Kesehatan

Mengapa Kulit Masih Kering Meski Sudah Menggunakan Pelembap?

Banyak orang beranggapan bahwa penggunaan pelembap yang rutin dapat mengatasi masalah kulit kering. Namun, ada beberapa faktor yang dapat menyebabkan kulit tetap kering meskipun telah menggunakan prod...

T
Theresia Agatha Lestari
25 October 2026 13 pembaca
Ilustrasi kenapa saat puasa kulit kering?(Shutterstock/Siro46)
Ilustrasi kenapa saat puasa kulit kering?(Shutterstock/Siro46)

Kulit yang terasa kering dan kasar sering kali membuat orang berpikir untuk segera menggunakan pelembap dalam jumlah banyak. Namun, harapan bahwa masalah ini akan teratasi tidak selalu terwujud. Beberapa orang masih merasakan gatal, kusam, serta kulit yang ketarik dan bersisik meskipun telah rutin mengaplikasikan pelembap di seluruh tubuh dan wajah setiap hari.

Dokter Spesialis Kulit di MDCS: Medical Dermatology and Cosmetic Surgery, Marisa Garshick, M.D., F.A.A.D, menjelaskan bahwa seiring bertambahnya usia, produksi minyak alami pada kulit berkurang, sehingga kemampuan kulit untuk mempertahankan kelembapan juga menurun. Hal ini membuat kulit lebih rentan terhadap kekeringan.

Penyebab Kulit Tetap Kering Meski Menggunakan Pelembap

Salah satu penyebab utama kulit tetap kering adalah penggunaan pembersih wajah yang keras. Produk pembersih yang tidak tepat dapat merusak lapisan pelindung kulit. Beberapa sabun mengandung surfaktan yang kuat, yang dapat melunturkan minyak alami dan lipid esensial pada kulit. Lipid ini berfungsi untuk menjaga kelembapan agar tidak mudah menguap.

Dokter Spesialis Kulit di MDCS, Michael Tassavor, M.D., M.S., menambahkan bahwa kehilangan lipid membuat kulit lebih rentan terhadap iritasi dan menyebabkan rasa ketarik setelah mencuci muka. Ia menyarankan agar menghindari sabun yang keras, pembersih yang sangat wangi, dan formula yang membuat kulit terasa kesat, karena dapat menghilangkan minyak alami kulit dan mengganggu pelindung kulit.

Sebagai alternatif, disarankan untuk menggunakan pembersih tanpa pewangi yang mengandung ceramide atau asam hialuronat.

Faktor Lain yang Mempengaruhi Kelembapan Kulit

Frekuensi eksfoliasi juga berpengaruh pada kesehatan kulit. Mengangkat sel kulit mati penting untuk meremajakan wajah, tetapi jika dilakukan terlalu jarang, produk perawatan yang menghidrasi akan sulit meresap. Dokter Brendan Camp, M.D., menjelaskan bahwa kurangnya eksfoliasi dapat menyebabkan penumpukan sel kulit mati, yang membuat permukaan kulit terasa kasar dan kering.

Di sisi lain, eksfoliasi yang terlalu agresif dapat menghilangkan sebum pelindung kulit. Oleh karena itu, penting untuk menemukan keseimbangan yang tepat dengan memilih bahan yang lembut, seperti asam laktat.

Selain itu, faktor suhu dan kelembapan udara juga mempengaruhi kondisi kulit. Cuaca dingin dan kelembapan rendah dapat meningkatkan kehilangan kadar air pada kulit. Penggunaan alat pemanas di dalam ruangan dapat memperburuk situasi ini. Untuk mengatasi masalah ini, disarankan untuk menggunakan pelembap udara di dalam kamar tidur.

Kualitas air mandi juga dapat berkontribusi pada masalah kulit. Air sadah, yang mengandung konsentrasi kalsium dan magnesium tinggi, dapat berinteraksi dengan sabun dan meninggalkan residu. Meskipun tidak semua orang terpengaruh, hal ini bisa menjadi faktor yang diabaikan ketika mengalami ketidaknyamanan setelah mandi.

Terakhir, pemilihan pelembap yang tepat sangat penting. Tidak semua produk memiliki kemampuan hidrasi yang sama. Jika kulit masih terasa kencang setelah dioleskan, mungkin diperlukan formula krim yang lebih kaya. Dokter Garshick merekomendasikan untuk mencari humektan seperti gliserin dan asam hialuronat, serta emolien seperti squalane dan shea butter untuk melembutkan kulit. Waktu pengaplikasian juga penting; pelembap sebaiknya digunakan saat kulit masih setengah basah setelah mandi untuk membantu mengunci kelembapan.

Artikel Terkait