Kegiatan berjalan kaki sering dianggap lebih aman dibandingkan berlari, terutama saat suhu udara tinggi. Namun, penelitian terbaru menunjukkan bahwa anggapan ini tidak sepenuhnya akurat. Dalam kondisi panas, berjalan kaki dalam waktu lama dapat menyebabkan tubuh menyerap lebih banyak panas dibandingkan berlari dengan kecepatan yang sama.
Temuan ini dipublikasikan dalam European Journal of Applied Physiology dan menunjukkan bahwa durasi paparan panas menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi peningkatan suhu inti tubuh serta risiko hipertermia, yaitu kondisi di mana suhu tubuh meningkat secara berlebihan.
Peningkatan Suhu Tubuh saat Berjalan Kaki
Penelitian tersebut membandingkan atlet yang melakukan jalan cepat dan berlari dalam lingkungan bersuhu sekitar 30 derajat Celsius. Hasilnya, peserta yang berjalan cepat mengalami peningkatan suhu inti tubuh yang lebih tinggi dibandingkan mereka yang berlari, meskipun menempuh jarak dan kecepatan yang sama. Perbedaan ini disebabkan oleh waktu yang lebih lama yang dibutuhkan orang yang berjalan untuk menyelesaikan aktivitas, sehingga tubuh terpapar sinar matahari lebih lama sambil terus memproduksi panas dari aktivitas fisik.
Kombinasi antara panas dari lingkungan dan panas yang dihasilkan tubuh membuat proses pendinginan menjadi lebih sulit. Meskipun demikian, hasil penelitian ini tidak berarti bahwa berlari selalu lebih aman dibandingkan berjalan. Aktivitas berlari juga menghasilkan panas metabolik yang lebih besar. Namun, jika dilakukan dalam durasi yang lebih singkat dan pada waktu yang lebih sejuk, total paparan panas yang diterima tubuh bisa lebih rendah.
Pentingnya Waktu dan Hidrasi dalam Berolahraga
Para peneliti menilai bahwa waktu berolahraga memiliki pengaruh yang lebih besar terhadap risiko gangguan akibat panas dibandingkan pilihan antara berjalan atau berlari. Penelitian lain menunjukkan bahwa ketika suhu udara meningkat, banyak orang secara alami mengalihkan waktu olahraga mereka ke pagi atau sore hari. Adaptasi ini dianggap sebagai salah satu cara paling efektif untuk mengurangi dampak cuaca panas terhadap tubuh.
Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) juga merekomendasikan agar masyarakat menghindari aktivitas fisik berat pada waktu terpanas, biasanya menjelang siang hingga sore. Selain itu, penting untuk memastikan tubuh terhidrasi dengan baik sebelum berolahraga dan menyelingi aktivitas dengan waktu istirahat di tempat teduh atau ruangan berpendingin udara.
Paparan panas yang terlalu lama dapat menyebabkan tubuh kesulitan mempertahankan suhu normal, yang meningkatkan risiko kelelahan akibat panas hingga hipertermia jika tidak segera ditangani. Peneliti mengingatkan bahwa siapa pun yang berolahraga di luar ruangan perlu mewaspadai gejala seperti pusing, mual, kebingungan, tubuh terasa sangat lemas, atau kelelahan berlebihan. Gejala-gejala ini menjadi sinyal bahwa tubuh mulai kesulitan mengatur suhu.
Selain memilih waktu yang lebih sejuk, penggunaan pakaian yang ringan dan mampu menyerap keringat juga dapat membantu proses pendinginan alami tubuh. Durasi olahraga sebaiknya disesuaikan dengan kondisi cuaca agar paparan panas tidak berlangsung terlalu lama.
Peneliti menegaskan bahwa menjaga kecukupan cairan sebelum, selama, dan setelah berolahraga adalah langkah penting untuk mengurangi risiko gangguan akibat panas. Dehidrasi dapat menurunkan kemampuan tubuh untuk melepaskan panas melalui keringat, sehingga suhu inti tubuh lebih cepat meningkat. Oleh karena itu, masyarakat tidak disarankan untuk menganggap bahwa berjalan kaki selalu lebih aman dibandingkan berlari saat cuaca sangat panas.