Jakarta - Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka mengingatkan para pelajar untuk memanfaatkan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) sebagai alat yang dapat mempercepat proses belajar, bukan sebagai cara untuk bermalas-malasan. Di tengah kemajuan teknologi AI yang semakin mudah diakses, Gibran menekankan bahwa generasi muda Indonesia harus mampu memanfaatkannya untuk meningkatkan kemampuan dan daya saing mereka.
Menurut Gibran, AI dapat membantu siswa dalam memahami berbagai materi pelajaran dengan lebih cepat dan efektif. "AI adalah alat untuk mempercepat, bukan alat untuk membuat kalian malas," ungkapnya melalui akun Instagram resminya.
AI sebagai Asisten Pribadi
Gibran menjelaskan bahwa AI dapat berfungsi seperti asisten pribadi yang membantu pelajar dalam mencari informasi, mempelajari bahasa asing, hingga memahami materi pelajaran yang kompleks dengan cara yang lebih sederhana. "Bayangkan AI sebagai asisten pribadi yang membantu kalian belajar, mencari data, mempelajari bahasa asing lebih cepat, bahkan memahami rumus matematika yang rumit dengan cara yang lebih sederhana," jelasnya.
Ia juga mengingatkan generasi muda untuk menguasai AI, yang bukan hanya sekadar tren masa depan, tetapi sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. "Dalam beberapa kesempatan, saya sering menyampaikan bahwa AI bukan lagi masa depan. AI adalah hari ini. Kita tidak bisa lagi menutup mata atau sekadar menjadi penonton. Kita harus menjadi pemain, kita harus menjadi penguasa teknologi tersebut," tambahnya.
Pentingnya Berpikir Kritis dan Kreativitas
Meski demikian, Gibran menekankan bahwa penggunaan AI tidak boleh mengurangi kemampuan berpikir kritis para pelajar. Teknologi ini harus digunakan untuk memicu kreativitas dan memperkaya proses belajar, bukan menggantikan kemampuan manusia dalam menganalisis dan memecahkan masalah. "Gunakan AI untuk memicu kreativitas, bukan untuk menggantikan kemampuan berpikir kalian sendiri," tegasnya.
Selain itu, Gibran juga mengajak para guru untuk tidak takut menghadapi perkembangan teknologi yang berlangsung cepat. Ia berpendapat bahwa AI dapat menjadi alat bantu yang mempermudah proses pembelajaran dan mengurangi beban administratif di sekolah. "Saya harap para guru tidak pernah menyerah untuk meningkatkan kemampuan diri. Guru yang menguasai AI akan memiliki kekuatan super untuk mendidik dengan lebih efektif," ungkapnya.
Gibran menilai bahwa AI dapat membantu guru dalam menyusun pertanyaan, menyederhanakan materi pelajaran, serta memberikan contoh-contoh pembelajaran yang lebih mudah dipahami oleh siswa. "AI bisa membantu sisi administratif guru baik dalam membuat pertanyaan, menyajikan penjelasan yang lebih sederhana dan diminati murid, serta memberikan contoh kasus yang membuat murid lebih bisa menyerap materi pembelajaran," jelasnya.
Ia juga memberikan perhatian khusus kepada orang tua, mengingatkan agar mereka tidak tertinggal dari perkembangan teknologi yang digunakan anak-anak dalam aktivitas sehari-hari. Pendampingan orang tua tetap menjadi faktor penting agar pemanfaatan teknologi berjalan positif dan tidak disalahgunakan.
Lebih lanjut, Gibran menekankan bahwa penguasaan teknologi harus diimbangi dengan etika. Ia mengingatkan bahwa meskipun AI dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan hal-hal positif, teknologi ini juga berpotensi disalahgunakan untuk menyebarkan hoaks, melakukan plagiarisme, atau melanggar privasi. "Teknologi tanpa etika itu berbahaya. AI bisa digunakan untuk membuat konten positif, tapi juga bisa dipakai untuk menyebar hoax, melakukan plagiarisme, atau melanggar privasi orang lain," katanya.
Gibran pun meminta generasi muda untuk memanfaatkan AI secara bertanggung jawab dan menjunjung tinggi integritas. "Jangan gunakan AI untuk menipu. Jangan gunakan AI untuk menjatuhkan orang lain. AI harus digunakan untuk kesejahteraan bersama, untuk mempermudah hidup, bukan untuk menciptakan kekacauan sosial," pungkasnya.