atau sedikit mencondongkan tubuh saat berbicara bisa membantu. Namun, penting untuk diingat bahwa bahasa tubuh bukanlah satu-satunya indikator untuk menilai kondisi sebuah hubungan. Perubahan kebiasaan ini sebaiknya dijadikan kesempatan untuk membicarakan masalah yang mungkin ada.

Komunikasi yang terbuka, memahami makna di balik perilaku masing-masing, serta menyelesaikan konflik yang belum tuntas dapat membantu membangun kembali keintiman dan kepercayaan dalam hubungan.

Artikel Terkait