Kesehatan

Perbandingan Botox dan Dysport: Mana yang Lebih Efektif untuk Mengatasi Kerutan?

Botox dan Dysport adalah dua jenis suntikan anti-kerutan yang populer, namun memiliki perbedaan dalam dosis, area perawatan, dan cara kerja. Memahami perbedaan ini dapat membantu dalam memilih perawat...

M
Maria Gabriella
04 September 2026 44 pembaca
Perbandingan Botox dan Dysport: Mana yang Lebih Efektif untuk Mengatasi Kerutan?
Sumber gambar: lifestyle.kompas.com

Satu unit Botox setara dengan tiga unit Dysport, yang merupakan salah satu dari banyak perbedaan antara kedua jenis suntikan anti-kerutan yang terkenal ini. Jika Anda mulai melihat kerutan di wajah dan mempertimbangkan prosedur kecantikan untuk mengatasinya, terdapat beberapa pilihan perawatan yang dapat dipertimbangkan, di antaranya suntikan Botox dan Dysport. Secara ilmiah, keduanya adalah neuromodulator yang berasal dari botulinum toxin type A.

Keduanya memiliki kesamaan dalam hal: memblokir sinyal saraf untuk merelaksasi otot dan mengurangi kerutan akibat ekspresi wajah, memberikan hasil sementara yang dapat bertahan selama beberapa bulan, dapat diulang untuk mempertahankan penampilan, serta memiliki efek samping yang mirip, seperti memar sementara, kemerahan, atau bengkak di area suntikan. Meskipun demikian, terdapat perbedaan signifikan antara keduanya.

Perbedaan Utama antara Botox dan Dysport

Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) telah memberikan persetujuan untuk penggunaan Botox dalam lebih banyak jenis perawatan dibandingkan Dysport. Botox disetujui untuk mengatasi garis kerutan di dahi, garis kerutan di antara alis, dan kerutan di sudut mata, sedangkan Dysport hanya disetujui untuk garis kerutan di antara alis.

Dysport juga dikenal memiliki sebaran yang lebih luas dibandingkan Botox, yang artinya dapat menjangkau area yang lebih besar dari titik suntikan. Ini membuat Dysport efektif untuk merawat area yang lebih luas, seperti dahi. Namun, sebaran Botox yang lebih terbatas bermanfaat untuk merawat area yang lebih spesifik, seperti di sekitar mata.

Kecepatan dan Dosis

Dysport umumnya bereaksi lebih cepat karena formulasi dan cara penyebarannya setelah disuntikkan. Dengan menggunakan kompleks protein yang berbeda dari Botox, Dysport mungkin dapat mencapai ujung saraf target lebih cepat. Meskipun perbedaan waktu kerja antara keduanya biasanya kecil, keduanya umumnya mulai menunjukkan efek dalam beberapa hari.

Menurut Dr. Zins, "Perbedaan waktunya biasanya kecil dan sering kali tidak cukup signifikan untuk jadi faktor penentu." Botox dan Dysport memiliki durasi kerja yang mirip, bertahan antara tiga hingga empat bulan pada dosis yang setara. Perbedaan ini secara klinis tidak signifikan.

Dalam hal satuan dosis, satu unit Botox tidak setara dengan satu unit Dysport. Secara umum, satu unit Botox setara dengan tiga unit Dysport. Hal ini disebabkan oleh cara masing-masing produsen dalam meracik produk mereka. Dr. Zins menjelaskan, "Dysport biasanya membutuhkan jumlah unit yang lebih banyak untuk mencapai efek yang serupa." Namun, karena harga per unit Dysport lebih rendah dibandingkan Botox, biaya keseluruhan untuk kedua perawatan ini cenderung serupa.

Efek Samping dan Pilihan yang Tepat

Jika Botox atau Dysport disuntikkan ke otot di sekitar area target, beberapa efek sementara yang mungkin muncul meliputi kelopak mata turun, alis turun, dan bentuk alis yang tidak normal. Dr. Zins menekankan pentingnya mencari dokter yang berpengalaman untuk melakukan suntikan agar hasilnya optimal.

Kedua produk ini tetap populer karena keduanya efektif, dapat ditoleransi oleh tubuh, dan aman digunakan. Tidak ada yang secara inheren lebih baik dari yang lain; semuanya tergantung pada kebutuhan spesifik individu. "Pilihan yang lebih baik biasanya adalah yang paling sesuai dengan rencana perawatanmu," ungkap Dr. Zins.

Memulai dengan salah satu produk tidak berarti Anda terikat untuk menggunakannya selamanya. Banyak orang yang beralih dari satu produk ke produk lainnya. "Baik Botox maupun Dysport bisa sangat efektif — dan tidak ada satupun yang otomatis lebih baik untuk setiap pasien atau area perawatan," tegas Dr. Zins. "Dalam banyak kasus, pilihan terbaik kembali pada bagaimana tubuhmu merespons."

Artikel Terkait