Tren olahraga yang muncul di media sosial semakin menarik minat banyak orang, khususnya di kalangan anak muda. Konten-konten mengenai berbagai aktivitas olahraga sering kali mendorong orang untuk mencoba jenis latihan yang sama, seperti padel, hyrox, dan hot pilates. Popularitas olahraga ini memudahkan orang untuk mengenal dan mencoba berbagai jenis aktivitas fisik.
Namun, seseorang sebaiknya tidak sembarangan mengikuti olahraga yang sedang tren hanya karena melihatnya di media sosial. Setiap jenis olahraga memiliki gerakan dan tuntutan fisik yang berbeda-beda. Ahmad Dimyathi, seorang Fitness Development Trainer dari Celebrity Fitness, menekankan pentingnya mengetahui kondisi tubuh sebelum memilih aktivitas olahraga yang akan dilakukan. “Yang paling sering dilakukan adalah melakukan aktivitas olahraga dengan mengikuti yang tren di sosial media. Padahal, olahraga itu tidak boleh sesembarangan. Jadi, pentingnya melakukan cek kesehatan, assessment untuk tahu sejauh mana fitness level-nya,” ujar Dimy saat pembukaan Celebrity Fitness di Mall of Indonesia, Jakarta Utara.
Pentingnya Memahami Level Kebugaran
Ahmad menjelaskan bahwa pemeriksaan kondisi fisik dapat membantu seseorang memahami kemampuan tubuhnya sebelum memilih jenis olahraga tertentu. Kemampuan fisik setiap individu tidak dapat disamakan hanya karena penampilan luar yang mirip. “Karena setiap orang itu punya fitness level atau kondisi tubuh yang berbeda. Misalkan si A sama si B, walaupun dia kembar identik, mereka berdua pasti punya kondisi fisik yang berbeda,” terangnya.
Selain itu, kemampuan dalam melakukan gerakan juga harus menjadi pertimbangan. Ahmad menekankan bahwa setiap latihan memerlukan kemampuan gerak tertentu agar dapat dilakukan dengan baik. “Nah, maka dari itu untuk menentukan olahraga apa sih yang sesuai, aktivitas apa yang sesuai, kita harus cek dulu fitness level-nya sendiri seperti apa. Dan apakah secara movement atau kualitas geraknya itu sudah sanggup atau sudah cocok untuk melakukan aktivitas atau pilihan olahraga itu,” jelasnya.
Risiko Cedera Karena Memaksakan Diri
Tren olahraga yang viral di media sosial sering kali membuat seseorang tergoda untuk mencoba latihan yang mereka lihat tanpa mempertimbangkan kemampuan tubuh mereka. Ahmad mengungkapkan bahwa masalah muncul ketika seseorang melakukan aktivitas tersebut tanpa memahami kemampuan gerak yang dimiliki. “Kadang orang saat melakukan aktivitas olahraga itu, ngelihat ada tren apa langsung ikut aja. Padahal secara movement-nya belum cocok untuk di tahap itu,” tuturnya.
Memaksakan tubuh untuk mengikuti gerakan yang sulit dapat meningkatkan risiko cedera. “Yang sering terjadi karena dia memaksakan, risiko cederanya akan jauh lebih tinggi. Karena padahal belum prepare,” ungkap Ahmad.
Ia juga menyebutkan beberapa bagian tubuh yang memiliki kemampuan bergerak multidimensional dan perlu diperhatikan saat berolahraga, yaitu ankle, hip, dan thoracic. “Yang sering terjadi, karena di tubuh manusia itu kita punya 3 bagian yang bisa multidimensional di tubuh. Itu juga yang sering berisiko cedera. Pertama itu ada ankle, kedua ada hip, ketiga ada thoracic atau bagian torso,” jelasnya.
Ketiga bagian tersebut dapat bergerak ke berbagai arah, sehingga penting untuk memperhatikan kondisi dan persiapannya sebelum melakukan latihan. “Itu yang bisa bergerak ke mana aja. Tapi kalau misalkan itu tidak terlatih dengan baik, tidak termanasi dengan baik, risiko cederanya juga tinggi,” tambah Ahmad.
Pengecekan kondisi tubuh menjadi langkah awal yang penting sebelum memilih aktivitas olahraga, terutama ketika seseorang ingin mencoba jenis latihan yang belum pernah dilakukan sebelumnya. “Ya, fitness assessment atau pengecekan kondisi tubuh itu penting banget,” pungkas Ahmad.