Ketika seseorang sedang menjalani pendekatan, detak jantung yang meningkat adalah hal yang biasa. Perasaan ini sering kali mengganggu fokus dan membuat pikiran melayang. Namun, siapa yang lebih cepat terjebak dalam perasaan cinta? Ternyata, anggapan bahwa wanita lebih mudah jatuh cinta tidak sepenuhnya benar. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa pria lebih cepat merasakan benih asmara dibandingkan wanita.
Penelitian ini melibatkan 33 negara di Eropa, Amerika Utara, dan Afrika Selatan. Adam Bode, seorang antropolog biologi dari Australian National University (ANU), menyatakan ketertarikan untuk mengeksplorasi bagaimana jenis kelamin biologis memengaruhi munculnya, perkembangan, dan ekspresi cinta romantis.
Meneliti Perbedaan Gaya Cinta
Studi berjudul "Sex differences in romantic love: an evolutionary perspective" dipublikasikan dalam jurnal Biology of Sex Differences pada Februari 2025. Tim peneliti dari Australia dan Selandia Baru menganalisis data dari 808 orang dewasa muda berusia antara 18 hingga 25 tahun yang mengaku sedang jatuh cinta. Survei yang dilakukan mencakup berbagai pertanyaan mengenai waktu mulai jatuh cinta, intensitas perasaan, frekuensi pengalaman cinta di masa lalu, dan tingkat obsesi terhadap pasangan.
Hasil analisis menunjukkan bahwa pria rata-rata jatuh cinta lebih cepat dibandingkan wanita, dengan selisih waktu sekitar satu bulan. Peneliti menduga hal ini disebabkan oleh naluri alami pria yang merasa perlu menunjukkan komitmen lebih awal untuk menarik perhatian pasangan. Selain itu, pria juga mengalami pengalaman jatuh cinta lebih sering dibandingkan wanita. Sekitar 30 persen pria melaporkan mengalami fase jatuh cinta sebelum hubungan mereka resmi, sementara angka ini hanya di bawah 20 persen untuk wanita.
Intensitas Perasaan dan Komitmen
Meskipun pria lebih cepat dan lebih sering jatuh cinta, penelitian menunjukkan bahwa mereka cenderung kurang berkomitmen setelah menjalin hubungan. Sebaliknya, wanita menunjukkan keterikatan emosional yang lebih kuat dan menghabiskan lebih banyak waktu untuk memikirkan pasangan mereka. Ini menunjukkan bahwa wanita memiliki kedalaman cinta yang lebih besar dan perasaan romantis yang lebih intens saat jatuh cinta.
Adam Bode menekankan bahwa ini adalah studi pertama yang menyelidiki perbedaan antara pria dan wanita dalam pengalaman cinta dengan sampel lintas budaya yang cukup besar. Temuan ini memberikan bukti bahwa terdapat perbedaan signifikan dalam beberapa aspek cinta romantis antara kedua jenis kelamin.
Tim peneliti juga mempertimbangkan faktor-faktor lain yang mungkin memengaruhi perasaan cinta, seperti usia dan rasio populasi pria dan wanita di negara-negara yang diteliti. Meskipun banyak perbedaan tetap ada, perbedaan dalam tingkat komitmen menjadi setara setelah mempertimbangkan variabel-variabel tersebut.
Menariknya, di negara-negara dengan tingkat kesetaraan gender yang tinggi, orang-orang cenderung lebih jarang jatuh cinta dan menunjukkan tingkat komitmen yang lebih rendah. Hal ini menunjukkan bahwa norma sosial memiliki peran penting dalam cara seseorang merasakan cinta. Penelitian lebih lanjut diharapkan dapat menggali lebih dalam mengenai dinamika sosial yang mempengaruhi pengalaman cinta.
Bode menutup dengan menyatakan bahwa cinta adalah topik yang kurang diteliti, padahal sangat penting dalam pembentukan keluarga dan hubungan. Penelitian ini bertujuan untuk membantu orang memahami lebih baik tentang cinta.