Kesehatan

Pahami Komposisi Tubuh Sebelum Memulai Diet dan Olahraga

Banyak orang yang terburu-buru mengikuti program diet dan olahraga tanpa memahami komposisi tubuh mereka, yang dapat berisiko pada kesehatan. Penting untuk melakukan analisis tubuh agar program yang d...

N
Nathania Gabriella Wardani
16 June 2026 17 pembaca
Pahami Komposisi Tubuh Sebelum Memulai Diet dan Olahraga
Sumber gambar: lifestyle.kompas.com

JAKARTA - Banyak individu yang langsung mendaftar ke gym atau mengikuti kelas olahraga intensif dengan harapan cepat menurunkan berat badan. Sayangnya, tanpa pemahaman yang tepat mengenai kondisi biologis tubuh, tindakan terburu-buru ini sering kali tidak memberikan hasil yang diinginkan dan dapat meningkatkan risiko cedera pada tulang maupun otot. Mengetahui angka berat badan yang tertera di timbangan tidak cukup untuk menilai kebugaran tubuh secara keseluruhan.

Proses penilaian kondisi tubuh ini sangat penting agar program diet dan olahraga yang dirancang oleh profesional kesehatan tidak meleset dari sasaran. "You can fix what you can measure. Jadi basically, kita memang harus cek apa yang terjadi di badan kita, baru kita bisa tahu kita harus ngapain sih," ungkap dr. Febby Astari, IFMCP, dari Seraphim Medical Center, dalam sebuah talkshow di Ageless Festival, Pondok Indah Mall 3, Jakarta Selatan.

Pentingnya Mengetahui Komposisi Tubuh

Untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas tentang kondisi internal tubuh, pasien disarankan untuk melakukan pemeriksaan laboratorium yang lebih mendalam jika diperlukan. Langkah asesmen klinis yang paling dianjurkan adalah menggunakan alat analisis komposisi tubuh seperti InBody. Menurut dr. Dwi Kristanto Wongso, M.Biomed (AAM), atau dr. Kris, alat ini dapat memberikan rincian elemen-elemen penyusun tubuh hingga tingkat persentase.

"Kita harus tahu badan kita. Misalnya berat badan kita 70 kilogram. Itu harus tahu ototnya berapa kilogram, lemaknya berapa kilogram, airnya berapa kilogram," jelas dr. Kris. Pengetahuan mengenai komposisi tubuh ini juga penting untuk mengidentifikasi adanya masalah dalam distribusi air di dalam tubuh pasien.

"Jadi, pentingnya adalah kita supaya bisa tahu komposisinya seperti apa, dan kalau udah tahu komposisinya kayak gimana, kurangnya di mana, itu bisa kita perbaiki," tambahnya. Informasi detail dari alat InBody ini akan sangat membantu dokter dan pasien dalam menetapkan target yang realistis terkait massa otot dan persentase lemak yang ideal.

Menyesuaikan Olahraga dengan Kondisi Fisik

Setelah mendapatkan hasil analisis tubuh, seseorang dapat merancang rencana latihan fisik yang sesuai. Misalnya, individu dengan massa otot yang rendah tidak disarankan untuk melakukan olahraga yang berisiko tinggi terhadap cedera sendi, seperti tenis padel. "Kalau dari hasilnya kelihatan massa ototnya kurang, berarti kita perlu olahraga yang bisa meningkatkan massa otot," ungkap dr. Kris, yang merekomendasikan olahraga seperti strength training atau angkat beban untuk meningkatkan massa otot.

Sementara itu, bagi mereka yang memiliki penumpukan lemak yang tinggi, fokus utama sebaiknya adalah mengurangi lemak terlebih dahulu sebelum meningkatkan massa otot. "Kita perlunya fokus untuk mengurangi massa lemak. Misalnya olahraga yang sifatnya kardio," jelasnya. Contoh olahraga kardio yang dianjurkan meliputi berenang, jalan cepat, atau bersepeda.

Selain menentukan jenis olahraga, hasil dari analisis InBody juga menjadi dasar dalam merancang program diet harian. Mengetahui komposisi tubuh secara rinci dapat menghindarkan seseorang dari kesalahan dalam membatasi asupan makanan yang berisiko merusak metabolisme. "Jadi, jangan sampai kita, 'Oh berat badannya ideal kok', sebenarnya padahal ototnya kurang, lemaknya yang banyak," tegas dr. Kris.

Kasus di mana seseorang terlihat kurus tetapi memiliki persentase lemak yang tinggi sering kali menyesatkan jika hanya mengandalkan timbangan biasa. Ketidakseimbangan ini menunjukkan bahwa pasien perlu melakukan penyesuaian pada nutrisi mereka. "Karena itu kan berarti kita kebanyakan lemak. Jadi semuanya itu harus seimbang. Berat badannya ideal, ototnya cukup, lemaknya tidak terlalu banyak," tambah dr. Kris.

Berdasarkan data tersebut, dokter atau ahli gizi dapat menghitung seberapa besar defisit kalori yang aman untuk mengurangi lemak. Selain itu, informasi ini juga berguna untuk menentukan seberapa banyak asupan protein tambahan yang diperlukan untuk membangun massa otot baru. Pendekatan nutrisi yang terukur ini terbukti lebih efektif dalam mencapai kebugaran jangka panjang.

Artikel Terkait