Kehadiran kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) telah membawa perubahan signifikan dalam cara menghasilkan karya visual, membuatnya lebih cepat dan mudah. Namun, kondisi ini juga memberikan tantangan bagi para kreator untuk tetap mempertahankan karakteristik unik dalam setiap karya yang mereka hasilkan. Varsam Kurnia, seorang seniman dan pemilik Something's to Keep, mengungkapkan pandangannya mengenai isu ini saat hadir dalam Preview Eksklusif Koleksi Hedgren AW26 serta kolaborasi Travel Essentials Collection Hedgren x Varsam Kurnia di Summarecon Mall Kelapa Gading, Jakarta, pada Rabu (9/9/2026).
Menjaga Autentisitas dalam Berkarya
Bagi Varsam, karakter personal merupakan elemen krusial dalam setiap karya seni. Ia percaya bahwa seorang kreator tidak hanya menciptakan sesuatu yang bersifat visual, tetapi juga menyampaikan pesan yang berasal dari dalam diri mereka. "Dari aku sih aku merasa kalau itu semua tentang personal voice, suara pribadi kita sebagai manusia, sebagai seorang pribadi. Dan apa yang kita mau sampaikan lewat gambar itu sendiri sih," jelasnya.
Ia menilai bahwa meskipun banyaknya persaingan dan perkembangan AI yang semakin pesat, esensi kemanusiaan dalam berkarya tetap tidak bisa dipalsukan. "Jadi walaupun banyak kompetisi, walaupun banyak AI sekarang, tapi suatu esensi manusia itu gak akan bisa bohong," tambahnya.
Esensi yang Tak Bisa Ditiru
Varsam menegaskan bahwa keaslian dari seorang kreator mampu menjadikan karya lebih mudah terhubung dengan audiens. "Something yang authentic dari diri kita, dan orang juga akan resonate dengan hal itu," ungkapnya. Ia berpendapat bahwa setiap individu memiliki karakter dan pengalaman yang berbeda, yang pada gilirannya dapat memberikan nilai personal pada karya yang dihasilkan. "Karena masing-masing itu dua pribadi, dan pasti ada hal yang esensi dari itu yang pasti resonate ke orang," ujarnya.
Ia juga menambahkan bahwa karakter unik tersebut sulit untuk digantikan oleh karya yang hanya meniru atau dihasilkan melalui teknologi. "Yang gak bisa direplika dari yang niru, atau dari AI itu sendiri sih," lanjutnya.
Strategi Mengatasi Kebuntuan Kreatif
Art block adalah kondisi di mana seorang kreator mengalami kebuntuan dalam proses kreatif, sehingga sulit untuk menemukan ide atau menghasilkan karya. Varsam menjelaskan bahwa saat menghadapi art block, tidak perlu memaksakan diri untuk terus berkarya dalam medium yang sama. Ia menyarankan untuk tetap menyalurkan kreativitas melalui eksplorasi bentuk lain. "Tips untuk teman yang lagi art block itu, buatku sih tetap berkreasi, tapi dalam medium lain," jelasnya.
Ia memberi contoh bahwa ketika merasa tidak bisa menggambar, ia bisa mencoba aktivitas kreatif lainnya, seperti membuat keramik atau clay. "Misalnya aku lagi enggak mood gambar, aku bisa aja bikin keramik, atau bikin clay, atau menghias hal lain," ujarnya. Dengan beralih ke medium yang berbeda, Varsam tetap dapat menyalurkan energi kreatifnya tanpa harus memaksakan diri untuk menghasilkan gambar saat mengalami kebuntuan. "Jadi tetap mengarahkan that creative energy, but through a different medium untuk nge-unblock that creative block itu sendiri sih," tutupnya.