Makanan yang baru saja dimasak memang idealnya langsung dikonsumsi. Namun, dalam beberapa situasi, makanan tidak selalu dapat segera disantap setelah matang. Misalnya, makanan mungkin perlu menunggu karena proses pengemasan, pengantaran, atau perbedaan waktu makan. Hal ini juga berlaku dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG). Dalam keadaan seperti ini, penting untuk memperhatikan lama penyimpanan dan suhu makanan.
Pentingnya Memperhatikan Suhu dan Waktu Penyimpanan
Ahli Gizi dari Universitas Kristen Maranatha Bandung, Prof. Dr. dr. Meilinah Hidayat, M.Kes., menekankan bahwa makanan yang dibiarkan pada suhu ruang memiliki batas waktu keamanan yang harus diperhatikan. "Kalau di suhu ruang itu sekitar empat jam," jelas Prof. Meilinah. Ia menambahkan bahwa makanan yang selesai dimasak sebaiknya segera dikonsumsi, tetapi ada waktu tertentu yang harus diperhatikan ketika makanan berada pada suhu ruang.
Prof. Meilinah menjelaskan bahwa suhu tertentu dapat menciptakan lingkungan yang mendukung pertumbuhan bakteri. Oleh karena itu, semakin lama makanan dibiarkan dalam kondisi tersebut, semakin tinggi risiko pertumbuhan bakteri. "Jadi penting sekali kalau melabel makanan itu selesai dimasak jam berapa," ungkapnya. Pencantuman waktu selesai memasak sangat penting, terutama untuk makanan yang diproduksi dalam jumlah besar dan memerlukan proses distribusi sebelum sampai ke konsumen.
Risiko Kontaminasi pada Proses Distribusi
Waktu konsumsi menjadi semakin krusial ketika makanan harus melalui proses distribusi. Dalam kasus makanan yang diproduksi untuk banyak orang, seperti dalam program MBG, makanan harus melewati beberapa tahapan sebelum diterima. Prof. Meilinah mengungkapkan bahwa setiap tahapan dalam rantai penyediaan makanan memiliki risiko kontaminasi, mulai dari bahan baku, penyimpanan, pemotongan, pemasakan, pemorsian, pengemasan, hingga transportasi. Keterlambatan dalam distribusi dapat membuat makanan berada lebih lama dalam kondisi yang mendukung pertumbuhan bakteri. "Misalnya terlambat distribusi, mobilnya mogok, itu jangka waktu empat jam dari sejak label masak selesai sampai tiba di sekolah yang dituju itu jangan-jangan bisa lebih dari empat jam," katanya.
Untuk makanan yang disimpan di kulkas, berbeda dengan makanan yang dibiarkan pada suhu ruang, penyimpanan dalam kondisi dingin dapat memperpanjang masa simpan. Prof. Meilinah menjelaskan bahwa makanan yang disimpan di chiller pada suhu sekitar 4 derajat Celsius dapat bertahan lebih lama dibandingkan makanan yang dibiarkan pada suhu ruang. Ia menyebutkan bahwa makanan yang disimpan dalam chiller dapat bertahan sekitar satu hingga dua hari, tergantung pada jenis dan kondisi makanan. Sementara itu, makanan yang disimpan dalam kondisi beku dapat memiliki masa simpan yang lebih lama lagi.
Salah satu hal yang perlu diingat adalah bahwa keamanan makanan tidak selalu dapat dinilai hanya dari penampilan atau aromanya. Makanan yang terlihat baik belum tentu bebas dari bakteri atau toksin yang dapat membahayakan kesehatan. Oleh karena itu, waktu makanan selesai dimasak, cara penyimpanan, dan berapa lama makanan berada dalam proses distribusi menjadi informasi penting untuk menentukan keamanan makanan.
Jadi, berapa lama makanan aman untuk dikonsumsi? Prof. Meilinah menegaskan bahwa makanan yang berada pada suhu ruang sebaiknya tidak dibiarkan terlalu lama, dengan batas waktu sekitar empat jam yang perlu diperhatikan. Namun, makanan yang paling baik tetap dikonsumsi sesegera mungkin setelah matang. Oleh karena itu, jika makanan tidak langsung disantap, penting untuk memastikan penyimpanannya dilakukan dengan benar dan waktu penyimpanan tetap diperhatikan. Ini bukan hanya penting untuk makanan dalam jumlah besar seperti MBG, tetapi juga untuk makanan sehari-hari yang disiapkan di rumah. Pada akhirnya, keamanan makanan tidak hanya ditentukan oleh apakah makanan sudah matang, tetapi juga oleh berapa lama makanan dibiarkan, pada suhu berapa makanan disimpan, dan bagaimana makanan ditangani setelah dimasak.