Kesehatan

Faktor-Faktor yang Dapat Merusak Mikrobiota Usus Anak yang Perlu Diketahui Orangtua

Kesehatan saluran pencernaan anak tidak hanya dipengaruhi oleh nutrisi, tetapi juga oleh berbagai faktor lingkungan yang dapat merusak mikrobiota usus. Penting bagi orangtua untuk mengenali penyebab k...

L
Luthfi Zaki Maulana
11 September 2026 3 pembaca
Faktor-Faktor yang Dapat Merusak Mikrobiota Usus Anak yang Perlu Diketahui Orangtua
Sumber gambar: lifestyle.kompas.com

JAKARTA - Kesehatan sistem pencernaan anak tidak hanya ditentukan oleh asupan gizi yang mereka terima setiap hari. Ekosistem mikrobiota usus yang terbentuk sejak lahir dapat terganggu oleh berbagai kebiasaan dan kondisi lingkungan. Kerusakan keseimbangan flora normal usus ini dikenal sebagai disbiosis, yang terjadi ketika jumlah bakteri baik menurun dan digantikan oleh bakteri patogen, sehingga mengakibatkan penurunan daya tahan tubuh anak.

Penyebab Kerusakan Mikrobiota Usus Anak

Untuk menjaga keseimbangan mikrobiota usus, orangtua perlu memahami dan mengurangi faktor-faktor yang dapat merusak kesehatan pencernaan anak. Menurut Dr. dr. Andy Darma, Sp.A, Subsp.GH(K), seorang spesialis anak konsultan gastrohepatologi, gangguan pada usus dimulai ketika ekosistem yang sehat mengalami perubahan komposisi yang tidak seimbang. Ada berbagai faktor yang dapat menyebabkan kerusakan ini, mulai dari masalah medis hingga paparan zat dari lingkungan.

1. Penggunaan Antibiotik yang Tidak Tepat

Pemberian antibiotik tanpa indikasi yang jelas menjadi salah satu penyebab utama terganggunya keseimbangan bakteri di dalam usus. Banyak orangtua yang meminta pemberian antibiotik ketika anak mengalami sakit, padahal gejala tersebut sering kali disebabkan oleh infeksi virus yang tidak dapat diobati dengan antibiotik. "Kalau tidak butuh antibiotik, jangan kasih antibiotik," tegas dr. Andy. Antibiotik tidak dapat membedakan antara bakteri patogen yang menyebabkan penyakit dan bakteri baik yang melindungi usus. Ketika dikonsumsi, antibiotik dapat membunuh berbagai jenis mikrobiota secara acak.

2. Konsumsi Makanan Ultra-Proses yang Berbahaya

Perkembangan teknologi pangan modern juga membawa tantangan baru bagi kesehatan pencernaan anak melalui produk makanan ultra-proses. Makanan jenis ini umumnya mengalami modifikasi fisik dan kimia yang panjang, sehingga tidak memberikan nutrisi yang diperlukan oleh bakteri baik. "Kita sekarang mulai lihat telur yang bukan telur, susu yang bukan susu, daging yang bukan daging. Itu agak mengkhawatirkan sebetulnya," ungkap dr. Andy.

3. Lingkungan yang Terlalu Steril

Kebiasaan menjaga kebersihan lingkungan yang berlebihan juga tidak dianjurkan. Anak-anak perlu berinteraksi dengan kuman dari lingkungan sekitar untuk melatih sistem kekebalan tubuh mereka. "Terlalu kotor enggak bagus juga ya, tapi terlalu steril juga enggak bagus juga ya," kata dr. Andy.

4. Polusi Udara

Selain pola makan dan penggunaan obat-obatan, faktor lingkungan seperti polusi udara juga berperan dalam merusak kesehatan pencernaan. Udara kotor yang dihirup anak tidak hanya merusak sistem pernapasan, tetapi juga dapat mempengaruhi organ pencernaan. "Bisa melalui paru-paru dulu ya. Paru-parunya yang kena, lalu dia spill over mengenai organ-organ yang lain," jelas dr. Andy. Polutan yang tertelan dapat menyebabkan peradangan pada ekosistem saluran cerna anak, dan penelitian menunjukkan adanya hubungan antara kualitas udara yang buruk dengan kerusakan mikroba pelindung di dalam perut anak.

Dengan memahami faktor-faktor ini, diharapkan orangtua dapat lebih waspada dan mengambil langkah-langkah yang tepat untuk menjaga kesehatan mikrobiota usus anak.

Artikel Terkait