Eduardo Saverin, pendiri Facebook, bersama dengan tiga pendiri Sea Limited, perusahaan internet terkemuka di Asia Tenggara, mengalami penurunan total kekayaan hampir USD 16 miliar dalam satu tahun terakhir. Meskipun Saverin masih menduduki posisi sebagai orang terkaya di Singapura selama empat tahun berturut-turut, kekayaannya mengalami penurunan sebesar USD 10,1 miliar (setara Rp 178 triliun) menjadi USD 32,9 miliar, berdasarkan daftar 50 orang terkaya di Singapura 2026 versi Forbes.
Tiga pendiri Sea, yaitu Forrest Li, Gang Ye, dan David Chen, mengalami penurunan kekayaan secara gabungan sebesar USD 5,85 miliar, sehingga total kerugian kekayaan keempat tokoh teknologi ini mencapai USD 15,95 miliar. Kekayaan Forrest Li, yang menjabat sebagai Chairman dan CEO Sea, turun dari USD 11,2 miliar menjadi USD 7,7 miliar, yang mengakibatkan posisinya merosot dari peringkat keenam ke peringkat kesepuluh.
Perubahan Drastis dalam Kekayaan
Tahun sebelumnya, para miliarder teknologi di Singapura menikmati keuntungan yang signifikan. Saverin mencatatkan keuntungan terbesar dalam daftar orang terkaya Singapura versi Forbes tahun 2025, dengan tambahan kekayaan sebesar USD 14 miliar, menjadikannya memiliki total kekayaan USD 43 miliar berkat kenaikan harga saham induk Facebook, Meta. Namun, tahun ini, kekayaan mereka terkena dampak negatif akibat anjloknya harga saham perusahaan masing-masing.
Saham Meta mengalami penurunan sebesar 25% sepanjang tahun ini, dipicu oleh penurunan laba bersih kuartal kedua yang mencapai 14%. Hal ini sebagian besar disebabkan oleh peningkatan pengeluaran untuk infrastruktur kecerdasan buatan (AI). Sebagian besar kekayaan Saverin berasal dari kepemilikan sahamnya di Meta, perusahaan yang didirikannya bersama Mark Zuckerberg di Universitas Harvard pada tahun 2004.
Investasi dan Filantropi di Singapura
Pria berusia 44 tahun yang lahir di Brasil ini telah menetap di Singapura sejak tahun 2009 dan melepaskan kewarganegaraan Amerika Serikat pada tahun 2011 menjelang penawaran umum perdana (IPO) Facebook. Sejak saat itu, Saverin telah menjadi investor teknologi yang aktif. Ia juga merupakan salah satu pendiri perusahaan modal ventura B Capital, yang mengelola dana lebih dari USD 12 miliar dan berinvestasi di berbagai perusahaan.
Pada bulan Juli, B Capital berhasil mengumpulkan USD 500 juta untuk pendanaan baru yang difokuskan pada startup tahap awal, terutama yang memanfaatkan AI di berbagai sektor seperti kesehatan, energi, dan teknologi perusahaan. Saverin dan istrinya, Elaine, juga dikenal sebagai filantropis besar di Singapura. Yayasan mereka, yang terdaftar sebagai badan amal di Singapura pada tahun 2023, termasuk dalam daftar 10 donatur swasta terbesar di negara tersebut.
Walaupun mengalami penurunan kekayaan, total kekayaan gabungan dari 50 orang terkaya di Singapura tetap stabil di angka USD 239 miliar, berkat keuntungan dari sektor lainnya. Tercatat, 35 dari 50 orang dalam daftar tersebut mengalami peningkatan kekayaan selama setahun terakhir.