Kesehatan

Mengenang Ayah Melalui Tapa Bisu dalam Kirab 1 Suro

Ribuan orang berkumpul di Pura Mangkunegaran, Surakarta, untuk mengikuti peringatan 1 Suro, termasuk Jojo yang ingin mengenang ayahnya melalui tapa bisu.

Y
Yusuf Ahmad Pratama
17 June 2026 6 pembaca
Mengenang Ayah Melalui Tapa Bisu dalam Kirab 1 Suro
Sumber gambar: lifestyle.kompas.com

Pada malam Selasa (16/6/2026), ribuan peserta memadati kawasan Pura Mangkunegaran di Surakarta untuk merayakan peringatan 1 Suro Be 1960. Di antara mereka, terdapat Jojo, seorang peserta asal Kediri, yang memiliki motivasi pribadi untuk mengikuti prosesi tersebut. Bagi Jojo, kehadirannya di Kirab 1 Suro lebih dari sekadar menyaksikan tradisi tahunan yang kaya makna; ia ingin merasakan pengalaman tapa bisu, sebuah praktik yang mengajak peserta untuk berjalan tanpa berbicara sambil merenungkan diri. Keinginan ini semakin mendalam karena ia baru saja kehilangan ayahnya. Melalui tapa bisu, Jojo berharap dapat memberikan ruang bagi dirinya untuk mengenang sosok yang telah tiada sekaligus menenangkan hatinya.

Pengalaman Tapa Bisu yang Bermakna

"Aku juga ingin melihat langsung. Kan ada tapa bisu. Ingin bercermin tentang diri saya dan kebetulan papa saya baru saja meninggal. Jadi sebagai cara saya untuk menenangkan diri," ungkap Jojo. Tapa bisu menjadi salah satu rangkaian utama dalam Kirab Pusaka Dalem yang diadakan dalam peringatan 1 Suro di Mangkunegaran. Dalam prosesi ini, peserta berjalan mengelilingi tembok luar Pura Mangkunegaran dalam suasana hening tanpa percakapan. Bagi banyak orang, tapa bisu bukan hanya sekadar tradisi budaya, melainkan juga kesempatan untuk berhenti sejenak dari kesibukan sehari-hari dan merenungkan diri.

Jojo merasakan hal yang sama. Di tengah langkah yang diambil bersama ribuan peserta lainnya, ia berusaha menghayati setiap momen sebagai bentuk refleksi atas perjalanan hidupnya. Pengalaman tersebut memberinya pemahaman mengapa banyak orang rela datang dari berbagai daerah untuk mengikuti malam 1 Suro di Mangkunegaran. Ini bukan hanya tentang nilai budaya, tetapi juga tentang menemukan ketenangan di tengah keramaian kehidupan.

Makna Tema "Mulih Pulih"

Kisah Jojo sejalan dengan tema peringatan 1 Suro Be 1960 yang diusung oleh Mangkunegaran tahun ini, yaitu "Mulih Pulih". Dalam keterangan resmi, tema ini dimaknai sebagai ajakan untuk kembali kepada diri sendiri demi menemukan pemulihan. Konsep "mulih" tidak hanya berarti perjalanan kembali secara fisik, tetapi juga kembali kepada akar budaya dan ruang batin yang paling dalam. Dari proses kembali atau "mulih" ini diharapkan muncul keadaan "pulih", di mana seseorang dapat menerima, memahami, dan menyusun kembali dirinya.

Tema tersebut diwujudkan dalam rangkaian tirakat selama 24 jam yang terbagi dalam tiga fase: Atita (masa lalu), Atiki (masa kini), dan Anagata (masa depan). Ketiga fase ini mengajak peserta untuk melepaskan yang telah berlalu, hadir sepenuhnya pada saat ini, dan menyambut masa depan dengan kesadaran baru. Bagi Jojo, pengalaman mengikuti tapa bisu pada malam 1 Suro menjadi lebih dari sekadar mengikuti sebuah tradisi.

Di tengah kesedihan akibat kehilangan ayahnya, ia menemukan ruang untuk berhenti sejenak, mengenang, dan merencanakan langkah untuk melanjutkan perjalanan hidupnya. Di sinilah makna "Mulih Pulih" terasa sangat nyata, ketika seseorang kembali kepada dirinya sendiri untuk perlahan menemukan ketenangan dan pemulihan.

Artikel Terkait