Kejadian dugaan keracunan massal setelah konsumsi Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali menjadi sorotan publik. Dalam waktu satu minggu terakhir, ratusan anak di daerah Sidoarjo, Nganjuk, Rembang, dan Tana Toraja dilaporkan mengalami sakit dan memerlukan perawatan medis setelah menyantap hidangan tersebut. Menanggapi situasi ini, penting bagi masyarakat untuk memahami faktor-faktor yang dapat menyebabkan masalah pencernaan pada anak.
Faktor Penyebab Keracunan Makanan
Spesialis anak, dr. Rizqi Agung Wicaksana, Sp.A, menjelaskan bahwa keracunan makanan dapat terjadi akibat kontaminasi oleh virus, bakteri, parasit, atau zat kimia yang muncul selama proses penyajian. Masuknya patogen ke dalam sistem pencernaan dapat terjadi melalui berbagai cara, yang semuanya mengarah pada infeksi saluran pencernaan. Wakil Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Banten, dr. Arifin Kurniawan Kashmir, SpA., M.Kes., CHt., FISQua menambahkan bahwa ada tiga mekanisme utama yang menyebabkan infeksi, salah satunya adalah infeksi oleh kuman hidup.
“Kuman yang hidup, yang jahat itu, kayak misalkan Salmonella, Campylobacter, itu tertelan secara langsung dari makanannya, lalu berkembang biak di saluran cerna,” jelas dr. Arifin. Mekanisme kedua adalah intoksikasi yang disebabkan oleh racun dari Staphylococcus aureus, Bacillus cereus, atau kontaminan logam berat. Reaksi tubuh terhadap toksin ini biasanya muncul lebih cepat, dalam hitungan menit hingga jam. “Biasanya efeknya lebih cepat, hitungannya menit sampai jam,” tambahnya.
Walaupun makanan telah dimasak dengan baik, racun tetap dapat bertahan dan memicu reaksi negatif pada tubuh. Mekanisme ketiga adalah ketika bakteri tertelan dan memproduksi racun di dalam usus. Selain bakteri seperti Salmonella dan Clostridium, virus juga menjadi penyebab yang perlu diwaspadai, contohnya Norovirus.
Risiko Kontaminasi dalam Penyajian Makanan
dr. Arifin menjelaskan bahwa ada sejumlah bahan makanan yang berisiko tinggi jika tidak ditangani dengan baik. “Misalkan kayak daging, ayam, ikan, telur setengah matang yang memang tidak bersih, susu yang enggak dipasteurisasi, terus sayur-sayuran yang tercemar air kotor,” ungkapnya. Namun, ancaman terbesar justru berasal dari kebersihan area pengolahan makanan. Banyak penyedia makanan yang tidak menjaga higienitas peralatan masak mereka.
Menurut dr. Wirawan Hambali, SpPD, FINASIM, sayuran atau daging segar tetap dapat memicu penyakit jika terpapar bakteri dari sumber lain yang kotor. “Kontaminasi dapat terjadi karena makanan mentah, kurang matang, penyimpanan yang tidak baik, atau higiene tangan dan peralatan yang buruk,” terangnya. Kontaminasi silang, yaitu perpindahan bakteri dari satu tempat ke tempat lain, dapat terjadi melalui tangan yang tidak bersih atau alat masak yang terkontaminasi.
“Bisa dari kontaminasi silang. Misalkan tangan yang belum dicuci bersih, alat masak yang tercemar, terus talenan, yang akibatnya akan menulari makanan, yang sebenarnya bahan makanannya bersih,” tambah dr. Arifin.
Anak Lebih Rentan Terhadap Keracunan
Anak-anak, terutama balita, cenderung lebih rentan terhadap keracunan makanan dibandingkan orang dewasa. Sistem organ mereka belum sepenuhnya berkembang untuk melawan kuman dan bakteri berbahaya. “Sistem pertahanan tubuhnya juga belum bagus, asam lambungnya belum sekuat orang dewasa untuk membunuh kuman,” jelas dr. Arifin. Selain itu, bobot tubuh yang lebih kecil membuat anak-anak lebih terpengaruh oleh dosis bakteri yang lebih sedikit.
“Makanya kalau kasus keracunan dalam satu keluarga, makanannya sama, bapaknya mungkin diare, mungkin muntah, tapi anaknya bisa sampai hilang kesadaran dan yang lain, lebih berat,” tambahnya.