Stevia kembali menjadi perhatian setelah Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menguraikan alasan mengapa pemanis alami ini dianggap lebih unggul dibandingkan pemanis buatan untuk konsumsi sehari-hari. Dalam sebuah video yang diunggah di akun Instagram pribadinya pada 19 Juni 2026, Budi menjelaskan bahwa stevia dapat menjadi pilihan bagi mereka yang ingin menikmati rasa manis tanpa menambah kalori.
Menurut Budi, minuman yang menggunakan stevia termasuk dalam kategori Nutri-Level B, yang lebih baik dibandingkan dengan minuman yang menggunakan pemanis buatan yang umumnya berada pada level C atau D. "Stevia ini adalah pemanis alami yang berasal dari daun dan zat aktifnya namanya stevio," jelasnya dalam video tersebut.
Keunggulan Stevia
Budi menjelaskan bahwa stevia berasal dari tanaman Stevia rebaudiana dan mengandung senyawa aktif yang dikenal sebagai steviol glycosides. Senyawa ini memberikan rasa manis yang sangat kuat, di mana satu tetes stevia dapat memberikan rasa manis setara dengan 100 hingga 400 kali manisnya gula biasa. "Jadi, kalau kita pakai pemanis stevia, saya kasih nilai B," ujarnya. Ia menegaskan bahwa penggunaan stevia tidak memerlukan banyak karena tingkat kemanisannya yang tinggi, sehingga satu tetes sudah cukup untuk satu gelas minuman.
Stevia dan Kalori
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin juga menekankan bahwa stevia adalah pemanis alami yang nol kalori dan termasuk dalam Nutri-Level B, menjadikannya alternatif yang baik untuk gula dalam minuman sehari-hari. Ia menjelaskan bahwa salah satu alasan stevia mendapatkan Nutri-Level B adalah karena kandungan kalorinya yang nol. Selain itu, stevia juga memiliki indeks glikemik nol, sehingga tidak memengaruhi kadar gula darah seperti gula biasa. "Ini nol kalori. Sangat cocok buat kalian yang mau hidup sehat tapi hidupnya manis juga," ungkap Budi.
Dalam penjelasannya, Budi menambahkan bahwa minuman yang mengandung stevia tetap memperoleh nilai B karena berasal dari bahan alami dan tidak menambah kalori. Sementara itu, kategori Nutri-Level A hanya diberikan kepada minuman yang tidak menggunakan pemanis tambahan sama sekali.
Perbandingan dengan Pemanis Buatan
Budi juga membandingkan stevia dengan pemanis buatan yang umum digunakan dalam produk minuman rendah gula. Ia menyatakan bahwa minuman yang menggunakan pemanis buatan biasanya masuk dalam kategori C atau D dalam sistem penilaian Nutri-Level. "Kalau pakai pemanis buatan seperti ini, saya kasih nilai C atau D," ujarnya. Dengan demikian, stevia dapat menjadi pilihan bagi masyarakat yang ingin mengurangi konsumsi gula tetapi tetap menginginkan rasa manis dalam minuman mereka.
Walaupun demikian, Budi mengingatkan masyarakat untuk berhati-hati saat membeli produk stevia di pasaran. Ia menekankan bahwa tidak semua produk yang dijual sebagai stevia mengandung ekstrak stevia murni. Beberapa produk juga mengandung pemanis tambahan lain seperti sucralose dan erythritol, serta ada yang dicampur dengan maltodekstrin, yang merupakan karbohidrat yang sering digunakan sebagai bahan pengisi pada pemanis bubuk dalam kemasan sachet. Budi mengingatkan bahwa keberadaan maltodekstrin perlu diperhatikan karena masih mengandung kalori dan dapat memengaruhi kadar gula darah.
Oleh karena itu, masyarakat disarankan untuk membaca komposisi produk sebelum membeli, terutama bagi mereka yang menderita diabetes dan perlu lebih berhati-hati dalam memilih pemanis tambahan. Budi menegaskan bahwa stevia dapat menjadi alternatif pemanis bagi masyarakat yang ingin menjalani pola hidup lebih sehat, asalkan digunakan sesuai kebutuhan dan dipilih dari produk dengan komposisi yang tepat. "Jadi, stevia ini bisa jadi alternatif kalau mau hidup sehat tapi tetap manis," tulis Budi dalam unggahan tersebut.