Jakarta - Pemerintah Indonesia melakukan perubahan dalam strategi pemerataan akses internet di seluruh negeri. Berbeda dengan sebelumnya yang lebih fokus pada pembangunan base transceiver station (BTS), kini pemerintah berencana untuk menggunakan teknologi yang paling sesuai dengan karakteristik wilayah masing-masing.
Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Nezar Patria menyatakan bahwa pembangunan jaringan di masa mendatang tidak akan lagi menggunakan pendekatan yang seragam. Sebagai gantinya, pemerintah akan memadukan berbagai teknologi, termasuk BTS, fiber optik, satelit, dan metode telekomunikasi lainnya untuk memastikan layanan internet dapat menjangkau lebih banyak masyarakat, termasuk di daerah dengan kondisi geografis yang sulit dijangkau.
Pemetaan Prioritas Wilayah
Nezar menjelaskan, "Kita coba petakan mana yang prioritas. Yang mungkin tidak bisa ditembus dengan BTS, mungkin lewat satelit atau moda jaringan telekomunikasi yang lain," dalam keterangan tertulisnya pada Kamis (6/8/2026). Menurutnya, setiap wilayah memiliki tantangan yang berbeda, sehingga teknologi yang digunakan harus disesuaikan. Dengan pendekatan ini, diharapkan pembangunan konektivitas dapat lebih efektif dan menjangkau daerah-daerah yang selama ini mengalami keterbatasan akses internet.
Contohnya, Kalimantan Timur telah mencapai tingkat konektivitas sebesar 95,5 persen. Dari total 841 desa yang ada di provinsi tersebut, 803 desa telah mendapatkan layanan jaringan telekomunikasi. Namun, masih ada 269 titik blankspot yang perlu segera ditangani. Penyelesaian masalah ini akan dilakukan melalui kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, BAKTI Komdigi, dan operator telekomunikasi.
Sinergi untuk Mempercepat Pembangunan
Nezar menekankan bahwa keterbatasan anggaran tidak boleh menjadi penghalang dalam pemerataan akses digital. Oleh karena itu, sinergi antara berbagai pemangku kepentingan dianggap krusial untuk mempercepat pembangunan jaringan di wilayah yang belum terlayani atau yang masih memiliki kualitas sinyal yang rendah. "Dengan sinergi yang kita lakukan, kita bisa saling menguatkan dan mewujudkan beberapa titik yang memang dibutuhkan oleh masyarakat," ujarnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Provinsi Kalimantan Timur, Ririn Sari Dewi, mengatakan bahwa pemerintah provinsi juga menerapkan strategi serupa dengan mengombinasikan berbagai teknologi sesuai dengan kondisi wilayah. Ia menambahkan bahwa penyediaan akses internet tidak hanya mengandalkan jaringan fiber optik, tetapi juga memanfaatkan VSAT dan satelit agar layanan dapat menjangkau desa-desa yang sulit diakses.
Ririn menyatakan, "Kami memilih beberapa paduan teknologi yang paling sesuai sehingga efektif pada saat kita deliver layanan akses internet di desa." Ia juga menekankan bahwa percepatan pemerataan konektivitas masih memerlukan dukungan dari pemerintah pusat, baik melalui sinkronisasi data, penguatan kebijakan, maupun kolaborasi lintas pemangku kepentingan. "Kuncinya sekarang dalam kondisi tersebut kita kolaborasi. Jadi kami mohon dukungan penuh. Komitmen kami juga membersamai program-program, salah satunya internet," tutupnya.