Teknologi

Optimisme LG CNS Terhadap Potensi AI di Indonesia

Indonesia dihadapkan pada berbagai tantangan dalam pengembangan kecerdasan buatan (AI), namun optimisme tetap ada untuk memanfaatkan potensi besar yang dimiliki negara ini.

L
Luthfi Zaki Maulana
22 October 2026 54 pembaca
Bos LG CNS Yakin Indonesia Bisa Jadi Pemain Besar di Dunia AI Foto: Adi FR/detikINET
Bos LG CNS Yakin Indonesia Bisa Jadi Pemain Besar di Dunia AI Foto: Adi FR/detikINET

Jakarta - Dalam pengembangan kecerdasan buatan (AI), Indonesia masih menghadapi beberapa tantangan, antara lain keterbatasan GPU, infrastruktur data center yang belum memadai, serta kurangnya tenaga ahli. Ketiga aspek ini dianggap perlu diperkuat agar teknologi AI dapat diimplementasikan secara lebih luas, termasuk dalam sektor pemerintahan.

Pernyataan tersebut disampaikan oleh Mark Mansik Won, Direktur Utama PT LG CNS Indonesia, dalam sebuah diskusi dengan detikINET. Ia menekankan bahwa meskipun Indonesia memiliki potensi yang besar untuk mengembangkan AI, kesiapan infrastruktur dan sumber daya manusia (SDM) masih menjadi tantangan yang harus diatasi.

Kebutuhan Infrastruktur dan Tenaga Ahli

Mark menggarisbawahi pentingnya ketersediaan Graphics Processing Unit (GPU), yang merupakan perangkat penting dalam melatih dan menjalankan model AI. Selain itu, Indonesia juga memerlukan infrastruktur data center yang memadai serta lebih banyak tenaga profesional yang memiliki keahlian dalam pengembangan AI.

Tantangan ini juga dirasakan di sektor pemerintahan. Menurut Mark, kesiapan infrastruktur dan kemampuan teknologi di berbagai kementerian dan lembaga pemerintah masih belum merata, sehingga penerapan AI memerlukan persiapan yang lebih matang. Meskipun demikian, ia tetap optimis bahwa Indonesia dapat mengejar ketertinggalan dengan memperkuat infrastruktur, meningkatkan kompetensi SDM, dan memanfaatkan kerja sama teknologi dengan negara lain.

Peluang Melalui Coretax

Salah satu peluang penerapan AI yang diungkapkan Mark adalah melalui Core Tax Administration System (Coretax), sistem administrasi perpajakan yang dimiliki oleh Direktorat Jenderal Pajak (DJP) di Kementerian Keuangan. LG CNS berperan sebagai integrator sistem utama dalam konsorsium pengembang Coretax bersama Qualysoft. Menurut Mark, data yang terintegrasi dalam sistem ini bisa menjadi dasar untuk mengembangkan layanan perpajakan yang berbasis AI.

Mark menjelaskan bahwa salah satu teknologi yang berpotensi digunakan adalah agentic AI, yaitu kecerdasan buatan yang dapat menjalankan berbagai tugas berdasarkan tujuan dan kewenangan yang diberikan, bukan sekadar menjawab pertanyaan. Dalam konteks perpajakan, teknologi ini berpotensi untuk mengotomatiskan proses administrasi dan meningkatkan efisiensi kerja. Namun, ia tidak menyatakan bahwa kemampuan agentic AI sudah diterapkan dalam Coretax saat ini.

Mark juga menambahkan bahwa DJP sedang mempersiapkan rencana pengembangan AI. LG CNS siap memberikan bantuan jika diperlukan, tetapi keputusan mengenai teknologi dan waktu penerapannya tetap ada di tangan otoritas perpajakan Indonesia.

Pentingnya Sovereign AI

Selain infrastruktur, Mark menekankan pentingnya pengembangan sovereign AI atau AI berdaulat. Konsep ini berfokus pada kemampuan suatu negara untuk mengendalikan data, model, dan infrastruktur AI yang digunakan, terutama untuk kebutuhan strategis pemerintah. Korea Selatan telah mengembangkan pendekatan ini melalui program nasional K-AI yang mendorong pengembangan model AI domestik.

Salah satu contohnya adalah K-EXAONE, model AI yang dikembangkan oleh konsorsium LG AI Research dengan LG CNS sebagai salah satu anggotanya. Dengan pendekatan sovereign AI, data sensitif pemerintah dapat dikelola dengan infrastruktur yang berada di bawah kendali nasional. Model AI juga dapat disesuaikan dengan bahasa, regulasi, dan kebutuhan layanan publik masing-masing negara. Bagi Indonesia, pendekatan ini berpotensi mendukung pengembangan AI yang memahami bahasa Indonesia dan konteks administrasi pemerintahan, meskipun penerapannya memerlukan investasi dalam komputasi, tata kelola data, dan tenaga ahli yang memadai.

LG CNS sendiri memiliki sejumlah kemitraan teknologi global, termasuk dengan NVIDIA di bidang data center dan robotika, Anthropic untuk pemanfaatan Claude, serta Microsoft dalam pengembangan AI dan cloud. Perusahaan ini juga menjalin kerja sama dengan Palantir dan memiliki kemitraan dengan Google Cloud, yang merupakan bagian dari upaya LG CNS untuk mengembangkan layanan transformasi digital menuju transformasi berbasis AI.

Mark melihat kemajuan yang signifikan dalam industri teknologi Indonesia selama dua dekade terakhir. LG CNS mulai beroperasi di Indonesia pada tahun 2006. Ia menyatakan bahwa kemampuan tenaga profesional dan perusahaan teknologi lokal kini telah berkembang jauh dibandingkan saat perusahaan pertama kali hadir di Tanah Air. Ia memberikan contoh sejumlah proyek teknologi pemerintahan yang kini dapat dioperasikan secara mandiri oleh tim Indonesia setelah melalui proses transfer pengetahuan.

Pengalaman ini membuat Mark optimis bahwa Indonesia mampu meningkatkan kapasitas pengembangan AI, asalkan investasi infrastruktur sejalan dengan peningkatan kemampuan SDM. Ia menilai kerja sama teknologi dan transfer pengetahuan dapat mempercepat proses tersebut, sehingga Indonesia tidak hanya menjadi pengguna AI, tetapi juga mampu mengembangkan dan mengelola teknologi sesuai dengan kebutuhannya sendiri.

Mark menegaskan, "Saya melihat kemampuan teknologi informasi Indonesia meningkat sangat signifikan dan dramatis selama 20 tahun terakhir. Saya percaya Indonesia tidak hanya mampu berkembang di bidang IT, tetapi juga AI, bahkan robotika di masa depan."

Artikel Terkait