Teknologi

Rekor Laba Tertinggi, Strategi Bos GOTO Terungkap

PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk berhasil mencatatkan laba bersih dua kuartal berturut-turut, dengan strategi yang berfokus pada penguatan ekosistem dan lini bisnis yang mendukung.

A
Aisyah Nur Hidayah
30 July 2026 60 pembaca
Foto: Istimewa
Foto: Istimewa

Jakarta - PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) berhasil mencatatkan laba bersih selama dua kuartal berturut-turut. Dalam laporan keuangan yang dirilis pada Rabu (29/7), GoTo menjelaskan bahwa kekuatan ekosistem dan lini bisnis yang mendukung menjadi kunci keberhasilan perusahaan dalam mencapai pencapaian ini.

Perusahaan yang merupakan induk dari Gojek dan GoPay ini mencatatkan laba bersih sebesar Rp252 miliar di kuartal II-2026, setelah sebelumnya memperoleh laba bersih Rp171 miliar di kuartal I-2026. Gross Transaction Value (GTV) inti grup mengalami pertumbuhan 83% year-on-year (YoY) menjadi Rp164 triliun, sementara pendapatan bersih tumbuh 31% YoY menjadi Rp5,7 triliun. EBITDA yang disesuaikan untuk grup juga meningkat lebih dari dua kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya, mencapai lebih dari Rp1,0 triliun untuk pertama kalinya.

Pencapaian Bisnis Fintech yang Meningkat

Direktur Utama GoTo, Hans Patuwo, menyatakan bahwa pencapaian ini mencerminkan kekuatan ekosistem GoTo yang mencakup bisnis Fintech GoPay dan layanan on-demand seperti Gojek. Di kuartal II-2026, bisnis Fintech GOTO menunjukkan pertumbuhan yang signifikan dengan volume transaksi mencapai 2,4 miliar, meningkat 91% YoY. Kinerja yang pesat dalam sektor Fintech juga berkontribusi pada profitabilitas, dengan EBITDA yang disesuaikan mencapai Rp481 miliar, meningkat 447% YoY.

"Kami mencetak laba bersih selama dua kuartal berturut-turut, dengan EBITDA Grup yang disesuaikan meningkat lebih dari dua kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya, melampaui angka Rp1,0 triliun untuk pertama kalinya. Bisnis Fintech kami juga terus menunjukkan kinerja yang unggul. Kini, profitabilitasnya telah melebihi bisnis On-demand Services untuk pertama kalinya. Hal ini menunjukkan kekuatan dan keseimbangan ekosistem kami," ujar Hans.

Kinerja Layanan On-Demand dan Dampak Regulasi

Sementara itu, bisnis layanan on-demand yang mencakup Gojek untuk transportasi dan pengantaran juga menunjukkan pertumbuhan. EBITDA yang disesuaikan untuk segmen ini mencapai Rp464 miliar, meningkat 41% YoY, didorong oleh pendapatan bersih sebesar Rp3,6 triliun. Manajemen GOTO menjelaskan bahwa kinerja segmen pengantaran yang mencakup GoFood dan GoSend tetap kuat, dengan margin meningkat menjadi 2,1% dari 1,8% tahun lalu. Segmen mobilitas yang meliputi GoRide dan GoCar juga mencatatkan kenaikan margin menjadi 5,0% dari 3,0% tahun lalu.

Meski kedua segmen mengalami pertumbuhan, GoTo mengungkapkan bahwa struktur komisi baru yang ditetapkan oleh pemerintah untuk layanan angkutan roda dua akan berdampak pada kontribusi bisnis on-demand services. Keputusan Menteri Perhubungan Nomor 532 Tahun 2026 menetapkan besaran komisi untuk layanan angkutan roda dua menjadi 8%, dari sebelumnya maksimal 20%. Hal ini memerlukan beberapa penyesuaian untuk GoTo.

"Struktur ini berlaku untuk bisnis transportasi roda dua Gojek, yang menyumbang sekitar 7% dari pendapatan bersih Grup. Dampak dari perubahan komisi ini akan terlihat pada laporan keuangan kuartal ketiga. Namun, setelah satu bulan berjalan, kondisi bisnis tetap stabil," jelas Hans.

Oleh karena itu, GoTo melakukan penyesuaian terhadap pedoman EBITDA yang disesuaikan untuk bisnis on-demand services setahun penuh, menjadi Rp1,4-1,5 triliun, dari sebelumnya Rp1,7-1,8 triliun, seiring dengan batasan komisi 8%. Sementara itu, pedoman EBITDA yang disesuaikan untuk bisnis Fintech dinaikkan menjadi Rp1,7-1,8 triliun, dari sebelumnya Rp1,4-1,5 triliun. Secara keseluruhan, pedoman EBITDA yang disesuaikan untuk grup tetap di kisaran Rp3,2-3,4 triliun.

"Penyesuaian ini tidak mudah, tetapi kami percaya bisa mengatasi dampaknya. Karena itu, kami tetap mempertahankan pedoman EBITDA Grup yang disesuaikan untuk setahun penuh di kisaran Rp3,2-3,4 triliun. Kami memperkirakan kontribusi dari bisnis On-demand Services akan berkurang, sementara bisnis Fintech akan memberikan kontribusi lebih besar," tutup Hans.

Artikel Terkait