Teknologi

Pentingnya Sistem Peringatan Dini Bencana di Indonesia

Indonesia perlu memperkuat sistem peringatan dini bencana untuk meningkatkan mitigasi risiko, mengingat negara ini terletak di kawasan rawan bencana.

T
Theresia Agatha Lestari
21 August 2026 68 pembaca
Foto: Warga berjalan di dekat rumah yang rusak akibat gempa bumi di kawasan Dampek, Kabupaten Manggarai Timur, NTT, Selasa (18/8/2026). ANTARA FOTO/Fikri Yusuf
Foto: Warga berjalan di dekat rumah yang rusak akibat gempa bumi di kawasan Dampek, Kabupaten Manggarai Timur, NTT, Selasa (18/8/2026). ANTARA FOTO/Fikri Yusuf

Jakarta - Indonesia diharapkan untuk memperkuat dan mengembangkan sistem peringatan dini (Early Warning System/EWS) sebagai bagian dari strategi mitigasi bencana. Hal ini menjadi semakin krusial mengingat posisi Indonesia yang berada di kawasan cincin api atau Ring of Fire.

Heru Sutadi, Direktur Eksekutif ICT Institute, menyatakan bahwa ancaman bencana di Indonesia sangat beragam, mencakup gunung berapi, gempa bumi, tsunami, tanah longsor, banjir, hingga kebakaran hutan. "Intinya EWS sangat penting sebab kita adalah negara yang disebut Ring of Fire dan beragam bencana kerap menerjang Indonesia, dari gunung meletus, gempa bumi, tsunami, tanah longsor, banjir, kebakaran hutan dan lainnya," ungkapnya.

Perlunya Pengembangan Mekanisme Penyebaran Informasi

Heru menjelaskan bahwa Indonesia sebenarnya telah memiliki mekanisme penyebaran informasi terkait kebencanaan yang melibatkan berbagai pihak. Pada tahap awal, lembaga yang berwenang berkoordinasi dengan operator telekomunikasi dan penyelenggara penyiaran untuk menyampaikan informasi kepada masyarakat. Salah satu contohnya adalah saat terjadi gempa yang berpotensi memicu tsunami, di mana informasi peringatan dapat langsung disampaikan ke ponsel masyarakat di daerah yang berisiko terdampak.

Namun, ia menilai bahwa mekanisme yang ada saat ini perlu ditingkatkan untuk menjadi sistem yang lebih canggih dan terintegrasi. "Di era awal-awal, sebenarnya sudah ada koordinasi antara pihak terkait yang menginformasikan kebencanaan dengan operator telekomunikasi dan juga penyelenggara penyiaran. Tapi sekarang agaknya perlu dikembangkan lebih canggih dan terintegrasi," tuturnya.

Kolaborasi untuk Efektivitas Sistem Peringatan Dini

Menurut Heru, pengembangan EWS nasional tidak bisa dilakukan oleh satu institusi saja. Sistem ini memerlukan kolaborasi antara kementerian dan lembaga yang menangani kebencanaan, operator telekomunikasi, serta lembaga penyiaran. Kerja sama ini penting agar informasi dari sistem pemantauan bencana dapat disampaikan kepada masyarakat dengan cepat melalui berbagai saluran komunikasi.

Dengan dukungan dari operator seluler, peringatan dapat disebarkan kepada perangkat yang berada di wilayah berisiko, sementara lembaga penyiaran dapat berfungsi sebagai saluran tambahan untuk menjangkau masyarakat yang sedang menonton televisi. "Perlu kolaborasi K/L terkait kebencanaan, operator telekomunikasi dan lembaga penyiaran," tambahnya.

Heru juga menekankan bahwa sistem peringatan dini harus diarahkan agar dapat bekerja secara lebih terintegrasi, sehingga masyarakat tidak hanya menerima informasi setelah bencana terjadi, tetapi juga mendapatkan peringatan sedini mungkin ketika ada indikasi ancaman. Penguatan EWS juga memerlukan dukungan anggaran, karena transformasi sistem kebencanaan nasional menjadi lebih cerdas dan terintegrasi tidak hanya bergantung pada infrastruktur yang sudah ada. "Ya harus juga disediakan anggaran untuk mentransformasikan sistem kebencanaan nasional lebih cerdas dan terintegrasi," tegasnya.

Hingga berita ini ditayangkan, detikINET telah berusaha menghubungi Kementerian Komunikasi dan Informatika terkait pengembangan EWS nasional, namun belum mendapatkan tanggapan dari pihak pemerintah.

Artikel Terkait