Kesehatan

Pengaruh Metode Persalinan terhadap Sistem Kekebalan Anak

Metode persalinan, baik secara normal maupun caesar, ternyata mempengaruhi paparan awal lingkungan yang berperan dalam pembentukan kekebalan tubuh bayi. Hal ini berkaitan erat dengan kolonisasi mikrob...

B
Bayu Triatma
10 September 2026 2 pembaca
Pengaruh Metode Persalinan terhadap Sistem Kekebalan Anak
Sumber gambar: lifestyle.kompas.com

JAKARTA - Metode kelahiran, baik melalui persalinan normal maupun operasi caesar, ternyata memberikan pengalaman lingkungan yang berbeda bagi bayi. Perbedaan dalam jalur persalinan ini berdampak langsung pada kolonisasi mikrobiota usus, yang memiliki peran penting dalam pengembangan sistem kekebalan tubuh bayi.

Perbedaan Jalur Persalinan dan Dampaknya

Bayi yang dilahirkan melalui operasi caesar mengalami rute kedatangan yang berbeda, sehingga menghasilkan profil bakteri pencernaan yang tidak sama dengan bayi yang lahir secara normal. Menurut Dr. dr. Andy Darma, Sp.A, Subsp.GH(K), seorang spesialis anak konsultan gastrohepatologi, lingkungan di sekitar persalinan ini secara langsung memengaruhi keseimbangan ekosistem usus bayi sejak dini.

Ketika bayi lahir secara normal, mereka terpapar mikroorganisme dari ibu yang berkontribusi pada pembentukan mikrobiota usus di awal kehidupannya. "Pada persalinan normal, anak terpapar mikroorganisme yang berasal dari ibu, yang berkontribusi terhadap pembentukan mikrobiota usus di awal kehidupan," jelas dr. Andy dalam peluncuran Gut and Immunity Council (GIC) di Jakarta.

Kekurangan Paparan Mikroba pada Bayi Caesar

Saat bayi melewati jalan lahir secara alami, mereka menelan berbagai bakteri komensal yang tumbuh subur di area tersebut. Bakteri komensal adalah organisme bersel satu yang hidup di dalam maupun di permukaan tubuh inang, dalam hal ini ibu. Dr. Febriansyah Darus, Sp.OG, Subsp.KFM, seorang spesialis obstetri dan ginekologi konsultan fetomaternal, menambahkan bahwa "Di jalan lahir ibunya itu banyak kuman-kuman baik. Kuman-kuman baik ini akan masuk ke dalam mulut bayi dan berkembang di usus bayinya."

Bayi yang lahir melalui operasi caesar tidak mendapatkan keuntungan dari perpindahan mikrobiota ini, sehingga proses kolonisasi awal di saluran cerna mereka menjadi tertunda dan tidak optimal. "Anak yang lahir melalui persalinan caesar memiliki kolonisasi mikrobiota usus yang berbeda karena tidak melalui proses paparan yang sama selama persalinan," ungkap dr. Andy.

Usus bayi yang lahir melalui operasi caesar didominasi oleh koloni bakteri yang berasal dari lingkungan luar, seperti udara ruang operasi dan peralatan medis. "Pada tindakan caesar, kumannya ini berubah, karena bayi lebih banyak terpapar kuman-kuman patogen, kuman-kuman jahat kalau kita bilangnya, yang berasal dari kulit ibunya," kata dr. Febriansyah.

Hal ini menyebabkan keragaman flora normal saluran cerna menjadi terganggu, dengan dominasi bakteri yang sering diasosiasikan dengan infeksi atau lingkungan rumah sakit, seperti Staphylococcus, Streptococcus, dan Klebsiella. Sementara itu, bayi yang lahir secara normal lebih banyak terpapar kuman-kuman baik.

Risiko Kesehatan Jangka Panjang

Ketidakseimbangan antara bakteri komensal dan patogen dapat menyebabkan disbiosis usus, yang merusak fondasi perlindungan alami bayi. "Jadi, pada proses-proses persalinan normal, keragaman kumannya ini lebih baik dibandingkan pada persalinan yang dilakukan dengan tindakan caesar," jelas dr. Febriansyah.

Perubahan dalam profil mikrobiota usus ini dapat berdampak pada kesehatan anak di masa depan, termasuk meningkatkan risiko alergi makanan, gangguan asma, penyakit celiac, obesitas, hingga diabetes. "Perbedaan pola kolonisasi ini dapat memengaruhi keseimbangan mikrobiota usus pada awal kehidupan dan dikaitkan dengan meningkatnya risiko terjadinya disbiosis usus," ungkap dr. Andy.

Baik dr. Andy maupun dr. Febriansyah berharap bahwa pemahaman mengenai risiko jangka panjang ini dapat mendorong orangtua untuk lebih memperhatikan perawatan terbaik bagi anak-anak mereka sejak dini.

Artikel Terkait