Teknologi

Pentingnya Membangun Ekosistem Digital Sehat untuk Anak-anak

Kementerian Komunikasi dan Digital menargetkan Indonesia Game Rating System (IGRS) kembali aktif tahun ini. Psikolog klinis Veronica Adesla menekankan perlunya penguatan regulasi dan edukasi untuk men...

D
Danendra Surya
20 October 2026 58 pembaca
Rating Game IGRS Komdigi. Foto: Adi FR/detikINET
Rating Game IGRS Komdigi. Foto: Adi FR/detikINET

Jakarta - Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) berencana untuk mengaktifkan kembali Indonesia Game Rating System (IGRS) pada tahun ini. Veronica Adesla, Co-founder dan Psikolog Klinis Ohana Space, menyampaikan pentingnya menciptakan ekosistem digital yang sehat untuk mendukung pertumbuhan anak.

Regulasi dan Pengawasan yang Diperlukan

Veronica mengungkapkan bahwa selain pembatasan akses, penguatan regulasi terhadap penyedia platform dan pengembang game sangat diperlukan. Ia menekankan pentingnya pengawasan yang tepat dan akurat terkait sistem klarifikasi usia dalam permainan. "IGRS diharapkan dapat mengidentifikasi dan menindak fitur-fitur yang berpotensi mendorong perilaku kompulsif anak dalam bermain game sesuai dengan usia," ujarnya.

Fitur-fitur tersebut termasuk sistem transaksi acak berbayar dan hadiah berulang yang dapat membuat anak terus bermain. Selain itu, perlindungan dari interaksi berbahaya dalam permainan digital, seperti dengan orang asing, penipuan, dan perundungan digital juga harus menjadi perhatian.

Pendidikan dan Literasi Digital

Veronica juga menekankan pentingnya literasi dan edukasi mengenai kesehatan mental digital dalam kurikulum pendidikan. Anak-anak perlu diajarkan untuk mengenali kapan aktivitas digital mulai berdampak negatif pada emosinya, seperti mudah marah dan kesulitan berkonsentrasi.

Pemerintah diharapkan memberikan program edukasi yang praktis untuk orang tua dan pendidik tentang penggunaan teknologi. "Anak yang menunjukkan penggunaan game bermasalah perlu mendapatkan bantuan, bukan langsung diberi label kecanduan," tambahnya. Identifikasi yang tepat terhadap penggunaan game yang berlebihan juga penting, terutama jika berkaitan dengan masalah lain seperti kesepian atau tekanan akademik.

Veronica menekankan bahwa dukungan untuk industri game dalam mengembangkan permainan edukatif yang mendorong kreativitas, pemecahan masalah, dan keterampilan berpikir kritis juga sangat penting. Dengan cara ini, teknologi dapat berfungsi sebagai alat pengembangan potensi anak, bukan hanya sebagai ancaman.

Ia juga mengingatkan bahwa tidak semua anak yang sering bermain game mengalami gangguan adiksi. Menurut WHO, gaming disorder diidentifikasi berdasarkan gangguan kontrol perilaku bermain dan dampak negatif yang signifikan. "Karena itu, ukuran keberhasilan kebijakan pemerintah seharusnya tidak hanya dilihat dari kategori usia permainan, tetapi juga dari peningkatan kemampuan regulasi diri dan kualitas hubungan sosial anak," tegasnya.

Artikel Terkait