Teknologi

Microsoft Siap Investasi Rp 30 Triliun, Menkomdigi Berharap Dampak Lebih Besar

Menteri Komunikasi dan Digital, Meutya Hafid, menyambut baik komitmen investasi Microsoft di Indonesia yang mencapai USD 1,7 miliar, setara Rp 30,4 triliun, dan meminta agar dampaknya lebih luas, teru...

T
Theresia Agatha Lestari
27 September 2026 47 pembaca
Facebook
Facebook

Jakarta - Meutya Hafid, Menteri Komunikasi dan Digital, memberikan apresiasi terhadap komitmen investasi Microsoft di Indonesia yang bernilai USD 1,7 miliar, yang saat ini setara dengan Rp 30,4 triliun. Ia mengharapkan agar perusahaan teknologi global ini dapat memberikan dampak yang lebih signifikan, khususnya dalam hal transfer teknologi.

Microsoft diketahui berinvestasi di Indonesia dalam sektor pengembangan infrastruktur komputasi awan, kecerdasan buatan (AI), serta ekosistem digital. Meutya menekankan bahwa investasi ini harus memberikan manfaat jangka panjang bagi pengembangan kapasitas teknologi di Indonesia, termasuk melalui transfer teknologi dan pengetahuan, pengembangan talenta, serta peningkatan kemampuan pelaku industri digital nasional.

Harapan untuk Pengembangan Digital

"Kami apresiasi komitmen investasi Microsoft sebesar USD 1,7 miliar di Indonesia, khususnya dalam infrastruktur cloud dan AI, serta kontribusinya dalam memperkuat ekosistem digital Indonesia," ungkap Meutya dalam pertemuan bilateral dengan Lisa Monaco, President Microsoft Global Affairs, di New York, Amerika Serikat, pada Rabu (23/09/2026).

Investasi sebesar USD 1,7 miliar tersebut sebelumnya telah diumumkan oleh Microsoft pada tahun 2024 untuk periode empat tahun. Dalam pertemuan ini, pemerintah menekankan pentingnya agar investasi tersebut tidak hanya fokus pada pembangunan infrastruktur, tetapi juga memperkuat kapasitas digital di Indonesia.

Kolaborasi dan Peningkatan SDM

Meutya berharap agar Indonesia tidak hanya menjadi pasar bagi produk dan layanan Microsoft, tetapi juga dapat berkembang menjadi salah satu pusat infrastruktur dan inovasi digital di kawasan. "Kami berharap Indonesia dapat semakin menjadi bukan hanya pasar penting bagi Microsoft, tetapi juga pusat strategis infrastruktur digital dan inovasi di kawasan," tambahnya.

Ia juga menekankan bahwa pengembangan infrastruktur teknologi harus sejalan dengan peningkatan kemampuan sumber daya manusia. Kerja sama dengan Microsoft diharapkan dapat membuka lebih banyak peluang bagi institusi, pelaku usaha, pengembang, dan perusahaan teknologi Indonesia untuk mengembangkan kemampuan serta memanfaatkan keahlian teknologi global.

Pemerintah mendorong agar program pengembangan keterampilan digital lebih terhubung dengan kebutuhan industri, sehingga pelatihan tidak hanya menghasilkan masyarakat dengan kemampuan digital dasar, tetapi juga pengembang, inovator, insinyur, dan pemimpin teknologi. "Tujuan kami bukan hanya meningkatkan jumlah masyarakat yang memiliki keterampilan digital, tetapi juga mengembangkan lebih banyak pengembang, inovator, insinyur, dan pemimpin digital Indonesia," jelas Meutya.

Dalam pertemuan tersebut, pemerintah juga membahas perkembangan tata kelola AI di Indonesia. Saat ini, pemerintah sedang menyiapkan kerangka tata kelola AI nasional melalui rancangan Peraturan Presiden mengenai Peta Jalan dan Etika AI. Meutya menegaskan bahwa regulasi ini bertujuan untuk menciptakan kepastian bagi pengembangan AI yang aman, inklusif, etis, dan bertanggung jawab.

"Kami ingin memastikan bahwa regulasi tidak menghambat inovasi, tetapi justru memberikan perlindungan dan kepastian yang tepat agar AI dapat berkembang secara bertanggung jawab," tambahnya.

Diskusi juga mencakup perlindungan anak di ruang digital serta implementasi Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Pelindungan Anak. Meutya mendorong Microsoft untuk memperkuat prinsip keamanan sejak tahap perancangan teknologi, terutama dalam pengembangan layanan digital yang digunakan oleh masyarakat.

"Ke depan, kami ingin memperdalam komitmen Microsoft terhadap Indonesia melalui investasi infrastruktur digital, transfer teknologi dan pengetahuan, pengembangan talenta digital, serta kolaborasi yang lebih kuat untuk menciptakan lingkungan digital yang lebih aman bagi anak-anak Indonesia," tutup Meutya.

Artikel Terkait