Selama ini, banyak orang menganggap protein hanya berfungsi untuk membangun otot. Namun, sebenarnya, nutrisi ini sangat penting untuk menjaga kesehatan dan kinerja otak. Ketika asupan protein harian menurun drastis, otak dapat mengalami berbagai efek negatif.
Dampak Kekurangan Protein pada Otak
Otak sangat bergantung pada protein untuk membangun dan memelihara sistemnya agar dapat berfungsi dengan baik. Menurut Judy Chodirker, seorang ahli gizi terdaftar, protein dari makanan kita menyediakan asam amino yang diperlukan untuk memproduksi berbagai bahan kimia penting di otak. Beberapa neurotransmiter seperti dopamin, serotonin, dan norepinefrin dihasilkan dari asam amino ini.
Jika asupan protein terus-menerus rendah, tubuh mungkin tidak dapat memproduksi neurotransmiter secara optimal, yang dapat memengaruhi energi mental dan kesejahteraan emosional. Olivia Hamilton, seorang ahli gizi terdaftar, menjelaskan bahwa tubuh tidak dapat menyimpan asam amino untuk digunakan di kemudian hari, sehingga penting untuk mengonsumsi protein berkualitas tinggi secara teratur.
Ketika jumlah atau kualitas protein tidak mencukupi, tubuh kekurangan bahan yang diperlukan untuk mendukung fungsi vital, yang dapat menyebabkan penyusutan otot, penurunan sistem kekebalan tubuh, dan gangguan perbaikan sel. Akibatnya, efek negatif dari kekurangan protein ini dapat menumpuk, membuat seseorang semakin sulit untuk berkonsentrasi dan berpikir cepat.
Dampak Jangka Pendek dan Panjang
Dalam jangka pendek, kurangnya protein dapat mengganggu fungsi vital tubuh dan otak. Hamilton menyatakan bahwa kurangnya asupan protein dapat merusak suasana hati dalam waktu singkat. Jika seseorang mengonsumsi protein terlalu sedikit, mereka mungkin mengalami perubahan suasana hati dan motivasi, serta peningkatan rasa lapar.
Chodirker menambahkan bahwa kekurangan protein juga dapat menyebabkan penurunan konsentrasi dan meningkatkan kemarahan. "Kabut otak" menjadi lebih sering terjadi, dan kecepatan fungsi otak pun dapat melambat. Penurunan asupan triptofan juga berhubungan dengan kognisi sosial dan stabilitas suasana hati.
Jika kekurangan protein berlangsung dalam jangka panjang, dampaknya bisa lebih serius. Chodirker mengingatkan bahwa asupan protein yang rendah dalam waktu lama dapat memengaruhi kesejahteraan secara keseluruhan. Ketika protein tidak tersedia dari makanan, tubuh mungkin akan memecah jaringan otot untuk mendapatkan asam amino yang dibutuhkan, yang dapat berdampak negatif pada kognisi, terutama pada lansia yang berisiko mengalami demensia.
Hamilton menekankan bahwa tanpa asam amino yang cukup, otak dapat mengalami degenerasi saraf, gangguan mental yang lebih serius, serta perubahan struktural yang merugikan.
Panduan Konsumsi Protein Harian
Kebutuhan protein setiap individu bervariasi, tergantung pada tujuan kesehatan, rutinitas harian, serta faktor usia, jenis kelamin, dan tingkat aktivitas. Di Amerika Serikat, orang dewasa yang sehat disarankan untuk mengonsumsi antara 1,2 hingga 1,6 gram protein per kilogram berat badan setiap harinya. Disarankan untuk menyebarkan asupan protein sepanjang hari dengan menyertakannya dalam setiap makanan dan camilan.
Chodirker menyarankan agar setidaknya seperempat piring diisi dengan protein saat makan untuk mendukung asupan yang memadai dan menjaga tingkat energi yang stabil. Selain itu, Hamilton mengingatkan pentingnya memperhatikan kualitas protein yang dikonsumsi. Mengonsumsi campuran sumber protein seperti daging, kacang-kacangan, ikan, telur, dan produk susu dapat membantu memastikan adanya variasi profil asam amino yang diperlukan oleh tubuh.