Kesehatan

Pentingnya Gaya Hidup Sehat untuk Mengatasi Masalah Kesuburan

Infertilitas menjadi tantangan bagi pasangan suami istri yang ingin memiliki keturunan. Evaluasi medis dan gaya hidup sehat menjadi kunci dalam mengatasi masalah ini.

A
Ahmad Fauzan
12 June 2026 8 pembaca
Pentingnya Gaya Hidup Sehat untuk Mengatasi Masalah Kesuburan
Sumber gambar: lifestyle.kompas.com

JAKARTA - Ketidakmampuan untuk memiliki anak atau infertilitas merupakan tantangan yang memerlukan kesabaran ekstra bagi pasangan suami istri. Umumnya, kondisi ini mulai dievaluasi secara klinis setelah pasangan berusaha untuk hamil dalam waktu yang cukup lama tanpa hasil yang diinginkan. Namun, penanganan masalah kesuburan tidak hanya menjadi tanggung jawab istri, melainkan juga memerlukan komitmen dari suami untuk menjalani pemeriksaan menyeluruh guna mengetahui akar permasalahannya.

Evaluasi Medis Pasangan

Dalam acara Brawijaya Hospital Partner Gathering di Jakarta Selatan, dr. med. Firman Santoso, Sp.OG dari Jakarta Gynecology Center (JGC) di Brawijaya Hospital Antasari, menjelaskan bahwa ada istilah yang dikenal sebagai infertilitas primer. "Artinya, suatu pasangan ini sudah mencoba untuk hamil selama satu tahun penuh tanpa adanya intervensi dari kontrasepsi, tapi masih tidak berhasil," ungkapnya.

Ketika pasangan menghadapi kendala kesuburan, evaluasi medis harus dilakukan secara bersamaan antara suami dan istri. Hal ini penting untuk memetakan kondisi fisik masing-masing individu secara objektif. "Kalau seorang couple itu tidak bisa hamil, kan 40 persen dari sisi pria, 40 persen dari sisi wanita. 20 persen itu unexplained, artinya dua-duanya bagus tapi kok masih bisa tidak hamil," tambah dr. Firman.

Pentingnya Gaya Hidup Sehat

Evaluasi dasar untuk perempuan meliputi pengamatan pola siklus menstruasi dan pemeriksaan ultrasonografi untuk mendeteksi adanya kista, miom, atau adenomiosis. Dokter juga akan memeriksa profil hormonal dan memastikan tidak ada sumbatan pada saluran indung telur atau tuba falopi. Sedangkan untuk pria, kualitas cairan mani menjadi fokus utama pengujian di laboratorium. "Pada sisi pria, kita harus melakukan yang namanya sperm analysis. Jadi kita melihat kualitas spermanya. Jumlahnya, volumenya, kecepatan bergeraknya, bentuk normal dan abnormalnya," jelas dr. Firman.

Hasil dari serangkaian uji medis ini sering kali menunjukkan bahwa gaya hidup memiliki peranan yang sangat penting. Kurangnya aktivitas fisik dan pola makan yang buruk dapat memengaruhi fungsi organ reproduksi. "Kalau misalnya wanita atau prianya adipos, gemuk, tidak pernah berolahraga, ada diabetes, nah itu kadang merupakan faktor utama yang menghambat terjadinya kehamilan," ungkap dr. Firman.

Pada wanita, penyakit seperti diabetes dapat menyebabkan resistensi insulin yang berdampak langsung pada siklus ovulasi, sehingga folikel kesulitan mencapai kematangan sempurna. Di sisi lain, bagi pria, kebiasaan merokok dan penggunaan rokok elektrik atau vape dapat membawa racun berbahaya bagi tubuh. "Secara chemical stuff, dia (vape) lebih toksin dibanding dengan rokok kretek biasa. Chemical stuff-nya lebih deadly," tutur dr. Firman.

Stres yang tinggi juga dapat memperburuk keadaan dengan memicu pola makan yang tidak sehat dan kurang tidur. Langkah kecil seperti meningkatkan asupan air dan rutin berjalan kaki dapat berkontribusi pada kesehatan jangka panjang.

Perbaikan Pola Hidup Sebelum Tindakan Medis

Tingkat keberhasilan pembuahan sangat dipengaruhi oleh volume dan kualitas sperma yang memadai. Jika jumlah sperma rendah, peluang sel telur untuk berinteraksi dengan sperma yang bergerak baik menjadi lebih kecil. "Semakin banyak sperm yang akan menyerbu satu ovum yang normal, semakin chance berhasilnya semakin besar," papar dr. Firman.

Faktor usia memang menyebabkan penurunan cadangan sel telur pada perempuan secara alami. Meskipun demikian, kualitas sel telur yang tersisa sangat bergantung pada rutinitas harian pasien. Hal ini terbukti dari seorang pasien berusia 42 tahun yang berhasil hamil setelah memperbaiki pola hidupnya. "Umumnya, begitu pasien berubah pola hidupnya, mereka menjaga makan, mereka rajin olahraga, otomatis beratnya turun. Kehamilan umumnya terjadi dengan sendirinya padahal kita belum ngapa-ngapain," ucap dr. Firman.

Program bayi tabung atau In Vitro Fertilization (IVF) seharusnya tidak menjadi pilihan instan bagi pasangan yang pola hidupnya belum teratur. Intervensi medis lanjutan lebih direkomendasikan bagi pasien yang mengalami kerusakan organ permanen. "Kalau tuba tidak berfungsi ya mau enggak mau, kita enggak bisa lewat hamil normal, jadi mesti lewat dari IVF. Jadi lebih tepat sasaran," tutup dr. Firman.

Artikel Terkait