JAKARTA - Persalinan melalui operasi caesar awalnya dirancang sebagai prosedur untuk menyelamatkan nyawa ibu dan bayi dalam situasi darurat medis. Namun, belakangan ini, tren di berbagai negara, termasuk Indonesia, menunjukkan pergeseran dalam penggunaan metode ini. Badan Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan bahwa tingkat persalinan caesar sebaiknya tidak melebihi 10 hingga 15 persen dari total kelahiran. Namun, di Indonesia, angka tersebut terus meningkat dan jauh melampaui batas yang dianjurkan.
Menurut data Riset Kesehatan Dasar, pada tahun 2013, tingkat persalinan caesar tercatat sekitar 9,7 persen, meningkat menjadi 17,6 persen pada tahun 2018, dan diperkirakan mencapai 25 persen pada tahun 2025.
Peningkatan Angka Persalinan Caesar
Hal ini disampaikan oleh dr. Febriansyah Darus, Sp.OG, Subsp.KFM., seorang spesialis obstetri dan ginekologi konsultan fetomaternal, dalam acara peluncuran Gut and Immunity Council (GIC) di Jakarta. Dengan angka tersebut, Indonesia menempati posisi satu dari empat ibu yang melahirkan melalui operasi caesar. Jika dilihat dari segi wilayah, beberapa provinsi seperti Bali dan DKI Jakarta bahkan mencatatkan prevalensi caesar di atas 50 persen menurut Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023.
Peningkatan yang pesat dalam jumlah persalinan caesar tidak sebanding dengan temuan kasus komplikasi kehamilan seperti panggul sempit atau janin sungsang. Terdapat banyak faktor non-medis yang mempengaruhi, termasuk perubahan gaya hidup, pengaruh media sosial, dan struktur sistem layanan kesehatan.
Pengaruh Media Sosial dan Gaya Hidup
Perkembangan teknik anestesi modern seperti Enhanced Recovery After Caesarean Section (ERACS) juga berkontribusi pada popularitas metode caesar dengan pemulihan yang lebih cepat. Selain itu, pemasaran yang agresif oleh berbagai fasilitas kesehatan di media sosial dengan narasi "tanpa nyeri" telah mengubah pola pikir ibu hamil, yang kini lebih cenderung meminta operasi caesar.
dr. Febriansyah menyatakan, "Itu kan marketing-nya gila-gilaan kalau kita baca di Instagram, TikTok. Banyak banget pasien kadang-kadang mau, 'Dok, saya mau SC TAP Block'." Selain iming-iming bebas dari rasa sakit, kemampuan untuk menjadwalkan waktu melahirkan juga menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat di kota besar.
Dalam konteks ini, tanggal-tanggal cantik sering kali digunakan sebagai strategi promosi oleh rumah sakit, yang terkadang memberikan diskon untuk menarik pasien. dr. Febriansyah menambahkan, "Sekarang kan tanggal cantik banyak banget, ya. Tanggal cantik promo, (misalnya) rumah sakit tanggal cantik ini diskon 30 persen. Jadi, itu kadang-kadang bikin orang pengen caesar."
Peran Asuransi Kesehatan
Di luar faktor gaya hidup, sistem layanan asuransi kesehatan juga berperan dalam meningkatnya angka operasi caesar. Kebijakan yang mengatur cakupan layanan sering kali membatasi peluang bagi ibu hamil untuk mencoba persalinan alami di fasilitas kesehatan yang lebih baik. dr. Febriansyah menjelaskan, "BPJS hanya meng-cover persalinan normal pada faskes (fasilitas kesehatan) satu."
Selain itu, masih banyak anggapan bahwa setelah melahirkan dengan caesar, metode tersebut menjadi satu-satunya pilihan untuk kelahiran berikutnya. Hal ini menyebabkan banyak ibu hamil yang pernah menjalani operasi caesar langsung diarahkan untuk kembali menjalani prosedur bedah pada kehamilan selanjutnya. Padahal, persalinan per vaginam setelah caesar atau Vaginal Birth After Cesarean (VBAC) masih memungkinkan untuk dilakukan.
dr. Febriansyah menjelaskan bahwa prosedur bedah caesar mendominasi biaya yang ditanggung oleh asuransi negara, "Sectio ini sendiri merupakan salah satu operasi nomor dua terbanyak BPJS. Jadi tahun ini, baru kemarin saya baca, sectio adalah tindakan operasi nomor dua terbanyak."
Pentingnya Edukasi Medis
Minat yang tinggi terhadap persalinan tanpa rasa sakit perlu diimbangi dengan edukasi medis yang tepat. Kelahiran alami memiliki banyak keunggulan yang tidak dapat digantikan oleh teknik bedah manapun. Selain itu, risiko kehilangan darah dan komplikasi plasenta pada bekas luka rahim tetap menjadi ancaman jangka panjang bagi pasien yang menjalani operasi caesar.
dr. Febriansyah menegaskan, "Kalau ditanya persalinan mana yang paling bagus? Ya pasti persalinan normal. Karena apa? Karena risiko paling sedikit, komplikasi paling sedikit, dan keuntungannya lebih banyak." Edukasi tentang metode persalinan harus disampaikan secara transparan oleh dokter sejak awal pemeriksaan kehamilan, dengan penekanan pada kelancaran proses melahirkan yang bergantung pada ukuran bayi dan jalur lahir ibu.
Dia menambahkan, "Kalau jalan lahirnya bagus, 'penumpangnya' oke, lurus, pasti bisa lahir normal."