Kesehatan

Pengalaman Pahit Allysa Hawadi dalam Program Bayi Tabung di Luar Negeri

Allysa Hawadi dan suaminya, Candi Soeleman, mengalami tantangan emosional saat menjalani program bayi tabung di Malaysia, yang berakhir dengan kegagalan. Mereka kemudian memilih untuk melanjutkan prog...

D
Danendra Surya
30 August 2026 50 pembaca
Pengalaman Pahit Allysa Hawadi dalam Program Bayi Tabung di Luar Negeri
Sumber gambar: lifestyle.kompas.com

JAKARTA - Banyak pasangan suami istri yang mempertimbangkan untuk mengikuti program bayi tabung di luar negeri, dengan harapan dapat menjalani prosedur medis sambil berlibur. Namun, kenyataannya, jauh dari rumah dan dukungan orang-orang terdekat justru dapat menambah beban mental. Hal ini dialami oleh Allysa Hawadi, Co-founder Benang Jarum, dan suaminya, Candi Soeleman, yang mencoba program tersebut di Malaysia namun mengalami kegagalan.

Pasangan ini sempat berharap mendapatkan hasil yang baik dari program bayi tabung di negara tetangga, namun harus menghadapi kenyataan pahit akibat stres dan kurangnya dukungan sosial. Setelah mengalami kegagalan, mereka memutuskan untuk mencoba kembali di Jakarta, yang ternyata memberikan hasil yang lebih positif berkat kedekatan dengan keluarga.

Tantangan dalam Program Bayi Tabung di Luar Negeri

Proses yang harus dilalui untuk mengikuti program bayi tabung di luar negeri memerlukan persiapan dokumen kesehatan yang sangat rinci. Sayangnya, rekam medis yang telah disiapkan dengan baik dari Jakarta tidak diakui oleh klinik di Malaysia. Candi menjelaskan, "Ini mereka yang, pertama kali kita bawa bundle, yang 'no need, no need' gitu. Dan ternyata (program bayi tabung) tidak berhasil." Kegagalan ini sangat menyakitkan karena mereka tidak mendapatkan penjelasan yang jelas mengenai alasan di balik kegagalan transfer embrio tersebut.

Ketidakpastian dan prosedur yang tidak terarah membuat mereka merasa frustrasi, terutama setelah meninggalkan rutinitas di Jakarta. "Meninggalkan orangtua, meninggalkan keluarga, meninggalkan rumah, apalagi meninggalkan pekerjaan gitu kan," ungkap Candi, merasakan beban emosional yang berat.

Realitas yang Menyakitkan dan Kembali ke Jakarta

Menunggu hasil selama dua minggu setelah prosedur menjadi fase yang paling menegangkan. Allysa merasakan tekanan mental yang besar karena tidak memiliki bantuan di luar negeri. "Aku cuma berdua doang, dua minggu di luar negeri sama suami, tanpa bantuan siapapun," kata Allysa. Rencana untuk bersantai berubah menjadi tantangan ketika dia harus mencari makanan sendiri, meskipun dalam kondisi tubuh yang tidak nyaman setelah prosedur.

Setelah mengalami kegagalan di luar negeri, pasangan ini kembali ke Jakarta untuk melanjutkan program bayi tabung dengan dukungan dari keluarga. Allysa merasa lebih baik ketika dikelilingi oleh orang-orang terdekat yang memberikan semangat. "Waktu itu alhamdulillah aku punya sahabat dan keluarga yang sangat suportif datang ke rumah, bawain makanan," ujarnya. Kehadiran keluarga terbukti memberikan dampak positif bagi kesehatan mental dan emosional mereka.

Prof. Dr. dr. Budi Wiweko, seorang spesialis fertilitas, menyatakan bahwa dukungan dari keluarga sangat penting dalam proses ini. "Support dari pasangan itu penting sekali, tapi Supporting dari keluarga lebih penting lagi," jelasnya. Hal ini menunjukkan bahwa kedekatan dengan orang-orang terkasih dapat mengurangi stres yang dialami selama proses bayi tabung.

Candi pun menyarankan agar pasangan yang berencana mengikuti program bayi tabung mempertimbangkan dengan matang sebelum memutuskan untuk pergi ke luar negeri, mengingat tantangan yang mungkin dihadapi.

Artikel Terkait